Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Cerpen Kehidupan : Indahnya Berbagi (Based on true story)



INDAHNYA BERBAGI
Cerpen karya Icha. Zahra (@KENzeira)

Pagi itu aku tengah duduk dengan punggung yang bersandar pada sandaran kursi. Bagi sebagian orang, hari minggu adalah hari yang paling cocok untuk bermalas-malasan. Tetapi, tidak bagiku. Di hari libur ini aku sibuk membantu pekerjaan ibu. Dimulai dari mencuci pakaian, mencuci piring, dan terakhir menyapu halaman. Semua pekerjaan itu telah selesai aku kerjakan. Dan kini aku sedang terduduk santai di depan layar monitor dengan secangkir kopi dalam genggaman.
Kupandangi sejenak ponselku yang berkelip-kelip di samping laptop tanda ada pemberitahuan. Detik berikutnya aku pun meraih ponsel dengan casing hitam tersebut. Ternyata ada satu pesan masuk dari sahabat karibku, Monika.
‘Kau sibuk? Aku ingin bertemu. Bagaimana kalau kita bertemu di mall sehabis shalat dzuhur?’ kira-kira begitulah bunyi pesan itu.
Aku memandang jam dinding yang tak jauh dari tempatku duduk. Baru pukul sepuluh. Masih dua angka lagi untuk mencapai pukul dua belas. Kurasa itu tidak terlalu buruk. Lagipula semua pekerjaan rumah sudah tak lagi menumpuk.
Akhirnya dengan licah jemari-jemari tanganku mengetik sebuah balasan. Menyetujui ajakan sang pengirim pesan.
Sejenak aku memain-mainkan ujung gelas kopiku. Memikirkan kegiatan apa yang aku lakukan selama menunggu waktu. Ah… Aku kembali teringat dengan layar monitor yang menampilkan beberapa kalimat yang aku ketik sebelum menerima pesan itu. Akan lebih baik apabila waktu dua jam tersebut aku habiskan untuk melanjutkan hobiku.
Entah sejak kapan aku mulai mendalami hobiku menulis. Aku tidak ingat. Yang pasti, saat ini aku lebih sering menghabiskan waktu luang dengan menulis. Aku jarang menghabiskan waktu luang di luar rumah, aku lebih senang bersantai dengan secangkir kopi sambil mengolah imajinasi untuk menciptakan sebuah karya fiksi.
Aku termenung sendiri. Namun, kali ini pandanganku tak terfokus pada layar putih itu. Sepasang manik hitamku anteng memperhatikan kekokohan pohon jambu. Tempatku terbiasa duduk dan mengetik sesuatu tepat di hadapan jendela rumahku yang bertemu langsung dengan dunia luar. Dunia di mana orang-orang berlalu-lalang di pinggiran jalan. Rupanya orang-orang itu sedang tidak menampakkan batang hidungnya, dan aku kembali termenung memandang daun-daun pohon jambu yang melambai-lambai dibelai angin.
Ada satu daun yang terjatuh, daun kering yang terlihat begitu rapuh. Hanya dengan satu terpaan angin mampu membuatnya terjatuh. Entah mengapa aku jadi teringat dengan kisah sebuah novel yang ditulis oleh Tere Liye dengan judul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Sama halnya dengan kehidupan. Terkadang takdir memaksa kita untuk terjatuh dari ketinggian. Takdir yang membuat kita merasakan keterpurukan. Tetapi, bukan itu intinya. Ketegaran dan rasa percaya kita terhadap sang pencipta bahwa di balik kejadian, selalu ada hikmah yang tersimpan. Itulah yang membuat sang daun tak membenci angin.
Dan sebuah bayangan menari-nari dalam pikiran. Aku baru saja menemukan sebuah tema cerita untuk aku tuangkan dalam tulisan. Inspirasi datang di saat-saat yang tak terduga. Dengan lancar, jemari-jemariku lincah bermain-main di atas tombol keyboard.
Entahlah… Aku tidak ingat sudah menghabiskan waktu berapa lama untuk menulis. Yang pasti, saat ini sahabatku kembali mengirim pesan singkat. Mengingatkanku untuk bersiap-siap berangkat. Sebelum mematikan laptop, tak lupa aku menyimpan tulisanku dalam sebuah folder.
