Minggu, 26 Januari 2014

[Death Note] Chocolate



CHOCOLATE
Disclaimer: Death Note belongs to Tsugumi Ohba and Takeshi Obata
Story © KENzeira
Warning: Maybe rush, canon setting, typo, etc
Special for Mello’s birthday
..oOo..

—Wammy’s House, Winchester, Inggris
Yang Mello tahu, hari ini adalah hari sial.
Bagaimana tidak? Mello yang pura-pura mencari masalah dengan menendang bola ke arah jendela ruangan Roger agar si tua bangka itu ingat tanggal berapa ini—mengingat hari ini adalah ulang tahun Mello yang ke sebelas—justru mendapatkan jewer penuh cinta dari si pemilik ruangan.
Tinggi Mello yang saat itu masih 147 sentimeter terpaksa berjinjit ketika Roger menjewer telinga kirinya sampai memerah. Dia nyaris saja mengeluarkan air mata seandainya tak ada rival abadinya yang sedang termangu memandangnya.
It’s hurt, Roger! Kau mau menjewer telingaku sampai putus, hah?!” Mello tak hentinya meronta-ronta. Namun, tenaga Roger ternyata masih kuat meskipun usianya sudah melewati angka setengah abad. Manik biru akuamarinnya menangkap senyuman aneh yang tersungging di bibir Near—rival abadinya.
“Jangan mengejekku dengan senyuman penuh racunmu, BODOH!” Mello hilang kendali, ia menendang-nendangkan kedua kakinya ke arah Near. Tapi, sebelum tendangan itu sampai mengenai Near, Roger dengan cepat menarik kerah baju Mello. “A-aaargh! Jangan angkat aku, tua bangka sialaaan!”
Roger membawa tubuh Mello dengan perut bocah itu di antara bahunya. Kedua tangan Mello meninju-ninju punggung Roger agar ia segera diturunkan dari posisi tidak hormatnya. Kakek tua itu tak peduli. Roger membawa bocah kecil itu kembali ke ruangannya setelah tadi sempat berhasil melarikan diri saat disuruh membereskan pecahan-pecahan kaca jendela akibat ulahnya.
“Jadilah anak baik sebentar saja. Pungut pecahan-pecahan kaca itu dan buang ke tong sampah. Do you understand me, Mello?”
Bocah itu merengut. Baru saja hendak memukul kepala botak Roger, kakek tua itu sudah keburu menangkisnya. Sorot manik biru itu memandang Roger penuh kebencian. Dengan terpaksa, Mello menuruti perintah Roger. Ia tahu jika ia mencoba untuk kabur seperti beberapa saat lalu, ia hanya akan berakhir sama seperti saat ini.
Mello memunguti pecahan-pecahan kaca itu tanpa berniat menghentikan aksinya mencerocos. Roger yang melihat hal tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakek tua itu sudah cukup lelah dengan apa yang diperbuat Mello. Dia sungguh berbeda dengan anak panti asuhan lainnya, Mello lebih sering membuat kepala Roger pusing melihat kekacauan yang dilakukannya.
“Aku juga ingin diperlakukan istimewa seperti kau memperlakukan Near.” Tiba-tiba Mello berkata dengan nada lirih.
“Kalau begitu, jadilah anak baik.”
Kepala kuning itu menggeleng-geleng. “Aku lakukan pun, kau takkan menyadarinya. Yang ada di matamu hanya si anak nomor satu itu. Aku yang menduduki peringkat kedua sama sekali tak membuatmu memperlakukanku dengan baik.”
Roger bertanya-tanya, ada apa dengan anak didikannya yang satu ini? Roger kaget dengan nada suara Mello yang terkesan lirih, seperti bukan Mello beberapa menit yang lalu.
“Saat ulang tahun Near, kau memberikan kado kartu bridge dan beberapa puzzle tanpa gambar untuknya. S-sementara ketika aku ulang tahun, kau sama sekali tak mengingatnya.”
Oh? Roger mulai paham kemana arah pembicaraan Mello.
Mello tersentak kaget ketika merasakan tangan besar mengelus-ngelus puncak kepalanya. Bocah itu menoleh ke belakang dan mendapati wajah keriput Roger yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Kau salah. Aku mengingatnya, bahkan Near juga mengingatnya.”
“Eh?” Mello mengerjap-ngerjapkan matanya. Satu kali. Dua kali. Ia menatap tak percaya pada apa yang tengah ditunjukkan Roger untuknya. Sebatang coklat Godiva dan jaket merah dengan hoodie berbulu. Mello tidak tahu kapan kakek tua itu mengambilnya.
“Near mengingatkanku dua hari yang lalu tentang ulang tahunmu. Tadinya aku akan menyimpannya di samping tempat tidurmu saat kau sudah terlelap, tapi ternyata kau memang bukan tipe orang yang sabaran, eh?”
Mello yakin hidungnya memerah. Dia ingin menangis. Dengan brutal, dipeluknya Roger erat-erat sampai kakek tua itu terbatuk-batuk dibuatnya.
oOo
Bungkus coklat berwarna silver itu sudah dibuka. Mello dengan santai menikmati setiap sensasi ketika coklat itu melumer di mulutnya. Dia yakin, dia tak pernah menemukan coklat selezat ini sebelumnya.
Kepala Mello mengintip di balik pintu ruangan di mana Near biasa berdiam diri. Laki-laki berpakaian serba putih itu sedang menyusun menara dari kartu bridge-nya. Entah mau dibuat tingkat berapa menara yang sudah tersusun tinggi itu. Dengan mantap, Mello memasuki ruangan tersebut.
“Apa tak bosan setiap hari kau hanya menyusun kartu dan puzzle?”
Near melihat Mello lewat ekor matanya. Tangan putih pucat itu lebih memilih untuk meneruskan menyusun menara tingkatnya daripada menjawab pertanyaan basa-basi dari Mello. Bocah bersurai pirang itu berkacak pinggang.
“Kalau orang lain bertanya itu dijawab! Dasar, tidak sopan,” gerutu Mello.
“Saya tidak bosan.”
Mello memutar bola matanya bosan ketika mendengar jawaban dari Near yang selalu formal. Rupanya sifat iblis bocah itu belum hilang, dengan sengaja kaki kanannya menendang menara kartu paling bawah sehingga menara itu runtuh secara keseluruhan. Near tak bereaksi apapun. Laki-laki itu justru merapikan kartu-kartu yang berserakan itu dan kembali menyusun menara kartunya dari awal. Mello menggerung kesal.
“Bisakah kau tidak mengurung diri di tempat seperti ini dan terus-menerus menyusun menara kartu seorang diri seperti orang idiot?! Banyak anak panti asuhan yang ingin berteman denganmu!”
“Tidak. Lagipula, saya tidak tertarik dengan pertemanan.”
Bocah itu mengacak-ngacak rambut pirangnya frustasi. “Tapi saat ini ada aku yang mengajakmu bermain, sebagai … t-t-temanmu!” entah kenapa Mello merasa sulit ketika mengatakan hal itu. Selama ini, Mello selalu menganggap Near musuh yang selalu menghalangi jalannya untuk menjadi nomor satu.
“Tapi saya tidak beranggapan seperti itu.”
“A-APA?! H-hei, lalu apa maksudmu memberitahu Roger soal ulang tahunku?! Pasti karena kau menganggapku teman, ‘kan?!”
Near terdiam beberapa saat. Ia lalu angkat bahu. Mello semakin murka.
“Ha! Dasar makhluk halus! Pantas saja kulitmu sangat pucat, kau tak pernah keluar ruangan apalagi berjalan-jalan di sekitar panti asuhan!” bocah itu semakin berang. Entah kenapa ia selalu merasakan kepuasan apabila berhasil mengeluarkan unek-uneknya terhadap Near. Mello tak peduli jika kata-kata yang keluar dari mulutnya terlampau pedas, yang penting ia puas.
Oh, Mello melupakan fakta tentang siapa yang mengingatkan Roger tentang ulang tahunnya.
Bocah itu menggigit keras cokelat batangan yang sendari tadi dipegangnya. Setelah itu, ia lalu beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Near menolehkan wajahnya ke arah pintu. Laki-laki itu melihat Mello sedang berangkulan dengan sahabat karibnya, Matt.
“Semoga kau menyukai coklat itu, Mello,” gumamnya kemudian. Near lalu kembali menyusun menara kartu bridge-nya.

