Label

Tampilkan postingan dengan label Tentang Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Penulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Cerpen Kehidupan : Indahnya Berbagi (Based on true story)



INDAHNYA BERBAGI
Cerpen karya Icha. Zahra (@KENzeira)

Pagi itu aku tengah duduk dengan punggung yang bersandar pada sandaran kursi. Bagi sebagian orang, hari minggu adalah hari yang paling cocok untuk bermalas-malasan. Tetapi, tidak bagiku. Di hari libur ini aku sibuk membantu pekerjaan ibu. Dimulai dari mencuci pakaian, mencuci piring, dan terakhir menyapu halaman. Semua pekerjaan itu telah selesai aku kerjakan. Dan kini aku sedang terduduk santai di depan layar monitor dengan secangkir kopi dalam genggaman.
Kupandangi sejenak ponselku yang berkelip-kelip di samping laptop tanda ada pemberitahuan. Detik berikutnya aku pun meraih ponsel dengan casing hitam tersebut. Ternyata ada satu pesan masuk dari sahabat karibku, Monika.
‘Kau sibuk? Aku ingin bertemu. Bagaimana kalau kita bertemu di mall sehabis shalat dzuhur?’ kira-kira begitulah bunyi pesan itu.
Aku memandang jam dinding yang tak jauh dari tempatku duduk. Baru pukul sepuluh. Masih dua angka lagi untuk mencapai pukul dua belas. Kurasa itu tidak terlalu buruk. Lagipula semua pekerjaan rumah sudah tak lagi menumpuk.
Akhirnya dengan licah jemari-jemari tanganku mengetik sebuah balasan. Menyetujui ajakan sang pengirim pesan.
Sejenak aku memain-mainkan ujung gelas kopiku. Memikirkan kegiatan apa yang aku lakukan selama menunggu waktu. Ah… Aku kembali teringat dengan layar monitor yang menampilkan beberapa kalimat yang aku ketik sebelum menerima pesan itu. Akan lebih baik apabila waktu dua jam tersebut aku habiskan untuk melanjutkan hobiku.
Entah sejak kapan aku mulai mendalami hobiku menulis. Aku tidak ingat. Yang pasti, saat ini aku lebih sering menghabiskan waktu luang dengan menulis. Aku jarang menghabiskan waktu luang di luar rumah, aku lebih senang bersantai dengan secangkir kopi sambil mengolah imajinasi untuk menciptakan sebuah karya fiksi.
Aku termenung sendiri. Namun, kali ini pandanganku tak terfokus pada layar putih itu. Sepasang manik hitamku anteng memperhatikan kekokohan pohon jambu. Tempatku terbiasa duduk dan mengetik sesuatu tepat di hadapan jendela rumahku yang bertemu langsung dengan dunia luar. Dunia di mana orang-orang berlalu-lalang di pinggiran jalan. Rupanya orang-orang itu sedang tidak menampakkan batang hidungnya, dan aku kembali termenung memandang daun-daun pohon jambu yang melambai-lambai dibelai angin.
Ada satu daun yang terjatuh, daun kering yang terlihat begitu rapuh. Hanya dengan satu terpaan angin mampu membuatnya terjatuh. Entah mengapa aku jadi teringat dengan kisah sebuah novel yang ditulis oleh Tere Liye dengan judul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Sama halnya dengan kehidupan. Terkadang takdir memaksa kita untuk terjatuh dari ketinggian. Takdir yang membuat kita merasakan keterpurukan. Tetapi, bukan itu intinya. Ketegaran dan rasa percaya kita terhadap sang pencipta bahwa di balik kejadian, selalu ada hikmah yang tersimpan. Itulah yang membuat sang daun tak membenci angin.
Dan sebuah bayangan menari-nari dalam pikiran. Aku baru saja menemukan sebuah tema cerita untuk aku tuangkan dalam tulisan. Inspirasi datang di saat-saat yang tak terduga. Dengan lancar, jemari-jemariku lincah bermain-main di atas tombol keyboard.
Entahlah… Aku tidak ingat sudah menghabiskan waktu berapa lama untuk menulis. Yang pasti, saat ini sahabatku kembali mengirim pesan singkat. Mengingatkanku untuk bersiap-siap berangkat. Sebelum mematikan laptop, tak lupa aku menyimpan tulisanku dalam sebuah folder.