Tak butuh waktu lama untukku mempersiapkan diri. Kebetulan waktu itu aku sedang berhalangan dan aku tidak melaksanakan kewajibanku menunaikan ibadah shalat dzuhur. Aku hanya membasuh wajahku. Jujur saja, aku tidak mandi lagi. Aku tak perduli jika harus berkeringat karena panas matahari. Aku bisa mandi setelah aku pulang dari mall nanti.
Karena belum makan siang, akhirnya sebelum memulai perjalanan aku mampir sejenak di warung sebelah rumahku. Aku disambut dengan senyuman hangat yang terpajang di wajah keriput sang nenek tua pemilik warung. Seolah beliau merasa bahagia karena aku berkunjung untuk membeli beberapa makanan ringan yang dijajakannya.
Bicara soal warung, aku jadi teringat dengan sebuah minimarket yang baru buka beberapa minggu lalu yang terletak tidak jauh dari rumahku. Sebuah minimarket yang membuat pendapatan sepasang kakek-nenek tua itu menurun drastis. Bagaimana tidak? Nyaris semua yang dibutuhkan para ibu rumah tangga dijual di minimarket itu. Terlebih lagi, remaja-remaja zaman sekarang merasa gengsi apabila disuruh membeli bahan makanan di warung. Mereka tentu saja akan lebih senang jika disuruh berbelanja di minimarket yang sejuk karena ber-AC.
“Mau beli apa, nak?” tanya sang nenek.
Aku menjawab, “dua bungkus roti.”
Dan nenek tua yang tampak ringkih itu memasukkan tiga buah roti dalam kantong kresek. Aku bingung, padahal aku hanya membeli dua, tetapi kenapa ia memasukkan tiga?
“Roti yang satunya ambil saja. Cukup membayar dua roti.” Katanya, seolah mampu membaca mimik muka bingung yang terpampang di wajahku. Aku pun tersenyum lebar.
“Terima kasih.” Ujarku. Nenek itu menepuk-nepuk bahuku pelan sambil mengangguk.
“Ya. Makanlah yang banyak agar tidak kurus seperti ini.” Tuturnya. Kali ini aku nyengir. Sang nenek tersenyum hangat. Inilah yang selalu aku rindukan apabila datang ke warung kecil ini, bukan bonus cuma-cuma yang ia berikan, namun senyumannya yang menyejukkan. Beruntunglah, masih ada manusia yang berbagi meski ia repot dengan tanggungan hidupnya sendiri.
Tanpa babibu, aku memasukkan kantong kresek yang berisi tiga roti tersebut ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Lalu aku melangkahkan kedua kakiku meninggalkan warung kecil itu menuju pertigaan yang terdapat beberapa angkutan umum. Di siang hari yang terik ini merupakan hal biasa bagi para supir untuk beristirahat. Aku jadi ragu, apakah ada yang akan mengangkutku menuju mall?
Rupanya dewi fortuna sedang berada tak jauh dariku, salah satu supir angkutan umum itu menawariku untuk memakai jasanya. Aku pun bergegas masuk ke dalam angkutan umum tersebut dan duduk dengan tenang, menunggu perjalanan usai sampai tujuan. Di tengah perjalanan, angkutan umum itu berhenti karena ada salah satu penumpang yang hendak naik. Penumpang tersebut adalah seorang anak kecil dengan usia yang berkisar antara delapan sampai sepuluh tahun. Anak kecil itu memakai pakaian kumal dan wajah cantiknya pun tertutup oleh debu. Aku balas tersenyum ketika anak itu tersenyum ke arahku.
Selang beberapa menit, anak kecil itu memberhentikan angkutan umum di daerah jalan layang. Ia hendak memberikan biaya ongkosnya pada sang supir, namun ditolak dengan halus oleh supir itu. Anak kecil tersebut tersenyum sambil tak hentinya berucap terima kasih. Aku tertegun, bahkan seorang supir pun memiliki jiwa sosial yang tinggi meski tak banyak materi yang ia miliki. Aku merasa bertemu dengan dua orang hebat hari ini.