Owari

[Kyu Hyun] Raindrops Once More



            RAINDROPS ONCE MORE
            [빗방울이 ]
·         Casts :
-          Cho Kyu Hyun
-          Park Sung Hye
-          Etc
·         Author : @KENzeira (http://www.facebook.com/mihaeru.keehl)
·         Genre : Hurt/Comfort and Romance
·         Rate : PG-13
·         Disclaimer : The plot is MINE. Please don’t copy and paste without my permission. Special for everyone who’s always give me support. Hope you like it ;)
            ***
            All Kyu Hyun’s Point of View
            Enjoy, minna-san!
            ***
      Mengetuk-ngetukkan jari.
            Sekali lagi, aku menghela napas bosan. Kulihat arloji di tangan kiriku yang sudah menunjukkan pukul lima sore, terlambat 30 menit dari waktu perjanjian. Aku mulai gelisah. Takut sesuatu yang buruk terjadi dengan sosok yang membuat janji itu, terlebih cuaca begitu terlihat murung. Rintik-rintik kecil nampak berjatuhan.
            Aku duduk dengan tidak nyaman. Berulang-kali aku mengubah posisi. Sesekali dapat kulihat lirikan heran dari pelayan restoran, mungkin karena aku hanya memesan satu minuman dan belum juga beranjak pergi ketika minuman itu kini hanya tersisa sedotan.
            Baru saja berpikir untuk pergi, sosok itu akhirnya datang.
            Rambut panjangnya sedikit basah karena terkena hujan. Dia masuk ke dalam restoran dengan tergesa-gesa. Dan ketika dia melihatku, kuputuskan untuk melukis senyum sembari melambaikan tangan. Dia merapikan sejenak helaian rambutnya yang berantakan, lalu dia melangkah ke arahku secara perlahan.
            Aku masih tersenyum, tapi dia tidak.
            Disimpannya tas slempangan yang ia bawa di atas meja, kemudian dia duduk saling berhadapan denganku. Aku memperhatikannya. Dia masih sama cantiknya dengan dia dua tahun lalu. Bedanya mungkin kali ini dia lebih memperhatikan cara berpakaiannya, terlihat lebih mewah.
            “Apa yang ingin kau pesan?” tanyaku.
            “Tidak perlu, kurasa aku takkan berlama-lama.”
            Aku mengangguk pelan. “Baiklah.”
            “Apakah ada sesuatu yang penting yang hendak kaukerjakan ketika aku membuat janji kemarin malam?”
            Aku menggeleng. Sebenarnya ada. Aku sedang diburu waktu untuk sesegera mungkin menyelesaikan manga-ku sebelum deadline tiga hari lagi. Tapi, mengingat seseorang yang mengajak janji itu adalah sesosok gadis di masa lalu yang membuatku begitu merindu, akhirnya kuputuskan untuk menyetujuinya bertemu.
            “Kau tampak lebih kurus sekarang,” ujarnya. Pancaran mata kecokelatan itu terlihat sedih. Entah dibuat-buat atau tidak, aku tidak tahu.
            “Ah, ya, mungkin karena pekerjaanku sebagai mangaka membuat waktu istirahatku sedikit. Aku jadi lebih banyak bergadang.”
            “Seharusnya kau lebih mementingkan kesehatanmu daripada pekerjaanmu. Bagaimana kalau penyakit maag-mu kambuh?”
            Ah, dia memang selalu seperti ini. Memperhatikanku melebihi diriku sendiri. Aku merasa masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. “Aku sudah biasa mengatasinya sendiri sekarang. Kau tak perlu cemas.” Aku menjawab.
            Dia tampak bernapas lega. “Baguslah. Bagaimana hubunganmu dengan Lee Hyo Jin?”
            Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Aku tak menyangka dia akan bertanya soal itu. “Itu … sudah lama sekali aku berpisah dengannya.”
            “Eh? Kenapa?”
            Karena aku tidak bisa melenyapkan perasaanku padamu. Ingin sekali rasanya aku mengatakan itu, tapi tentu saja aku tidak mengatakannya. Ini adalah kali pertama kami berjumpa lagi setelah dua tahun saling ‘menghilangkan’ diri, jadi, tak mungkin aku merusak semuanya dengan kata-kata yang terdengar konyol itu.
            “Dia … dia tak sebaik yang kukira.”
            Lee Hyo Jin tidak baik? Rasanya aku ingin menampar keras pipiku sendiri. Bagaimana bisa aku mengatakan hal keji seperti itu? Ah … bahkan Hyo Jin terlalu baik untukku. Aku memang bajingan. Menyedihkan.
            “Kupikir dia gadis yang manis.”
            Aku hanya tersenyum mendengarnya.
            “Lalu, bagaimana setelah itu?” ia kembali bertanya.
            “Aku tidak menjalin hubungan lagi sampai sekarang. Aku tidak memiliki minat. Entahlah....”
            Gadis di hadapanku ber’oh’ria. Lalu terdengar bunyi ponsel. Dia segera meraih ponsel dalam tasnya, lalu mengetikkan sesuatu di sana. Aku memandangnya takjub. Dia tak berubah, bahkan setelah aku menyakiti hatinya. Mungkin jika aku ada di posisinya, aku akan menertawai orang yang sudah menyakitiku yang ternyata masih memiliki perasaan padaku itu. Oh, aku merasa seperti sedang menertawai diriku sendiri barusan. Konyol.
            “Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?”
            “Eh?”
            Dia tampak kaget dengan pertanyaanku. Aku tahu tak seharusnya aku mengambil topik ini, mungkin hal itu membuatnya kembali teringat dengan kebrengsekkanku di masa lalu.
            Lama sekali. Lama sekali gadis itu membisu. Kenapa?
            “Aku … aku tak ingin membahasnya.” Jawaban telak. Aku merasa ngilu merayap masuk ke dalam hatiku. Berlebihan memang, tapi itulah yang kurasakan ketika bibir itu menjawab demikian. Aku tahu … aku tahu dia sudah melenyapkan perasaannya padaku.
            Aku menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan ekspresi terluka di wajahku.
            “Hey, Kyu Hyun ah, ada hal yang ingin kusampaikan padamu, karena itulah aku membuat janji untuk bertemu.”
            “Apa itu?”
            Dia tersenyum. Cantik sekali ciptaan-Mu itu, Tuhan. Ingin sekali lagi aku mengecapnya, merasakan betapa candunya bibir merah muda itu. Sepasang matanya … aku ingin sepasang mata itu yang pertama kulihat ketika pagi hari, seperti dulu. Oh, betapa payahnya aku. Hanya seorang perempuan saja aku tak bisa melupakannya. Payah! Payah!
            Dia mencari-cari sesuatu dalam tasnya. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan, aku tidak tahu, sungguh. Tapi tangan kananku refleks menyentuh pergelangan tangannya. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Yang kutahu, aku terlihat idiot saat ini.