Tak butuh waktu lama untukku mempersiapkan diri. Kebetulan waktu itu aku sedang berhalangan dan aku tidak melaksanakan kewajibanku menunaikan ibadah shalat dzuhur. Aku hanya membasuh wajahku. Jujur saja, aku tidak mandi lagi. Aku tak perduli jika harus berkeringat karena panas matahari. Aku bisa mandi setelah aku pulang dari mall nanti.
Karena belum makan siang, akhirnya sebelum memulai perjalanan aku mampir sejenak di warung sebelah rumahku. Aku disambut dengan senyuman hangat yang terpajang di wajah keriput sang nenek tua pemilik warung. Seolah beliau merasa bahagia karena aku berkunjung untuk membeli beberapa makanan ringan yang dijajakannya.
Bicara soal warung, aku jadi teringat dengan sebuah minimarket yang baru buka beberapa minggu lalu yang terletak tidak jauh dari rumahku. Sebuah minimarket yang membuat pendapatan sepasang kakek-nenek tua itu menurun drastis. Bagaimana tidak? Nyaris semua yang dibutuhkan para ibu rumah tangga dijual di minimarket itu. Terlebih lagi, remaja-remaja zaman sekarang merasa gengsi apabila disuruh membeli bahan makanan di warung. Mereka tentu saja akan lebih senang jika disuruh berbelanja di minimarket yang sejuk karena ber-AC.
“Mau beli apa, nak?” tanya sang nenek.
Aku menjawab, “dua bungkus roti.”
Dan nenek tua yang tampak ringkih itu memasukkan tiga buah roti dalam kantong kresek. Aku bingung, padahal aku hanya membeli dua, tetapi kenapa ia memasukkan tiga?
“Roti yang satunya ambil saja. Cukup membayar dua roti.” Katanya, seolah mampu membaca mimik muka bingung yang terpampang di wajahku. Aku pun tersenyum lebar.
“Terima kasih.” Ujarku. Nenek itu menepuk-nepuk bahuku pelan sambil mengangguk.
“Ya. Makanlah yang banyak agar tidak kurus seperti ini.” Tuturnya. Kali ini aku nyengir. Sang nenek tersenyum hangat. Inilah yang selalu aku rindukan apabila datang ke warung kecil ini, bukan bonus cuma-cuma yang ia berikan, namun senyumannya yang menyejukkan. Beruntunglah, masih ada manusia yang berbagi meski ia repot dengan tanggungan hidupnya sendiri.
Tanpa babibu, aku memasukkan kantong kresek yang berisi tiga roti tersebut ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Lalu aku melangkahkan kedua kakiku meninggalkan warung kecil itu menuju pertigaan yang terdapat beberapa angkutan umum. Di siang hari yang terik ini merupakan hal biasa bagi para supir untuk beristirahat. Aku jadi ragu, apakah ada yang akan mengangkutku menuju mall?
Rupanya dewi fortuna sedang berada tak jauh dariku, salah satu supir angkutan umum itu menawariku untuk memakai jasanya. Aku pun bergegas masuk ke dalam angkutan umum tersebut dan duduk dengan tenang, menunggu perjalanan usai sampai tujuan. Di tengah perjalanan, angkutan umum itu berhenti karena ada salah satu penumpang yang hendak naik. Penumpang tersebut adalah seorang anak kecil dengan usia yang berkisar antara delapan sampai sepuluh tahun. Anak kecil itu memakai pakaian kumal dan wajah cantiknya pun tertutup oleh debu. Aku balas tersenyum ketika anak itu tersenyum ke arahku.
Selang beberapa menit, anak kecil itu memberhentikan angkutan umum di daerah jalan layang. Ia hendak memberikan biaya ongkosnya pada sang supir, namun ditolak dengan halus oleh supir itu. Anak kecil tersebut tersenyum sambil tak hentinya berucap terima kasih. Aku tertegun, bahkan seorang supir pun memiliki jiwa sosial yang tinggi meski tak banyak materi yang ia miliki. Aku merasa bertemu dengan dua orang hebat hari ini.