Singkat cerita, aku telah sampai menginjakkan kaki di sebuah pusat perbelajaan Kota Karawang. Sepasang mataku mencari-cari di mana sahabatku menunggu. Tak perlu waktu lama karena gadis cantik seusiaku itu melambaikan tangannya tak jauh dari posisiku berdiri. Aku pun tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Monika berjalan ke arahku.
“Kau sudah menunggu lama?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Tidak,”
“Tumben kau mengajakku ke mall. Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?”
Kali ini ia mengangguk. “Ya, aku ingin membeli sebuah jam tangan untuk ulang tahun ibuku. Jam tangannya sudah rusak.”
Lalu gadis itu menggamit tanganku dan kami berjalan beriringan bersama menuju pintu masuk. Namun, langkah Monika terhenti kala ia melihat pengemis tua yang menyodorkan kedua tangannya. Sebelah tangan gadis itu mencari-cari sesuatu dalam saku celanannya. Selembar uang sepuluh ribuan. Tanpa perlu berpikir panjang aku tahu kalau sahabatku itu hendak memberikan uang tersebut pada pengemis tua itu. Dan benar saja, Monika memberikan uang tersebut.
“Terima kasih, nak. Semoga amal ibadahmu di terima oleh Allah SWT dan senantiasa dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya.” Kata pengemis tua itu. Monika tersenyum lalu mengaminkan perkataan pengemis tersebut.
Aku tersenyum melihat kebaikan hati sahabatku. Aku tahu sejak dulu watak gadis itu. Ia sangat senang berbagi. Selain baik hati, gadis yang memiliki nama lengkap Monika Rosalia Subrata itu memiliki wajah yang cantik jelita. Hidungnya bangir, kulitnya putih, dan jika dilihat-lihat ia seperti orang Eropa. Monika terlahir dari keluarga Subrata yang memiliki kelebihan materi. Meski begitu, hal itu tak membuatnya menjadi gadis yang jumawa. Itulah yang membuatku betah bersahabat dengannya.
“Hari ini aku bertemu dengan tiga orang yang gemar berbagi. Menakjubkan.” Ujarku saat aku dan Monika kembali melangkahkan kaki menuju pintu masuk.
“Benarkah?” tanyanya seolah tak percaya. Aku mengangguk mantap.
“Ya,” jawabku.
“Kau tahu? Negeri ini terasa kering dan tandus. Kekayaan alam memang melimpah ruah, tetapi untuk apa itu semua jika tidak bisa mensejahterakan rakyatnya? Orang miskin ada di mana-mana, mereka seperti budak yang belum dimerdekakan. Orang kaya menghina orang miskin karena merasa kalau derajat mereka jauh lebih tinggi dari orang miskin. Padahal menurutku, justru orang kaya tapi pelit berbagi itulah yang jauh lebih hina.” Tutur Monika panjang lebar.
“Ya, kau benar.” Hanya itu yang menjadi jawabanku. Jujur saja, aku bingung harus menjawab apa. Monika Rosalia, dia benar-benar gadis yang luar biasa. Dia berbeda dengan gadis lain yang seusia dengannya. Di saat gadis-gadis lebih banyak membicarakan persoalan cinta, Monika justru lebih banyak membicarakan persoalan negara lewat cara berpikir kritisnya. Itulah faktor lain yang membuatku senang berbicara panjang-lebar dengannya. Bukan pembicaraan kosong tentang lelaki-lelaki idaman seperti remaja lainnya.
“Cha, berbagi itu perbuatan baik. Jangan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat baik.” katanya.
“Kenapa?” tanyaku seperti orang bodoh.
Ia tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaanku. “Yeah… Intinya jangan menunggu waktu, karena waktu bisa berhenti kapan saja.”
Aku takjub mendengarnya. Monika benar-benar sahabatku yang luar biasa. Aku mulai berpikir, di hari yang sama aku melihat tiga orang yang berbagi untuk sesamanya, itu membuktikan kalau Allah sedang memperingatkanku untuk sesegera mungkin berbuat baik dengan berbagi sebagian rezeki sebelum waktuku terhenti.