            Lihatlah, sepasang manik cokelat itu memandangku heran. Aku tidak berusaha untuk menyingkirkan genggaman tanganku di pergelangan tangannya. Tampaknya ia juga tak berpikir untuk menyingkirkan tanganku.
            Lama sekali kami saling bertatapan. Déjà vu. Aku merasa pernah melakukan ini sebelumnya. Jantungku berdebar keras. Dua tahun tak berjumpa nyatanya tak mampu menghapus jejak-jejak kecintaanku padanya.
            Aku bertanya-tanya. Kenapa waktu itu aku melukainya? Membuat air mata terurai membasahi pipinya? Kenapa aku harus menuruti nafsu untuk terus dan terus merasakan betapa nikmatnya bercumbu dengan gadis lain? Sudah tak terhitung aku mengkhianati kepercayaannya. Berulang-kali dia mencoba untuk percaya lagi padaku, berulang-kali pula aku meruntuhkan kepercayaannya.
            Brengsek sekali, kan?
            Sampai suatu ketika, seorang gadis manis datang ke kehidupanku. Ya, dia Lee Hyo Jin. Gadis berdarah biru yang mengancam akan bunuh diri jika aku tak mau menjadi kekasihnya. Saat itu aku tak berpikir betapa picik gadis itu, aku justru berpikir betapa menyenangkannya jika aku menjadi kekasihnya. Dia putri tunggal dari sepasang suami istri yang kaya raya. Aku bisa memanfaatkannya, kan?
            Dan tentu saja, bayangan-bayangan menyenangkan itu tak sebanding dengan penderitaan yang dirasakan olehnya. Dia begitu terluka karena lagi-lagi aku mempermainkan perasaannya. Dia meninggalkanku malam itu, di tengah hujan deras yang mengguyur kota. Aku bahkan tak berpikir kalau dia akan kedinginan di luar sana, jutru aku tenggelam dalam kesenanganku sendiri.
            Kita akan tahu betapa berartinya seseorang jika kita sudah kehilangan orang itu. Klise. Tapi aku sendiri mengalaminya. Sesaat ketika dia pergi, baru kusadari betapa berarti dia untukku. Lee Hyo Jin memang gadis manis yang penurut, tapi hal itu tak sebanding dengannya yang selalu ada untukku bahkan ketika aku berada di titik terlemahku.
            Kenapa aku bodoh sekali? Dia begitu baik padaku, kerap kali menyuguhiku dengan kasih sayang tulus. Dia memang sebatang kara, tapi dia gadis tangguh yang mampu bertahan di dunia yang penuh kenistaan ini. Secara materi mungkin dia kalah jauh dari Hyo Jin, tapi, kemurniannya tiada banding.
            Namun aku malah membuatnya terluka seperti itu.
            Brengsek sekali, kan? Sangat. Sangat brengsek.
            “Cho Kyu Hyun ….”
            Aku terperangah. Dia menggumamkan namaku dengan indah, membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. Aku tidak tahu sejak kapan, aku tidak tahu. Yang kutahu, sepasang mata obsidianku menangkap jejak air mata di kedua pipinya. Kenapa? Kenapa dia menangis?
            “Hentikan,” lirihnya. Dia menyingkirkan tanganku yang menggenggam pergelangannya. Sakit sekali rasanya ketika tanganku ditepis, sakit sekali rasanya di bagian dadaku.
            “A-aku ….” Aku tergeragap. Aku tidak tahu harus bagaimana ketika mendapati seseorang menangis. Dulu, ketika dia menangis, aku akan mengabaikannya. Tapi sekarang berbeda. Aku harus melakukan sesuatu. Apapun!
            “Jangan katakan kalau kau masih—“
            “Ya. Aku masih mencintaimu.” Aku memotongnya cepat. Matanya membola sempurna. Lagi-lagi air mata meleleh di pipinya. Lagi-lagi aku membuatnya menangis.
            “Jangan, kumohon.” Dia memalingkan wajahnya.
            “Kenapa?”
            Dia terdiam. Tak lama setelah itu, tangannya kembali meraih sesuatu dalam tasnya. Sesuatu yang paling tak ingin kulihat.
            “Aku akan menikah. Itulah yang ingin kusampaikan.”
            Sakit sekali. Jadi, seperti ini, ya, rasanya mendengar seseorang yang kita cintai akan hidup bersama orang lain? Pantas saja malam itu dia meninggalkanku, tak peduli dengan hujan yang berlomba-lomba terjatuh ke permukaan tanah.
            Dia berdiri. Aku ingin menahannya. Tapi aku merasa tubuhku tak bisa digerakkan. Dia membungkukkan badannya dan sebuah kata menyakitkan keluar dari bibir mungilnya.
            “Selamat tinggal.”
            Selamat tinggal? Kenapa selamat tinggal? Memangnya kita takkan bertemu lagi? Setidaknya ucapkan sampai jumpa, kan? Kenapa selamat tinggal? Kenapa? U-uh … kenapa aku menangis?
            Dia berlalu. Dia pergi. Dia meninggalkanku.
            Aku tersadar … jika aku bersikeras ingin bersamanya, tak ubahnya aku berjalan di atas salju yang putih. Aku hanya akan mengotori kemurniannya. Oh, menyedihkan sekali aku. Ke mana lagi aku harus pulang jika bukan ke hatinya?
            Aku akan membusuk seperti sampah. Memang itulah yang pantas kudapat dari segala kebrengsekkanku. Tuhan memang tak pernah tidur ternyata.
            Aku tak peduli banyaknya pasang mata yang melihatku heran karena aku menangis. Payah. Payah. Payah. Aku menangis hanya karena dia. Aku seperti ini hanya karena dia. Aku dilukai oleh sosok yang dulu aku lukai.
            Semoga laki-laki yang menikahimu takkan membuatmu menangis seperti ketika aku membuatmu menangis. Semoga ia senantiasa menjaga kepercayaanmu.
            Maaf atas segala kebusukanku, Park Sung Hye.
            ** END **

            FF ini adalah bentuk permintaan maafku karena belum menyelesaikan The Avenger People. Semoga FF mutli-chapter itu bisa saya rampungkan secepatnya :) Mind to comment and like, chingu? Thanks before <3
            Saturday, November 16, 2013
            5:42 PM

[Eun Hyuk] Undesirable Feelings



            UNDESIRABLE FEELINGS
            A Story by KENzeira
Casts :
-          Choi Jang Sin
-          Lee Hyuk Jae
-          Cho Kyu Hyun
-          Mihaeru Keehl
-          Etc
Genre : Romance, Drama and Hurt/Comfort
Blog : https://kenzeira.blogspot.com
Rate : PG-15
Disclaimer : The plot is MINE. Based on true story—dengan sedikit perubahan, the characters belongs to themselves, except Mihaeru, she’s mine.
Warning : Probably rush, typos—tidak mengecek ulang, non-beta, and OOC. AU.
            (AN : Setting waktu tidak beraturan, diambil dari sudut pandang yang memusingkan, super melodrama, silakan kabur selagi keburu.)
            ENJOY it, Minna-san~
            ***

            The necklace’s point of view all the way

            Aku tidak mengerti dirimu, Choi Jang Sin.