Singkat cerita, aku telah sampai menginjakkan kaki di sebuah pusat perbelajaan Kota Karawang. Sepasang mataku mencari-cari di mana sahabatku menunggu. Tak perlu waktu lama karena gadis cantik seusiaku itu melambaikan tangannya tak jauh dari posisiku berdiri. Aku pun tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Monika berjalan ke arahku.
“Kau sudah menunggu lama?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Tidak,”
“Tumben kau mengajakku ke mall. Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?”
Kali ini ia mengangguk. “Ya, aku ingin membeli sebuah jam tangan untuk ulang tahun ibuku. Jam tangannya sudah rusak.”
Lalu gadis itu menggamit tanganku dan kami berjalan beriringan bersama menuju pintu masuk. Namun, langkah Monika terhenti kala ia melihat pengemis tua yang menyodorkan kedua tangannya. Sebelah tangan gadis itu mencari-cari sesuatu dalam saku celanannya. Selembar uang sepuluh ribuan. Tanpa perlu berpikir panjang aku tahu kalau sahabatku itu hendak memberikan uang tersebut pada pengemis tua itu. Dan benar saja, Monika memberikan uang tersebut.
“Terima kasih, nak. Semoga amal ibadahmu di terima oleh Allah SWT dan senantiasa dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya.” Kata pengemis tua itu. Monika tersenyum lalu mengaminkan perkataan pengemis tersebut.
Aku tersenyum melihat kebaikan hati sahabatku. Aku tahu sejak dulu watak gadis itu. Ia sangat senang berbagi. Selain baik hati, gadis yang memiliki nama lengkap Monika Rosalia Subrata itu memiliki wajah yang cantik jelita. Hidungnya bangir, kulitnya putih, dan jika dilihat-lihat ia seperti orang Eropa. Monika terlahir dari keluarga Subrata yang memiliki kelebihan materi. Meski begitu, hal itu tak membuatnya menjadi gadis yang jumawa. Itulah yang membuatku betah bersahabat dengannya.
“Hari ini aku bertemu dengan tiga orang yang gemar berbagi. Menakjubkan.” Ujarku saat aku dan Monika kembali melangkahkan kaki menuju pintu masuk.
“Benarkah?” tanyanya seolah tak percaya. Aku mengangguk mantap.
“Ya,” jawabku.
“Kau tahu? Negeri ini terasa kering dan tandus. Kekayaan alam memang melimpah ruah, tetapi untuk apa itu semua jika tidak bisa mensejahterakan rakyatnya? Orang miskin ada di mana-mana, mereka seperti budak yang belum dimerdekakan. Orang kaya menghina orang miskin karena merasa kalau derajat mereka jauh lebih tinggi dari orang miskin. Padahal menurutku, justru orang kaya tapi pelit berbagi itulah yang jauh lebih hina.” Tutur Monika panjang lebar.
“Ya, kau benar.” Hanya itu yang menjadi jawabanku. Jujur saja, aku bingung harus menjawab apa. Monika Rosalia, dia benar-benar gadis yang luar biasa. Dia berbeda dengan gadis lain yang seusia dengannya. Di saat gadis-gadis lebih banyak membicarakan persoalan cinta, Monika justru lebih banyak membicarakan persoalan negara lewat cara berpikir kritisnya. Itulah faktor lain yang membuatku senang berbicara panjang-lebar dengannya. Bukan pembicaraan kosong tentang lelaki-lelaki idaman seperti remaja lainnya.
“Cha, berbagi itu perbuatan baik. Jangan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat baik.” katanya.
“Kenapa?” tanyaku seperti orang bodoh.
Ia tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaanku. “Yeah… Intinya jangan menunggu waktu, karena waktu bisa berhenti kapan saja.”
Aku takjub mendengarnya. Monika benar-benar sahabatku yang luar biasa. Aku mulai berpikir, di hari yang sama aku melihat tiga orang yang berbagi untuk sesamanya, itu membuktikan kalau Allah sedang memperingatkanku untuk sesegera mungkin berbuat baik dengan berbagi sebagian rezeki sebelum waktuku terhenti.