SELESAI



Karawang, 01 Mei 2013

Senin, 01 April 2013

Dear Diary #2 Gadis Pemberani


Sebuah Cerpen True Story
Dear Diary #2 : GADIS PEMBERANI
~oOo~
Bisa dibilang ini adalah diary lanjutan dari diary pertama. Kenapa? Karena disini aku masih menceritakan gadis angkuh dan arogan itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Icha Zahra? Gadis yang benar-benar membuatku penasaran setengah mati.
Usai acara MOS itu, aku berencana mencari tahu lebih rinci mengenai kehidupannya. Aku merasa gila saat itu. Hey! Aku berkali-kali berkata pada diriku bahwa ia sama sekali bukan tipe-ku, tapi otak bodohku terus menuntutku untuk mengetahui segala sesuatu tentang gadis itu – tidak, anak perempuan itu, dia belum tumbuh menjadi seorang gadis.
Hari itu, minggu. Aku kembali bertemu dengannya.
Astaga! Dan kau tahu apa yang terjadi dengan anak perempuan itu? Dia memotong rambutnya! Aku meraba rambutku sendiri, oh, jangan lupakan bahwa rambutnya kini tak berbeda jauh dengan rambutku. Aku tersenyum kecut ketika sepasang mata miliknya menatapku jijik. Aku sadar sekarang, dia lebih pantas dengan penampilannya yang sekarang. Lebih terkesan menyeramkan.
Aku tahu dia bukan anak perempuan seperti kebanyakan. Ia bahkan sepertiku, kupikir. Dia lebih condong ke arah laki-laki. Postur tubuhnya yang kurus membuat –ehm– payudaranya tidak terlihat karena ukurannya kecil, mungkin. Aku yakin, tak sedikit orang yang tertipu oleh penampilannya.
“Sejak kapan kau berubah menjadi penguntitku?” katanya ketus. Aku terdiam beberapa detik, aku tak menyangka ia mengetahui gerak-gerikku. Apa ia memiliki mata di belakang rambutnya? Shit!
“Siapa yang sedang kau bicarakan?” aku balik bertanya dengan nada sama ketusnya. Dia mendecih, matanya memandang ke arah lain kemudian ia kembali menatapku. Tajam sekali.
“Aku tidak bodoh.” Katanya sambil menunjuk-nunjuk kepalanya dengan telunjuknya sendiri. Oh, astaga! Aku belum pernah segugup ini. Tapi, mati-matian aku mencoba mengatur kegugupanku. Aku bisa mati sungguhan kalau aku kencing di celana saat ini juga. Oh, dia benar-benar iblis.
“Kalau kau tidak bodoh, kenapa kau tidak menggunakan otakmu sebelum menanyakan itu? Aku yakin, kau tidak lebih cerdik dariku. Dan lagi, kau pikir kau siapa sampai aku menguntitmu, huh? Kau bahkan sama sekali tidak menarik. Lihatlah dirimu, menyedihkan.” Tuturku. Damn! Bagaimana bisa aku mengeluarkan kalimat racun seperti itu? Dalam hati aku menyesal berkali-kali. Inilah kenapa orang-orang beranggapan aku manusia paling sadis, aku mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan. Baka!
Dan… apakah kau tahu apa yang dia katakan setelah aku mengatakan itu? Dia tidak mengatakan apapun kecuali diam mematung. Saat itu aku berpikir, disinilah kelemahan anak perempuan itu. Aku menyeringai lalu berbalik hendak meninggalkannya. Tapi…
BUGH!
Kau pasti tahu suara apa itu? HEY! Dia memukulku! Dia berlari ke arahku saat aku tengah berbalik dan dia memukul punggungku dengan siku tangan kanannya. Aku meringis kesakitan tapi dia menyeringai penuh kebencian.
“Aku bisa memberimu hadiah yang paling mengejutkan.” Katanya sambil berlalu pergi meninggalkanku. Oh! Aku merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia! Aku lupa kalau dia itu iblis yang kabur dari neraka. Tak seharusnya aku bermain-main dengannya. Shit!
~oOo~
Senin. Upacara penerimaan murid baru tahun ajaran 2009/2010 Sekolah Menengah Pertama.
Disaat aku berniat berhenti menguntit anak perempuan itu lagi, aku semakin merasa gila setelah tahu kalau ternyata aku satu kelas dengannya. Langit sedang menghukumku. Hidupku akan berakhir disini…
Tujuh lima.
Aku menghela nafas berat. Perlahan-lahan aku memasuki ruangan dengan papan bertuliskan ‘tujuh lima’ di atas pintunya itu. Dan aku duduk di kursi paling belakang. Di antara wajah-wajah yang tertawa-tawa itu, tak ada satupun yang aku kenal. Kecuali anak perempuan itu, mungkin. Aku dengan dia memang belum pernah berkenalan secara resmi. Aku sekedar tahu namanya lewat papan nama yang tertera di seragamnya.