            Di lain kesempatan, kau akan tersenyum seraya menjentikkan jari ketika membaca sederet tulisan sederhana dari Cho Kyu Hyun, dan di kesempatan lainnya, kau akan menangis seraya memeluk boneka beruang kesayanganmu. Padahal tulisan yang kaubaca masih serupa. Apa yang salah dengan tulisan itu? Apa yang salah dengan dirimu?

            Beruntunglah, hari ini kau lebih senang menyibukkan diri di depan cermin. Aku hanya bisa memandangmu yang begitu teliti mengenakan eyeliner. Entah kenapa, kau merasa pantas apabila menggunakan kosmetik yang satu itu, mata setajam elangmu semakin terlihat tajam. Sederhananya; dengan menggunakan eyeliner, kau percaya dapat menghilangkan bekas-bekas air mata. Bukankah aku benar, Jang Sin?

            Tentu saja, kau pernah mengatakannya. Bahkan meski temanmu—Shin Rhae Hoon—berkata kau terlihat menyeramkan dengan eyeliner, kau tetap menggunakannya.

            “Hanya ini satu-satunya cara agar tak ada yang menyadari kalau aku sehabis menangis.” Seraya tersenyum, kau katakan alasan di balik kebiasaanmu mengenakan eyeliner beberapa bulan silam. Rhae Hoon yang mendengar alasan tak logis itu hanya terdiam, merasa aneh.

            Ya, kau memang aneh, Jang Sin. Aku nyaris setiap waktu bersamamu selama dua tahun terakhir ini dan aku benar-benar yakin kau tipe gadis aneh. Kau kerap kali memamerkan senyuman angkuhmu, sekalipun hatimu tidak seangkuh senyuman itu. Aku tahu benar bagaimana watakmu. Kau bukan orang yang mau menerima kekalahan, maka dari itu, kau selalu berusaha menjadi yang teratas. Kau selalu berusaha menjadi yang terbaik.

            Dan apabila kau tak bisa mencapai apa yang kauinginkan, yang akan kaulakukan adalah; mengeluarkan emosi. Entah itu marah atau menangis, kau pasti melakukan salah satunya jika kau merasa kalah. Seperti empat bulan yang lalu, kau beradu argumentasi sengit dengan (mantan) kekasihmu; Lee Hyuk Jae. Kau meyakini bahwa; jika melakukan kebohongan, maka akan terlahir kebohongan lainnya. Sementara Eun Hyuk—nama akrab Lee Hyuk Jae—sama sekali tidak setuju dengan pendapatmu.

            Argumentasi itu tak berakhir dalam satu atau dua jam. Kau bahkan menghabiskan waktu nyaris semalaman untuk meyakinkan kekasihmu yang sok jenius itu. Kau gagal. Eun Hyuk keras kepala dan tidak mau menyetujui pendapatmu. Alhasil, kau marah besar dan tidak sudi mengirim pesan pada Eun Hyuk keesokan harinya, lusa, bahkan sampai satu minggu.

            Itulah Choi Jang Sin yang kukenal. Gadis paling narsis yang mengakui dirinya sendiri egois. Tak peduli sekalipun kau masih menyayangi Eun Hyuk, keegoisanmu adalah nomor satu. Mungkin itulah penyebab laki-laki manis pecinta pisang itu meninggalkanmu bersama gadis lain. Apa kau sudi menangisi keegoisanmu yang setinggi langit itu?

            “Cih, silakan ambil saja Eun Hyuk. Aku tidak membutuhkannya. Bukankah aku ini orang baik, yang memberikan sesuatu kepada yang lebih membutuhkan?” ujarmu sarkastik pada seorang gadis cantik bernama Park Hwang Mi yang kemudian diketahui sebagai kekasih gelap Eun Hyuk.

            Dalam ucapan, kau memang setajam samurai. Tapi aku tahu benar apa yang kaurasakan saat itu. Kecewa, tentu saja. Diam-diam kau menyayangkan perselingkuhan Eun Hyuk dengan Hwang Mi, namun jika kau lebih memilih untuk mempertahankan laki-laki itu, pemikiran idiotmu berkata; kau merasa kalah. Dan itu adalah sesuatu yang paling anti bagimu.

            Kau berkata seolah-olah kau tidak membutuhkan Eun Hyuk di sampingmu, lalu membuangnya pada gadis bernama Hwang Mi itu, dan itulah yang membuatmu merasa menang. Jangan tanya kenapa karena aku tidak mengerti jalan pikiranmu yang seringkali tak terduga itu.

            “Meski aku melakukan ini, sebenarnya aku sangat menyayangimu. Aku hanya butuh pelampiasan atas segala kekesalanku terhadap keegoisanmu. Aku sudah bosan menghadapinya, Jang Sin,” lirih Eun Hyuk. Entah kenapa wajah laki-laki itu terlihat begitu banyak gurat penyesalan.

            Selain kau, aku juga tahu bagaimana seorang Eun Hyuk. Bagiku, dia adalah laki-laki paling sabar yang mampu bertahan menelan mentah-mentah sifat egoismu selama hampir satu tahun. Dia tak pernah marah sekalipun kau kerap kali memancing amarahnya. Dia selalu menuruti aturan yang kaubuat dalam mempertahankan hubungan. Sementara ketika Eun Hyuk mencoba mengaturmu, jangan harap kau akan mengikutinya.

            Kau percaya bahwa kau adalah personifikasi sempurna angin. Menjelajah kemana pun yang kau ingin, melakukan apapun yang kauhendaki. Kebebasan adalah kau sendiri. Tak ada aturan dalam hidupmu yang gila itu. Maka dari itu, kau akan selalu menolak jika diatur apalagi diperintah, karena bagiku kau adalah … angin tersesat yang tak mau percaya arah.

            Tapi, aku yakin, sebelum kejadian di bulan September satu tahun lalu, kau bukanlah Choi Jang Sin yang seperti saat ini. Sebelum itu, kau adalah tipe gadis penurut. Kau juga lugu, otakmu dengan cepat mampu terpengaruhi oleh apa yang dibicarakan orang-orang di sekitar. Ketika seseorang berkata; manusia berawal dari monyet, meski terdengar sinting, kau akan memercayai kata-kata itu.