SELESAI



Karawang, 01 Mei 2013

Senin, 01 April 2013

Dear Diary #2 Gadis Pemberani


Sebuah Cerpen True Story
Dear Diary #2 : GADIS PEMBERANI
~oOo~
Bisa dibilang ini adalah diary lanjutan dari diary pertama. Kenapa? Karena disini aku masih menceritakan gadis angkuh dan arogan itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Icha Zahra? Gadis yang benar-benar membuatku penasaran setengah mati.
Usai acara MOS itu, aku berencana mencari tahu lebih rinci mengenai kehidupannya. Aku merasa gila saat itu. Hey! Aku berkali-kali berkata pada diriku bahwa ia sama sekali bukan tipe-ku, tapi otak bodohku terus menuntutku untuk mengetahui segala sesuatu tentang gadis itu – tidak, anak perempuan itu, dia belum tumbuh menjadi seorang gadis.
Hari itu, minggu. Aku kembali bertemu dengannya.
Astaga! Dan kau tahu apa yang terjadi dengan anak perempuan itu? Dia memotong rambutnya! Aku meraba rambutku sendiri, oh, jangan lupakan bahwa rambutnya kini tak berbeda jauh dengan rambutku. Aku tersenyum kecut ketika sepasang mata miliknya menatapku jijik. Aku sadar sekarang, dia lebih pantas dengan penampilannya yang sekarang. Lebih terkesan menyeramkan.
Aku tahu dia bukan anak perempuan seperti kebanyakan. Ia bahkan sepertiku, kupikir. Dia lebih condong ke arah laki-laki. Postur tubuhnya yang kurus membuat –ehm– payudaranya tidak terlihat karena ukurannya kecil, mungkin. Aku yakin, tak sedikit orang yang tertipu oleh penampilannya.
“Sejak kapan kau berubah menjadi penguntitku?” katanya ketus. Aku terdiam beberapa detik, aku tak menyangka ia mengetahui gerak-gerikku. Apa ia memiliki mata di belakang rambutnya? Shit!
“Siapa yang sedang kau bicarakan?” aku balik bertanya dengan nada sama ketusnya. Dia mendecih, matanya memandang ke arah lain kemudian ia kembali menatapku. Tajam sekali.
“Aku tidak bodoh.” Katanya sambil menunjuk-nunjuk kepalanya dengan telunjuknya sendiri. Oh, astaga! Aku belum pernah segugup ini. Tapi, mati-matian aku mencoba mengatur kegugupanku. Aku bisa mati sungguhan kalau aku kencing di celana saat ini juga. Oh, dia benar-benar iblis.
“Kalau kau tidak bodoh, kenapa kau tidak menggunakan otakmu sebelum menanyakan itu? Aku yakin, kau tidak lebih cerdik dariku. Dan lagi, kau pikir kau siapa sampai aku menguntitmu, huh? Kau bahkan sama sekali tidak menarik. Lihatlah dirimu, menyedihkan.” Tuturku. Damn! Bagaimana bisa aku mengeluarkan kalimat racun seperti itu? Dalam hati aku menyesal berkali-kali. Inilah kenapa orang-orang beranggapan aku manusia paling sadis, aku mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan. Baka!