Oh, oh, oh, aku melihatnya! Dia baru memasuki ruangan setelah hampir terisi semua. Aku merasa sial memilih tempat paling belakang karena ia duduk paling belakang juga! Dia duduk bersama teman perempuannya. Sekilas aku melihat papan nama temannya, kalau aku tidak salah baca nama temannya itu Siti Jubaedah. Aku yakin mataku masih bagus, jadi aku yakin kalau aku tidak salah baca.
Aku melirik ke arah anak perempuan berkulit putih dan berwajah cantik yang entah kenapa seperti sedang memperhatikan anak perempuan angkuh itu – Icha Zahra. Nama anak perempuan cantik itu Monika Rosalia Subrata. Aku yakin dia bukan anak perempuan sembarangan, dia juga cantik. Berbeda jauh dengan anak perempuan yang kemarin memukulku.
Okay, berhenti membicarakan yang lain. Kita fokus lagi ke arah Icha Zahra. Aku mengetahui beberapa hal baru tentang anak perempuan itu. Dia sulit bersosialisasi. Lucu sekali. Dia hanya duduk di bangkunya tanpa mencoba mengajak berkenalan seperti anak perempuan lainnya.
Aku tidak sadar kalau aku sendiri juga sulit bersosialisasi. Tapi, sudahlah… rasanya tidak penting kalau membicarakan diriku sendiri. Aku melihatnya keluar ruangan kelas, diam-diam aku mengikutinya. Dia duduk di antara lantai pembatas, menggoyang-goyangkan kakinya gelisah. Kalau aku adalah laki-laki yang menyukainya, mungkin aku akan duduk di sampingnya dan memberikannya senyum seribu watt milikku. Tapi, aku tidak menyukainya. Jadi aku hanya diam memperhatikannya.
Dua orang anak perempuan ikut keluar ruangan kelas. Oh, anak perempuan cantik bernama Monika itu ternyata. Aku tidak tahu nama anak perempuan yang bersamanya. Aku melihat Monika dengan temannya duduk bersebelahan dengan anak perempuan angkuh itu – Icha Zahra. Lama mereka saling terdiam sampai si wajah sangar itu mengulurkan tangannya pada Monika.
Oh, ini semakin seru. Ketiga anak perempuan itu berkenalan. Sarah Rahmawati, Icha Zahra, Monika Rosalia, seperti itulah urutan mereka duduk. Ternyata nama anak perempuan yang satu lagi itu Sarah Rahmawati. Sarah yang dari tadi bersenda gurau dengan anak laki-laki bernama Hendri Ardiansyah – si mata sipit.
Selang beberapa hari, ada kejadian yang mengagumkan.
Aku melihat anak laki-laki bernama Ahmadi yang melayangkan kakinya ke arah kepala anak perempuan berhidung pesek. Dan tentu saja si pesek itu menangis. Kau tahu? Tiba-tiba saja Icha Zahra datang dengan wajah penuh amarah. Ia menarik kerah anak laki-laki yang biasa di sebut Madi itu. Dan menghajarnya…
Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Semua murid dalam ruangan kelas meneriakkan nama Icha. Keren, batinku. Anak perempuan angkuh itu bertindak bak seorang penolong. Sedangkan si pesek tetap menangis.
Kemudian aku melihat tangan kecil anak perempuan itu memukul-mukul wajah Madi. Tentu saja Madi tidak terima. Ia balik menarik jilbab yang di kenakan Icha lalu menarik rambutnya dengan paksa. Ini semakin mendebarkan. Dalam hati aku berkata, aku pegang Ahmadi. Siapa yang bisa mengalahkan anak laki-laki itu? Dia memiliki otot yang cukup besar.
Dan ternyata aku kalah. Icha Zahra, anak perempuan angkuh dan arogan itu menang. Astaga, aku bahkan tak menyangka ia –Ahmadi– menangis. Aku melihat ada bercak darah di antara alis anak laki-laki itu. Aku tertawa dalam hati. Dia kalah, sama sepertiku.
Lalu, Icha Zahra bersama konco-konconya –Monika dan Sarah– menghampiri anak perempuan yang tadi menangis. Kemudian berkenalan. Nama anak perempuan pesek itu Rina Solihati dan teman sebangkunya bernama Tiara Ayu.
Ini menarik. Aku yakin mereka berlima akan menjadi sahabat karib.
Aku sadar sekarang. Aku bahkan tak lebih baik darinya – dari Icha Zahra. Meski ia perempuan, ia berani mengandalkan tenaganya untuk membela teman yang bahkan belum dikenalnya. Hari ini aku salut padanya. Dia anak perempuan yang pemberani. Gadis pemberani.
Mungkin hari lain aku benar-benar tertarik padanya.
Ya, siapa yang tahu?