            Hmm … aku sangat menyayangimu, Jang Sin. Aku berharap laki-laki itu dapat hadir kembali, membantu mewarnai hari-hari kelabumu. Ya, satu-satunya laki-laki setelah ayahmu yang paling kauturuti perintah serta aturannya; Cho Kyu Hyun. Dia merubah dirimu begitu banyak. Sang personifikasi Bintang Luka sebagai pelengkap.

            Seharusnya laki-laki itu masih di sini, masih membantumu merangkai kata-kata puitis penyejuk hati, menyemangati kegiatanmu menuangkan ide ke dalam tulisan. Aku berpikir, seharusnya Kyu Hyun benar-benar masih bersamamu. Tidak, dia memang harus bersamamu. Hanya dia laki-laki yang bisa mengontrol keegoisanmu, hanya dia yang mampu membuatmu tunduk.

            Tapi … dia memang selalu bersamamu, kan?

            Seusai menyibukkan diri di depan cermin; mengenakan eyeliner, sedikit lipgloss berwarna peach, dan memakai lensa kontak biru tua, kau bergegas pergi. Kemanapun kau melangkah, aku tak pernah lepas mengawasimu. Entah kenapa aku berpikir memang inilah tugasku, memperhatikan, mengawasi, dan menilai baik buruk perilakumu. Meski aku yakin itu sama sekali tidak ada gunanya karena aku tak bisa memberimu komentar maupun saran.

            Kau berhenti sejenak di samping jalan, kau meraih ponsel dalam saku celana pendekmu. Mengirim sebuah pesan pada seseorang. Hei, Jang Sin, kau hendak membuat janji pertemuan, ya? Aku penasaran kira-kira siapa yang akan kautemui. Aku yakin, kali ini laki-laki, mana mungkin kau berdandan begitu lama hanya untuk bertemu sahabatmu Mihaeru yang galak itu, kan? Nah, sudah pasti kau akan bertemu dengan laki-laki.

            Dan untunglah, posisiku selalu membuatku mampu mengintip pesan yang sedang kauketik. Benar saja, kau mengirim pesan pada laki-laki. Mantan kekasihmu yang sabar itu; Lee Hyuk Jae. Ada apa, ya?

            Singkat cerita, kau menunggu Eun Hyuk di sebuah kafe di sekitar jalan Gangnam. Sesekali kau mengetuk-ngetukkan jarimu di atas meja. Pasti tidak sabar menunggu.

            “Lima menit lagi dia belum datang, aku akan pergi,” ujarmu. Beruntung, dua menit setelah itu Eun Hyuk datang. Laki-laki tersebut mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru, seraya melempar senyum dia melambaikan tangannya. Sayang sekali laki-laki setampan itu dilewatkan.

            “Apa kau menunggu lama?” tanyanya sambil duduk berhadapan denganmu.

            “Ya, benar-benar lama.” Kau menjawab dengan tampang sinis. Hanya sepuluh menit, kurasa itu tidak begitu lama, kau tahu?

            “Ah, mian.”

            Lalu perbincangan ringan pun terjadi. Aku tidak tahu kenapa Eun Hyuk selalu terlihat bersemangat ketika sedang bercerita, bahkan di depan seorang gadis bertampang sinis sepertimu. Dia bercerita tentang banyak hal, tentang saudara perempuannya yang belajar memainkan gitar di usia lima tahun,  dilanjut dengan persoalan pekerjaan yang menyita banyak waktu. Kau hanya mengangguk, seolah tidak tertarik.

            Lalu, untuk apa kau mengajak Eun Hyuk bertemu jika kau mengabaikan cerita yang dikisahkannya seperti ini, Choi Jang Sin? Aku sungguh tidak mengerti.

            “Kau masih bersama Hwang Mi?” tanyamu keluar dari jalur pembicaraan. Tampaknya akan ada obrolan yang sedikit berat, menyangkut masalalu.

            Eun Hyuk terdiam beberapa saat, ia berdeham sebelum menjawab. “Tidak. Sudah lama sekali aku berpisah dengannya. Asal kau tahu saja, aku menjalin hubungan bersama Hwang Mi hanya dalam kurun waktu satu minggu, tidak lebih.”

            “Oh.”

            “Sebenarnya sulit sekali melenyapkan perasaanku padamu, Jang Sin-ya. Aku selalu mencoba tidak peduli, tapi aku selalu gagal melakukannya. Bagiku, Hwang Mi hanya pelepas penat yang melanda hubungan kita kala itu. Kupikir semuanya akan berjalan lancar.”

            Kau tersenyum miring. “Kau ingin semuanya berjalan lancar? Cih, untung saja aku memiliki teman yang cerdas. Dia bisa langsung tahu kalau kau sedang bermain di belakangku. Aku bersyukur bisa mengenal Mihaeru yang mampu membuka mataku tentang kebrengsekkanmu.”

            Tidakkah itu terlalu kasar? Kupikir pertemuan kali ini adalah untuk memperbaiki hubunganmu dengan Eun Hyuk, rupanya kau masih nafsu untuk memancing emosi. Lihatlah, betapa sabar laki-laki itu. Ia hanya menggaruk leher belakangnya seraya tersenyum kikuk.

            “Aku memang brengsek, maka dari itu, maafkan aku.”

            “Kau sudah mengatakannya berkali-kali sampai aku bosan mendengarnya.”

            “Kalau begitu, maaf untuk itu,” ujar Eun Hyuk. Kau memutar bola mata bosan.

            Lalu keheningan tercipta. Kau lebih terfokus menikmati secangkir moka, menyesapnya perlahan, sedangkan Eun Hyuk, dia sama sekali tak memalingkan wajahnya ke arahmu—yang entah kenapa membuatku sedikit malu, karena laki-laki itu terlihat seperti sedang memperhatikanku meski kenyataannya tidak begitu.

            “Um, Jang Sin-ya, ada hal yang ingin kutanyakan padamu.”

            Kau melihat ke arahnya. “Tanyakan saja.”

            “Kau sudah tidak peduli lagi padaku, untuk apa kau mengajakku bertemu? Lagipula, bukankah laki-laki itu sudah kembali padamu?”

            Laki-laki itu. Aku tidak tahu kenapa Eun Hyuk tidak pernah mau mengotori mulutnya dengan menyebut nama laki-laki itu. Meski dia tipe orang yang penuh semangat dan terkesan santai, namun aku tahu benar kalau dalam hatinya dia begitu membenci laki-laki itu.

            “Cho Kyu Hyun?”

            Wajah Eun Hyuk menegang ketika mendengar nama laki-laki itu. Ia tak pernah mau mendengarnya secara langsung dari mulutmu, Jang Sin. Lihatlah, wajahnya begitu pucat. Sepertinya mulut Eun Hyuk tak mampu berkata-kata selama beberapa saat, karena ia memilih untuk mengangguk singkat.

            “Ah, ya, dia memang sudah menjadi kekasihku lagi. Aku bahagia sekali. Omong-omong, dari mana kau tahu tentang hubunganku dengan Kyu Hyun?”

            “Dari status hubunganmu di situs jejaring sosial facebook.” Eun Hyuk menjawab dengan wajah yang entah. Padahal, aku yakin sekali kalau Eun Hyuk lebih penasaran dengan jawaban dari pertanyaannya yang pertama. “Jadi, kenapa kau mengajakku bertemu?” Eun Hyuk mengulang pertanyaannya. Benar, kan, dia memang penasaran dengan jawaban dari soal yang satu itu.