Dan… apakah kau tahu apa yang dia katakan setelah aku mengatakan itu? Dia tidak mengatakan apapun kecuali diam mematung. Saat itu aku berpikir, disinilah kelemahan anak perempuan itu. Aku menyeringai lalu berbalik hendak meninggalkannya. Tapi…
BUGH!
Kau pasti tahu suara apa itu? HEY! Dia memukulku! Dia berlari ke arahku saat aku tengah berbalik dan dia memukul punggungku dengan siku tangan kanannya. Aku meringis kesakitan tapi dia menyeringai penuh kebencian.
“Aku bisa memberimu hadiah yang paling mengejutkan.” Katanya sambil berlalu pergi meninggalkanku. Oh! Aku merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia! Aku lupa kalau dia itu iblis yang kabur dari neraka. Tak seharusnya aku bermain-main dengannya. Shit!
~oOo~
Senin. Upacara penerimaan murid baru tahun ajaran 2009/2010 Sekolah Menengah Pertama.
Disaat aku berniat berhenti menguntit anak perempuan itu lagi, aku semakin merasa gila setelah tahu kalau ternyata aku satu kelas dengannya. Langit sedang menghukumku. Hidupku akan berakhir disini…
Tujuh lima.
Aku menghela nafas berat. Perlahan-lahan aku memasuki ruangan dengan papan bertuliskan ‘tujuh lima’ di atas pintunya itu. Dan aku duduk di kursi paling belakang. Di antara wajah-wajah yang tertawa-tawa itu, tak ada satupun yang aku kenal. Kecuali anak perempuan itu, mungkin. Aku dengan dia memang belum pernah berkenalan secara resmi. Aku sekedar tahu namanya lewat papan nama yang tertera di seragamnya.
Oh, oh, oh, aku melihatnya! Dia baru memasuki ruangan setelah hampir terisi semua. Aku merasa sial memilih tempat paling belakang karena ia duduk paling belakang juga! Dia duduk bersama teman perempuannya. Sekilas aku melihat papan nama temannya, kalau aku tidak salah baca nama temannya itu Siti Jubaedah. Aku yakin mataku masih bagus, jadi aku yakin kalau aku tidak salah baca.
Aku melirik ke arah anak perempuan berkulit putih dan berwajah cantik yang entah kenapa seperti sedang memperhatikan anak perempuan angkuh itu – Icha Zahra. Nama anak perempuan cantik itu Monika Rosalia Subrata. Aku yakin dia bukan anak perempuan sembarangan, dia juga cantik. Berbeda jauh dengan anak perempuan yang kemarin memukulku.
Okay, berhenti membicarakan yang lain. Kita fokus lagi ke arah Icha Zahra. Aku mengetahui beberapa hal baru tentang anak perempuan itu. Dia sulit bersosialisasi. Lucu sekali. Dia hanya duduk di bangkunya tanpa mencoba mengajak berkenalan seperti anak perempuan lainnya.
Aku tidak sadar kalau aku sendiri juga sulit bersosialisasi. Tapi, sudahlah… rasanya tidak penting kalau membicarakan diriku sendiri. Aku melihatnya keluar ruangan kelas, diam-diam aku mengikutinya. Dia duduk di antara lantai pembatas, menggoyang-goyangkan kakinya gelisah. Kalau aku adalah laki-laki yang menyukainya, mungkin aku akan duduk di sampingnya dan memberikannya senyum seribu watt milikku. Tapi, aku tidak menyukainya. Jadi aku hanya diam memperhatikannya.