Memory of August 2009 (Based On True Story)
Follow me on twitter @KENzeira

Selasa, 12 Maret 2013

Dear Diary #1



Aku bertemu dengannya ketika usiaku menginjak tiga belas tahun. Nama anak perempuan itu Icha Zahra – begitulah yang kutangkap dari papan namanya. Aku tidak tahu harus bagaimana menggambarkannya – tapi percayalah, dia anak perempuan yang terlihat sangat angkuh dan arogan.
Dia memiliki pony yang menjuntai panjang sampai melewati batas lehernya, rambut tipis dan panjangnya ia ikat menjadi satu, seperti ekor kuda. Dia sama sekali bukan anak perempuan yang manis dan cantik, tapi entah kenapa aku memperhatikannya sampai sejauh ini.
Gugus tujuh.
Aku tidak menyangka bisa satu gugus dengannya. Aku tidak tahu apakah itu berita baik atau buruk, tapi kupikir aku akan lebih banyak mengetahui apa yang anak perempuan itu lakukan. Kedua kakak senior –aku tidak tahu namanya– meminta perwakilan dua orang untuk menyanyi di depan kelas. Dengan memaksa. Ya, bagiku, MOS atau masa orientasi siswa hanya topeng untuk membully anak-anak baru.
Dan satu anak laki-laki di tunjuk, anak laki-laki yang duduk di sebelahku. Tadinya kupikir aku yang akan di tunjuk, ternyata keberuntungan sedang memihak padaku. Jujur saja aku tidak pandai menyanyi. Aku bisa membuat kaca jendela pecah kalau memaksa menyanyi. Dan ternyata, suara anak laki-laki itu tak lebih baik dariku – itu menurutku.
Dan apakah kau tahu? Seusai anak laki-laki itu menyanyi, kakak senior itu menunjuk ke arah paling belakang – tepat ke arah anak perempuan itu. Icha Zahra. Dia terlihat melirik kesana-kemari, memastikan bahwa memang dirinyalah yang di tunjuk. Aku terus melihat wajahnya yang gugup. Astaga, ini lucu sekali. Anak perempuan yang angkuh itu ternyata bisa gugup. Tak lama setelah itu, ia berdiri dan melangkah menuju ke depan kelas.
Aku tidak tahu telingaku yang terganggu atau bagaimana, tapi suaranya terdengar sangat aneh ketika menyanyi. Seperti tikus, mencicit. Aku hendak tertawa tapi tentu saja aku tidak melakukannya. Percayakan. Kurasa itu judul lagu yang dinyanyikannya. Suaranya mugkin saja bagus, tapi kurasa akan lebih bagus kalau ia tak bernyanyi.
Ah, catatan tambahan. Dia sering menggunakan matanya untuk mengancam. Harus aku akui, wajahnya menyeramkan ketika alis itu saring bertautan – matanya seperti penuh kebencian. Aku memiliki gagasan itu karena aku –dengan sengaja– menjegal kakinya. Ia nyaris jatuh, setelah itu ia memperlihatkan wajah iblisnya. Uhh… benar-benar anak perempuan yang angkuh. Rasanya akan menyenangkan bila membuatnya bertekuk lutut. Bukankah begitu?
Dia hanya memiliki tiga teman. Sungguh. Aku tidak tahu bagaimana bisa ada orang yang mau berteman dengan anak perempuan sepertinya. Bahkan bagiku, tiga teman itu terlalu banyak.
Akhirnya masa MOS akan segera berakhir. Setelah acara malam ini, hari senin berikutnya aku hanya tinggal masuk dan menunggu pengumuman pembagian kelas. Tapi, sebelum kita beranjak ke hari senin, aku ingin menceritakan hal menarik tepat di malam pentas seni itu.
Aku baru tahu kalau ternyata anak perempuan pemilik nama Icha Zahra itu sedang mengagumi seseorang. Aku kerap kali melihatnya yang tengah anteng memperhatikan anak laki-laki yang tak lebih tampan dariku, tepat malam itu. Anak laki-laki itu tinggi kurus. Sayang sekali, aku justru menyeringai melihat wajahnya yang sedih karena tahu kalau anak laki-laki yang disukainya itu sudah memiliki kekasih.
Malam pentas seni penutupan MOS itu berjalan dengan lancar. Semua junior-junior yang akan masuk ke SMP itu terlihat bahagia, mungkin dia pengecualian. Tapi, ternyata dugaanku salah. Dia justru terlihat berlari-lari tidak jelas dengan temannya yang bernama Devi itu. Tertawa dengan temannya yang satu itu sambil memandang langit hitam bertabur fireworks.
Dia tertawa. Disaat semua orang memandang langit yang di taburi petasan-petasan indah itu, aku justru terpaku memandangnya. Dia sungguh-sungguh tertawa. Sayang, aku tak bisa menangkap percakapan apa yang membuatnya tertawa.
Aku sadar.
Anak perempuan yang sama sekali tidak menarik itu, membuatku tertarik. Aku tak akan memperhatikannya sampai sejauh ini kalau aku tidak tertarik, aku bahkan mengetahui nama temannya yang jauh lebih cantik darinya itu – teman yang tertawa bersamanya.
Icha Zahra. Anak perempuan angkuh yang waktu itu mengenakan sweater pink membuatku penasaran. Semakin tahu banyak tentangnya membuatku semakin penasaran. Aku ingin tahu bagaimana dia mendapatkan mata menyeramkan itu, bagaimana dia mendapatkan tiga teman itu. Sepertinya akan menarik.