            Kau memainkan ujung cangkir moka yang sudah tersisa setengah. Kau memasang senyuman yang lebih aneh dari biasanya. Entah kenapa, aku ikut penasaran dengan jawabanmu. “Uh, kau ingin tahu? Jujur saja, aku masih menyayangimu. Maka dari itu, aku mengajakmu untuk bertemu. Kau tidak keberatan, bukan?”

            Eun Hyuk membatu. Tidak, tidak, jangan percaya pada kata-kata manisnya, Eun Hyuk-ssi! Jang Sin pasti sedang berbohong padamu! Ingin rasanya aku berteriak memberitahu laki-laki malang itu, namun, aku tahu aku tak pernah bisa melakukannya. Sungguh, demi Tuhan, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang kaupikirkan, Jang Sin.

            “Aku … aku sama sekali tidak keberatan,” jawab Eun Hyuk seraya tersenyum. Namun sesaat setelah itu, dia berwajah muram. “Tapi, kau tahu benar bagaimana watak kekasihmu. Aku tidak mau dia berencana membunuh dirinya sendiri seperti dulu karena tahu kalau kau tidak mau melepaskanku. Dia pasti akan marah besar jika tahu kau mengajakku bertemu.”

            Kau tertawa hambar. “Dia baik-baik saja. Sangat baik-baik saja. Sudah tak mungkin baginya untuk berencana bunuh diri lagi. Jadi, tak ada yang perlu kaukhawatirkan.”

            Ya, aku masih ingat kejadian waktu itu. Lima bulan setelah berpisah dengan Kyu Hyun, kau akhirnya memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Dan laki-laki itu adalah Eun Hyuk. Anehnya, berselang dua bulan, Kyu Hyun kembali lagi ke kehidupanmu, memintamu kembali menjadi kekasihnya. Kau yang saat itu masih diliputi dendam, memanfaatkan situasi untuk memperbaiki ‘kekalahanmu’ atas Kyu Hyun di masalalu.

            Kau membiarkan laki-laki tampan itu memohon. Kau bahkan memberi tantangan untuk membuat 16 puisi dalam satu malam pada Kyu Hyun. Mungkin saat itu Kyu Hyun lebih gila darimu, dia menyanggupinya dan dia benar-benar membuat 16 puisi hari itu. Namun, kau justru menolaknya setelah Kyu Hyun selesai memposting puisi-puisi tersebut di website-nya. Jahat sekali. Sungguh jahat. Tak heran jika dia berencana untuk mengakhiri hidupnya.

            Akan tetapi, meski aku tak pernah bicara, aku tahu ada sesuatu yang lain di matamu. Diam-diam kau berharap bisa melepaskan Eun Hyuk dan kembali bersama Kyu Hyun. Namun, lagi-lagi, kau berpikir jika kau melakukan itu maka kau akan merasa kalah. Alasannya sederhana; kau jatuh ke lubang yang sama.

            Aku tahu, aku tahu bagaimana dirimu, Jang Sin-ya. Kau begitu terpukul saat Kyu Hyun tiba-tiba memutuskan hubungan kalian tepat pada anniversary kalian yang ke satu tahun. Aku tahu kau terluka begitu banyak. Aku juga tahu, kau tidak bisa menerima alasan Kyu Hyun yang mengatakan dia ingin kembali menjalin hubungan dengan cinta pertamanya. Aku sangat tahu….

            Kau menangis hari itu. Kau memeluk Mihaeru hari itu. Dan kau berubah sejak hari itu.

            Apa yang ada dalam kepalamu hanya kepuasan. Kau menuhankan kesenangan. Kau membuat masalah tapi kau tak mau terlibat dalam masalah. Keegoisanmu semakin memuncak, melebihi batasnya. Kau menyakiti siapapun yang kau pikir akan menyakitimu. Kau liar. Aku di sini hanya bisa terdiam, tanpa bisa melakukan apapun.

            Hei, Jang Sin-ya, kenapa kau begitu mencintai Kyu Hyun bahkan sampai saat ini? Kenapa kau mengaku menyayangi orang lain sementara kau tidak mengatakan langsung pada orang yang benar-benar kausayangi? Kenapa kau mencintai Kyu Hyun sementara ketika dia memintamu kembali, kau justru menyakitinya, mempermiankan perasaannya? Sebegitu dungu kah dirimu yang selalu mengatas-namakan kemenangan?

            Mungkin saja kau memang merasa menang, tapi hatimu tidak. Kau terlalu lama memakai topeng busuk itu. Berubahlah, setidaknya demi laki-laki yang kini ada di hadapanmu, yang selalu sabar menghadapi segala keegoisanmu. Lihatlah, pancaran kedua mata Eun Hyuk begitu tulus. Buka matamu, bodoh!

            Ah … sudahlah. Kau memang bodoh. Tak peduli seberapa kali pun kau menduduki peringkat teratas, kau masihlah gadis dungu yang tak mampu menahan emosi. Kau kerap kali mencampur-campurkan drama romantis dan horor secara bersamaan, menjadikan kengerian sebagai keindahan.

            Aku tidak peduli. Kyu Hyun atau Eun Hyuk, aku tidak peduli. Aku hanya peduli pada seseorang yang mampu berada di sampingmu sekalipun kau tak menginginkannya ada.

            ***

            “M-Mihaeru … keluarkan aku,” ujarmu terbata. Kau terduduk di pojok ruangan gelap tanpa penerangan. Kedua tanganmu bergetar menggenggam ponsel.

            “Ada apa denganmu? Di mana kau sekarang?!” suara dalam ponsel itu terdengar begitu khawatir.

            Lagi-lagi kau membuatku tidak mengerti, Choi Jang Sin. Aku tidak tahu pasti apa yang membuatmu ketakutan seperti itu. Aku selalu bersamamu, tapi aku sungguh tak tahu kenapa kau selalu melakukan hal tidak logis seperti ini. Padahal….

            “A-aku di rumah…”

            Padahal yang kaulakukan sebelumnya hanya membaca pesan. Demi Tuhan, membaca pesan. Tidak ada siapapun yang hendak mencelakaimu, tapi kau bersikap seolah kau akan dibunuh dalam waktu dekat. Entah sudah berapa kali kau membuat sahabatmu yang tsundere itu mengkhawatirkan yang tidak perlu dikhawatirkan.

            “Jangan ke mana-mana, aku akan ke sana secepatnya!”

            Kau kembali meringkuk di pojok seraya memeluk kedua lutut. Kenapa kau tidak menyalakan lampunya? Ini sudah terlalu malam, padahal biasanya kau takut gelap. Seharusnya kau tidak seperti ini di waktu sedini ini. Mihaeru pasti membawa motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Kau senang sekali membuatku khawatir!

            Isakan kecil lolos dari bibir mungilmu. Astaga, apa yang sebenarnya sedang kautangisi? Tak ada sesuatu yang mengejutkan di hari ini, tak ada yang perlu ditangisi. Oh, apa kau mulai gila?