Dua orang anak perempuan ikut keluar ruangan kelas. Oh, anak perempuan cantik bernama Monika itu ternyata. Aku tidak tahu nama anak perempuan yang bersamanya. Aku melihat Monika dengan temannya duduk bersebelahan dengan anak perempuan angkuh itu – Icha Zahra. Lama mereka saling terdiam sampai si wajah sangar itu mengulurkan tangannya pada Monika.
Oh, ini semakin seru. Ketiga anak perempuan itu berkenalan. Sarah Rahmawati, Icha Zahra, Monika Rosalia, seperti itulah urutan mereka duduk. Ternyata nama anak perempuan yang satu lagi itu Sarah Rahmawati. Sarah yang dari tadi bersenda gurau dengan anak laki-laki bernama Hendri Ardiansyah – si mata sipit.
Selang beberapa hari, ada kejadian yang mengagumkan.
Aku melihat anak laki-laki bernama Ahmadi yang melayangkan kakinya ke arah kepala anak perempuan berhidung pesek. Dan tentu saja si pesek itu menangis. Kau tahu? Tiba-tiba saja Icha Zahra datang dengan wajah penuh amarah. Ia menarik kerah anak laki-laki yang biasa di sebut Madi itu. Dan menghajarnya…
Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Semua murid dalam ruangan kelas meneriakkan nama Icha. Keren, batinku. Anak perempuan angkuh itu bertindak bak seorang penolong. Sedangkan si pesek tetap menangis.
Kemudian aku melihat tangan kecil anak perempuan itu memukul-mukul wajah Madi. Tentu saja Madi tidak terima. Ia balik menarik jilbab yang di kenakan Icha lalu menarik rambutnya dengan paksa. Ini semakin mendebarkan. Dalam hati aku berkata, aku pegang Ahmadi. Siapa yang bisa mengalahkan anak laki-laki itu? Dia memiliki otot yang cukup besar.
Dan ternyata aku kalah. Icha Zahra, anak perempuan angkuh dan arogan itu menang. Astaga, aku bahkan tak menyangka ia –Ahmadi– menangis. Aku melihat ada bercak darah di antara alis anak laki-laki itu. Aku tertawa dalam hati. Dia kalah, sama sepertiku.
Lalu, Icha Zahra bersama konco-konconya –Monika dan Sarah– menghampiri anak perempuan yang tadi menangis. Kemudian berkenalan. Nama anak perempuan pesek itu Rina Solihati dan teman sebangkunya bernama Tiara Ayu.
Ini menarik. Aku yakin mereka berlima akan menjadi sahabat karib.
Aku sadar sekarang. Aku bahkan tak lebih baik darinya – dari Icha Zahra. Meski ia perempuan, ia berani mengandalkan tenaganya untuk membela teman yang bahkan belum dikenalnya. Hari ini aku salut padanya. Dia anak perempuan yang pemberani. Gadis pemberani.
Mungkin hari lain aku benar-benar tertarik padanya.
Ya, siapa yang tahu?