Memory of July 2009

Sabtu, 17 November 2012

Sebuah Cerpen : TEACHER, I LOVE YOU!


TEACHER, I LOVE YOU!

Sejak duduk disekolah dasar, aku benci pelajaran bahasa Inggris. Menurutku bahasa Inggris sangat rumit, tulisannyapun rumit, terlebih lagi ketika aku membacanya, selalu salah! Guruku – Yamamoto-sensei – tak pernah seharipun tak memarahi aku. Lihat saja sekarang, usianya sekitar 30 tahun tapi wajahnya sudah seperti 40 tahun. Terlalu sering marah membuat wajah seseorang terlihat lebih tua dari aslinya.
Naomi Nishioka – sahabatku – ia justru sangat ahli dalam pelajaran bahasa inggris. Ia ikut olimpiade menulis cerita dan membacakan dalam bahasa Inggris setahun lalu ketika kami duduk di sekolah menengah pertama. Dan yang menakjubkan adalah, dalam olimpiade itu ia mendapat peringkat pertama se-kota Kyoto.
Selain pintar berbahasa Inggris, Naomi-chan juga sangat cantik. Ia termasuk gadis populer disekolah saat ini. Bahkan Shinji – kakak kelas yang aku kagumi – menyukai Naomi-chan.
Bagaimana dengan aku?
Aku Hanami Ousawa, tinggi badan hanya sekitar 155cm, berat badan 45kg, dan aku tidak pintar dalam hal apapun kecuali memasak. Aku bukanlah gadis yang menonjol dikalangan laki-laki. Aku biasa saja. Dan mereka bilang aku sedikit…, bodoh!
Tak banyak yang special dariku.
-o0o-
Aku tergesa-gesa pergi ke sekolah. Hari ini, tepat 3 bulan aku masuk Sekolah Menengah Atas. Aku siswi tingkat pertama. Dan hari ini aku terlambat lagi!
Padahal jadwal kelasku kedapatan bagian siang, tapi entah kenapa aku selalu terlambat. Mungkin karena aku tak bisa tidur lewat dari jam 3 malam!
Aku berlari menyusuri koridor sekolah. Akhirnya aku sampai dipintu kelasku dan mendapati Yamamoto-sensei sudah ada didalam kelas. Dengan susah payah aku mencoba tersenyum dan dengan cepat aku membungkuk.
“Maaf! Aku terlambat lagi.” Kataku.
“Sudah, duduk sana.” Perintah Yamamoto-sensei. Aku menegakkan tubuh dan melangkah menuju tempatku. Tumben hari ini Yamamoto-sensei berbaik hati padaku, biasanya ia selalu menghukumku terlebih dahulu.
Ternyata tidak hanya Yamamoto-sensei yang ada didepan kelas, tapi juga ada pemuda sekitar 20tahun keatas disampingnya. Pantas saja ia tak marah, ternyata ada tamu! (mungkin)
“Mulai hari ini, kita kedatangan guru baru. Ia akan menjadi guru les kalian. Ia akan mengajar kalian selama sebulan penuh.” Tutur Yamamoto-sensei. Aku mendengarkan dengan seksama.