            Lima menit berselang, Mihaeru datang. Jarak tempuh dari rumahnya menuju rumahmu biasanya memakan waktu lima belas menit, sudah dapat dipastikan, Mihaeru pasti membawa motor dengan kecepatan maksimal. Benar-benar…

            “Apa yang terjadi?! Katakan apa yang terjadi?!” gadis berambut pirang itu kalap. Ia mengguncang-guncang bahumu, kau hanya terisak.

            “K-keluarkan aku dari penderitaan ini. A-aku … aku sudah tidak kuat. Kembalikan aku … kembalikan aku ke kenyataan, Mihaeru-ya.” Kau berkata seraya menahan isak. Lalu direngkuhlah tubuh yang ada di hadapanmu itu, erat.

            Kedua kelopak mata biru muda itu membola. Mihaeru sungguh tak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi, begitu pun aku.

            “Jangan menangis … jangan menangis seperti ini, bodoh. Masih ada aku, masih ada aku yang akan selalu menjadi milikmu. Kalau kau terus menangis dalam penderitaan, akan kupastikan aku akan datang ke rumahnya dan mematahkan lehernya. Sudahlah … ssshh.” Mihaeru bertutur panjang.

            Terkadang aku tidak mengerti apa yang ada dalam kepala cerdas seorang Mihaeru. Ia seringkali mengatakan hal-hal yang menjurus, seolah ia memang milikmu, Jang Sin. Namun, entah kenapa kau seolah tidak mau menanggapi, meski aku yakin kau sedikit merasa jijik.

            Sorot mata Mihaeru terarah ke sebuah ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatmu memeluknya. Gadis keturunan Rusia itu memutuskan untuk melepaskan sejenak rengkuhan itu, lalu merangkak dan menggapai ponselmu. Hal pertama yang Mihaeru lihat dalam ponselmu adalah pesan yang sebelumnya kaubaca, dari sosok yang paling kaucinta.

            ‘Aku sangat tersiksa. Aku hanya memiliki satu permintaan, kau pergi dari Eun Hyuk dan kembalilah padaku. Tapi kau terus menyiksaku dan aku tak dapat berbuat apapun karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu.’

            Apa? Apa yang salah dengan pesan itu? Tidak ada sama sekali!

            Aku tahu Mihaeru cerdas, maka dari itu, hal kedua yang dilihatnya adalah tanggal pengiriman, 9 Maret 2012. Satu tahun lebih sejak pesan itu dikirimkan. Pesan dari Kyu Hyun ketika ia ingin kau melepaskan Eun Hyuk. Namun, dengan sadis kau terus menyiksa hati dan perasaannya, membuat Kyu Hyun merasakan kepahitanmu ketika kau ditinggalkan olehnya. Kau tanpa ampun saat itu. Tertawa di atas penderitaan laki-laki yang rela memberikanmu nyawa asal kau mau kembali bersamanya.

            Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkanmu. Aku juga tahu rasa sakit yang kaurasakan saat Kyu Hyun memutuskan untuk kembali mengejar cinta pertamanya. Aku tahu, ini adalah sebuah karma yang pantas dirasakan Kyu Hyun. Ia mencampakkanmu demi cinta pertama yang tidak jelas keberadaan hatinya, lalu kau balik mencampakkan dia demi dendammu yang membara—dengan mengesampingkan cinta.

            Mungkin memang benar, kau mendapatkan kepuasan setelahnya. Namun, lihatlah dirimu sekarang, yang sangat terpuruk karena penyesalan. Dalam otakmu pasti kau berpikir seandainya kau memiliki mesin waktu, kau akan memperbaiki kesalahanmu dan mencoba memaafkan Kyu Hyun saat itu.

            “Kau … bukankah kau dan dia … sudah kembali?” Mihaeru bertanya hati-hati.

            Kau terdiam. Lalu menggeleng.

            “Lalu apa yang tercantum di status hubunganmu?”

            “I-itu….” Kau terisak, tak mampu melanjutkan. Mihaeru mengernyit. Ia pasti sudah menduga ini sejak awal.

            “Jadi … Bintang Luka itu adalah … dirimu sendiri?” Mihaeru nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Dan ia lebih tak percaya dengan pengelihatannya barusan, kau mengangguk pelan. Bintang Luka, nama yang dulu sering dipakai Kyu Hyun. Ck, menyedihkan. Dari awal aku memang sudah tahu semuanya.

            Tampaknya ada raut ketidak-percayaan yang terlukis di wajah cantik gadis Rusia itu. Dan aku benar-benar tak menyangka apa yang dilakukan Mihaeru setelahnya. Dia menampar keras pipi kananmu. Kau yang semula masih terisak langsung bungkam.

            “Apa kau sudah gila, hah?! Dari awal aku sangat membenci laki-laki itu! Dia membuatmu menjadi gila seperti ini! Sudah pernah kukatakan sejak dulu, jangan pernah membicarakan sesuatu yang menyangkut dengan dia! Jangan sekalipun kau berani menyebut namanya di depanku!” Mihaeru semakin terlihat berang. Dia menamparmu lagi, kali ini di pipi kiri.

            “M-maaf…” hanya itu yang terucap dari bibirmu.

            Mihaeru memandangmu dengan sorot mata yang … entahlah. Lalu gadis itu menunduk, dan bahunya berguncang. Sahabatmu sedang menangis. Apa yang sudah kaulakukan? Kau meruntuhkan kepercayaannya. Dulu kau bilang kau merasa puas sudah menyakiti Kyu Hyun, lalu sekarang semuanya bertolak-belakang.

            Padahal kau sudah berjanji untuk tidak membicarakan Kyu Hyun, apalagi berhubungan dengan laki-laki itu. Apa lagi yang bisa membuat sahabatmu senang kalau bukan kau yang merasa baik-baik saja setelah sekian lama menderita? Mihaeru sangat menyayangimu, Jang Sin-ya. Dia berusaha untuk tidak protes ketika melihat status hubunganmu berpacaran dengan Kyu Hyun. Mihaeru hanya ingin kau bahagia. Tapi ternyata … semua yang terlihat nyata pada kenyataannya adalah kebohongan belaka.

            Lihatlah, raut kekecewaan dan kesedihan yang terlukis jelas di wajah sahabatmu. Kau terluka dan sahabatmu ikut merasakannya.

            “M-Mihaeru…”

            Suaramu membuat gadis Rusia itu mengarahkan pandangannya ke matamu. Tatapan yang biasa teduh itu kini berubah tajam. Dengan cepat, ia mendorong bahumu ke tembok dan menampar pipimu sekali lagi. Mihaeru menamparmu dengan air mata yang turun mulus di kedua pipinya.

            “Aku akan mengeluarkanmu … aku akan mengeluarkanmu dari penderitaan! Akan kubuat kau sadar sepenuhnya bahwa tubuh dan nyawamu ini hidup untuk hari ini, bukan di masalalu!”

            Tamparan lagi.

            Rasa sakit yang kaurasakan saat ini mungkin tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang beratus hari bersarang di hatimu. Kau hanya terdiam, membiarkan Mihaeru melakukan apapun. Kau bahkan tak memprotes ketika ia merontokkan foto-foto Kyu Hyun yang terpajang di tembok kamarmu, Mihaeru bahkan merobek-robeknya menjadi kepingan kecil. Dan yang paling mengejutkan adalah … kau tidak mencegah bahkan ketika sahabatmu membanting ponselmu sampai layarnya retak tak beraturan.