Memory of August 2009 (Based On True Story)
Follow me on twitter @KENzeira

Selasa, 12 Maret 2013

Dear Diary #1



Aku bertemu dengannya ketika usiaku menginjak tiga belas tahun. Nama anak perempuan itu Icha Zahra – begitulah yang kutangkap dari papan namanya. Aku tidak tahu harus bagaimana menggambarkannya – tapi percayalah, dia anak perempuan yang terlihat sangat angkuh dan arogan.
Dia memiliki pony yang menjuntai panjang sampai melewati batas lehernya, rambut tipis dan panjangnya ia ikat menjadi satu, seperti ekor kuda. Dia sama sekali bukan anak perempuan yang manis dan cantik, tapi entah kenapa aku memperhatikannya sampai sejauh ini.
Gugus tujuh.
Aku tidak menyangka bisa satu gugus dengannya. Aku tidak tahu apakah itu berita baik atau buruk, tapi kupikir aku akan lebih banyak mengetahui apa yang anak perempuan itu lakukan. Kedua kakak senior –aku tidak tahu namanya– meminta perwakilan dua orang untuk menyanyi di depan kelas. Dengan memaksa. Ya, bagiku, MOS atau masa orientasi siswa hanya topeng untuk membully anak-anak baru.
Dan satu anak laki-laki di tunjuk, anak laki-laki yang duduk di sebelahku. Tadinya kupikir aku yang akan di tunjuk, ternyata keberuntungan sedang memihak padaku. Jujur saja aku tidak pandai menyanyi. Aku bisa membuat kaca jendela pecah kalau memaksa menyanyi. Dan ternyata, suara anak laki-laki itu tak lebih baik dariku – itu menurutku.
Dan apakah kau tahu? Seusai anak laki-laki itu menyanyi, kakak senior itu menunjuk ke arah paling belakang – tepat ke arah anak perempuan itu. Icha Zahra. Dia terlihat melirik kesana-kemari, memastikan bahwa memang dirinyalah yang di tunjuk. Aku terus melihat wajahnya yang gugup. Astaga, ini lucu sekali. Anak perempuan yang angkuh itu ternyata bisa gugup. Tak lama setelah itu, ia berdiri dan melangkah menuju ke depan kelas.
Aku tidak tahu telingaku yang terganggu atau bagaimana, tapi suaranya terdengar sangat aneh ketika menyanyi. Seperti tikus, mencicit. Aku hendak tertawa tapi tentu saja aku tidak melakukannya. Percayakan. Kurasa itu judul lagu yang dinyanyikannya. Suaranya mugkin saja bagus, tapi kurasa akan lebih bagus kalau ia tak bernyanyi.
Ah, catatan tambahan. Dia sering menggunakan matanya untuk mengancam. Harus aku akui, wajahnya menyeramkan ketika alis itu saring bertautan – matanya seperti penuh kebencian. Aku memiliki gagasan itu karena aku –dengan sengaja– menjegal kakinya. Ia nyaris jatuh, setelah itu ia memperlihatkan wajah iblisnya. Uhh… benar-benar anak perempuan yang angkuh. Rasanya akan menyenangkan bila membuatnya bertekuk lutut. Bukankah begitu?
Dia hanya memiliki tiga teman. Sungguh. Aku tidak tahu bagaimana bisa ada orang yang mau berteman dengan anak perempuan sepertinya. Bahkan bagiku, tiga teman itu terlalu banyak.
Akhirnya masa MOS akan segera berakhir. Setelah acara malam ini, hari senin berikutnya aku hanya tinggal masuk dan menunggu pengumuman pembagian kelas. Tapi, sebelum kita beranjak ke hari senin, aku ingin menceritakan hal menarik tepat di malam pentas seni itu.
Aku baru tahu kalau ternyata anak perempuan pemilik nama Icha Zahra itu sedang mengagumi seseorang. Aku kerap kali melihatnya yang tengah anteng memperhatikan anak laki-laki yang tak lebih tampan dariku, tepat malam itu. Anak laki-laki itu tinggi kurus. Sayang sekali, aku justru menyeringai melihat wajahnya yang sedih karena tahu kalau anak laki-laki yang disukainya itu sudah memiliki kekasih.
Malam pentas seni penutupan MOS itu berjalan dengan lancar. Semua junior-junior yang akan masuk ke SMP itu terlihat bahagia, mungkin dia pengecualian. Tapi, ternyata dugaanku salah. Dia justru terlihat berlari-lari tidak jelas dengan temannya yang bernama Devi itu. Tertawa dengan temannya yang satu itu sambil memandang langit hitam bertabur fireworks.
Dia tertawa. Disaat semua orang memandang langit yang di taburi petasan-petasan indah itu, aku justru terpaku memandangnya. Dia sungguh-sungguh tertawa. Sayang, aku tak bisa menangkap percakapan apa yang membuatnya tertawa.
Aku sadar.
Anak perempuan yang sama sekali tidak menarik itu, membuatku tertarik. Aku tak akan memperhatikannya sampai sejauh ini kalau aku tidak tertarik, aku bahkan mengetahui nama temannya yang jauh lebih cantik darinya itu – teman yang tertawa bersamanya.
Icha Zahra. Anak perempuan angkuh yang waktu itu mengenakan sweater pink membuatku penasaran. Semakin tahu banyak tentangnya membuatku semakin penasaran. Aku ingin tahu bagaimana dia mendapatkan mata menyeramkan itu, bagaimana dia mendapatkan tiga teman itu. Sepertinya akan menarik.


Memory of July 2009