            Hancur sudah. Hancur sudah semua kenangan yang tersisa dari Kyu Hyun. Tak ada lagi berpuluh-puluh puisi romantis yang dulu dikirimkan Kyu Hyun untukmu, semuanya sudah musnah bersamaan dengan tak berfungsinya ponselmu. Dan satu-satunya kenangan yang disisakan Kyu Hyun adalah … diriku.

            Ya, aku. Aku adalah sebuah kalung yang selama ini selalu dikenakan olehmu. Aku adalah kalung pemberian Kyu Hyun. Aku adalah apa yang selama ini memantau aktivitasmu, bahkan sejak orang yang membeliku tak lagi di sampingmu. Aku ragu, apakah Mihaeru menyadari keberadaanku? Apakah dia akan merusakku dan membuangnya ke tempat sampah?

            Diam-diam aku tak ingin hal itu terjadi.

            Dan semuanya benar-benar tidak terjadi.

            ***

            Apa yang sebenarnya ada dalam otak bodohmu? Kau selalu ingin menjadi nomor satu, sementara sekarang keadaan telah telak mengalahkanmu. Kau sama sekali tak mendapatkan apapun dari kesenangan semu yang kauciptakan ini, Jang Sin-ya.

            Kau menderita karena ulahmu sendiri. Menyedihkan. Bahkan seorang Mihaeru tak mampu mengembalikanmu ke kenyataan, kau masih terus bermimpi. Dan dalam mimpi itu, kau merasa kau masih bersama Kyu Hyun, seolah kau masih bisa mendengarkan tawa renyah dari laki-laki yang paling kaurindui itu. Tak peduli meski kini laki-laki yang ada di hadapanmu sama sekali bukan sosoknya.

            Seperti saat ini…

            Kau tersipu seraya tertawa ketika Eun Hyuk berceloteh riang tentang lelucon. Eun Hyuk begitu bersemangat saat berbicara, karena jujur saja, aku yakin dia sangat bahagia ketika melihatmu tertawa karena lelucon yang dibuatnya. Padahal biasanya kau hanya akan menanggapinya dengan senyum kecut. Lihat, bahkan Eun Hyuk memperagakan gaya seekor kera hanya untuk melihatmu tertawa seperti ini.

            Apa lagi yang kauharapkan dalam hidup? Laki-laki yang sungguh menyayangimu sudah ada di hadapanmu, kau hanya perlu membuka mata lebar dan membuka pintu hati lebar-lebar. Mungkin saja aku memang pemberian dari Kyu Hyun, namun bukan berarti aku lebih bahagia ketika kau masih meringkuk dalam kegelapan kamar sambil mengbayangkan Kyu Hyun.

            Kau sendiri yang mengatakan pada Eun Hyuk di kafe kala itu, bahwa Kyu Hyun sudah sangat baik-baik saja. Dia baik-baik saja tanpamu. Kau juga harus melakukan hal yang sama. Penyesalan hanya akan membuatmu semakin terlihat lemah dalam kekalahan. Kau juga tak boleh mengalah kali ini, bukankah prinsipmu adalah menjadi pemenang adalah keharusan? Cobalah untuk menang dalam hal ini juga.

            Kau harus membuktikan bahwa kau juga bisa baik-baik saja tanpa dia. Karena bagiku, itulah satu-satunya pembalasan dendam yang paling bijak.

            “Jang Sin-ya, aku senang akhirnya kau memperlihatkan wajah ceriamu,” ujar Eun Hyuk tulus. Bayangkan saja, selama hampir satu tahun menjalin hubungan denganmu, kau selalu memperlakukan Eun Hyuk seperti musuhmu. Suatu keajaiban besar dia mampu bertahan dengan sifatmu yang seperti itu.

            “Benarkah?” tanyamu begitu antusias. Eun Hyuk tersenyum seraya mengangguk. Untung saja malam naas itu Mihaeru tidak merusakku, kalau dia merusakku, mungkin saja aku tidak akan pernah tahu ada momen seindah ini. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu, kau tahu? Akan lebih baik kau melepas topeng yang selama ini kaukenakan. Bersikap terbukalah dengan Eun Hyuk, sama seperti ketika kau bersikap terbuka pada Mihaeru.

            “Boleh aku merengkuhmu?” Eun Hyuk meminta izin. Kau tampak berpikir, lalu mengangguk setelahnya. Aah … betapa bahagianya aku. Aku sudah tidak tahu lagi harus merasakan apa, bahkan ketika kau memandang Eun Hyuk yang ada dalam bayanganmu adalah Kyu Hyun. Aku sudah tidak peduli. Yang terpenting bagiku adalah senyumanmu.

            Eun Hyuk tersenyum manis lalu merengkuhmu. Kau melingkarkan kedua pergelangan tanganmu di antara punggungnya. Kepalamu kau benamkan di dada bidangnya. Apakah kau sudah bahagia sekarang? Laki-laki yang saat ini memelukmu takkan berani melukaimu. Ia memperlakukanmu seperti gelas kaca yang mudah hancur. Eun Hyuk begitu hati-hati dalam memilih tindakan.

            “Terima kasih sudah kembali padaku. Aku mencintaimu … Kyu Hyun.”

            Meski tak memiliki telinga, aku tahu aku tidak salah dengar. Dan aku juga tahu, kau sama sekali tidak sadar atas apa yang kaukatakan barusan. Aku merasakan tubuh Eun Hyuk yang menegang, lalu laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya.

            “Aku juga mencintaimu.” Eun Hyuk menjawab, mencoba melupakan fakta nama siapa yang disebut olehmu.

            Oh, seandainya malam naas itu Mihaeru berhasil menyadari keberadaanku, mungkin aku akan terbuang dalam tong sampah sekarang. Entah kenapa tempat itu terasa lebih baik daripada berada di antara himpitan dua manusia melodramatis ini.

             Eun Hyuk melepas rengkuhannya. Ia memandangmu dengan sorot mata meneduhkan. Bahkan laki-laki itu tersenyum ketika hatinya sedang terluka. Sementara kau … kau justru memasang wajah tersipu, seolah apa yang ada di hadapanmu adalah sosok masalalu yang paling kaurindu. Menyedihkan.

                        Ooo END ooO

            Pojok curcol : Hyohaaaa! Ini pertama kalinya aku memakai Eun Hyuk sebagai cast utama. Aah, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Ini juga pengalaman pertamaku memakai SUDUT PANDANG DARI BENDA MATI, ASTAGA! *capslockkeinjek* cerita ini mungkin tidak nyambung, tapi semoga saja yang sanggup membaca sampai akhir tidak muntah karena enek dengan bumbu-bumbu melankolisnya atau karena pusing sama pengambilan sudut pandangnya :D
             Oh, fanfik ini juga sekalian memperkenalkan OC baru bikinanku; Choi Jang Sin. Terinspirasi dari nama perempuan yang dikagumi Eun Hyuk; Choi Jung Won. Wkwkwk RCL? :3 *kedip-kedip*

            Thursday, January 9, 2014
            7:59 PM