Pemuda itu membungkuk lalu menegakkan tubuhnya lagi kemudian tersenyum manis. “Hajimemashite. Junya Araki desu. (Salam kenal. Namaku Junya Araki). Aku akan menjadi guru les bahasa Inggris kalian selama satu bulan. Any questions for me? (Ada pertanyaan untukku?).” kata pemuda itu. Aku menebak-nebak, kira-kira apa arti dari kalimatnya yang terakhir? Kenapa harus menggunakan bahasa Inggris?
Rika Goto – teman sekelasku – mengacungkan tangan.
“Kenapa hanya satu bulan?” tanyanya. Junya-sensei tersenyum lagi.
“Disini aku hanya menjadi guru magang. Aku masih kuliah, dan salah satu tugas kuliahku adalah menjadi guru magang selama satu bulan.” Jawab Junya-sensei. Aku mengangguk-angguk mengerti. Baguslah kalau begitu! Aku benci bahasa Inggris!
Giliran Naomi-chan yang mengacung.
How old are you, sensei? (Berapa umurmu, guru?)” tanya Naomi-chan. Aku mendengus. Kenapa hanya aku yang tak mengerti bahasa Inggris?
I’am twenty one years old. (Aku 21 tahun).”
Aku memasang kuping. Berapa katanya? Tuitin? Apa? Lima puluh? Aishhh, aku bodoh sekali!
“Ada pertanyaan lagi?” tanya Junya-sensei. Semua siswa-siswi diam.  Junya-sensei tersenyum ramah. “Douzo Yoroshiku. (Senang berkenalan dengan kalian).” Katanya kemudian. Sekarang giliran Yamamoto-sensei mengambil alih.
“Baiklah, sepertinya perkenalan sudah cukup. Junya-sensei akan mulai mengajar sepulang sekolah nanti. Kalian jangan pulang, kalau ada yang pulang akan dihukum.” Cerocos Yamamoto-sensei. Aku memberenggut. Tak boleh bolos?
Dan pelajaranpun berlangsung sangat membosankan…
-o0o-
Bel sekolahpun berbunyi, itu berarti sudah waktunya untuk pulang. Sayang sekali, terkecuali kelasku yang harus les bahasa Inggris terlebih dahulu.
Tak lama kemudian Junya-sensei datang.  Aku merasa wajahnya tak sama dengan yang tadi pagi. Yang tadi pagi sangat manis, kenapa sekarang terlihat sangat galak?
Junya-sensei mengambil daftar absensi.
“Naomi Nishioka, perkenalkan dirimu didepan kelas dengan menggunakan bahasa Inggris!” kata Junya-sensei memerintah. Aku terpaku ditempatku. Bagaimana kalau aku yang kemudian maju kedepan? Tamat riwayatku!
Naomi-chan melangkah kedepan kelas lalu menghadap kesiswa-siswi sambil tersenyum manis.
Let me introduce my self. My name’s Nishioka Naomi, you can call me Naomi-chan. I was born in Toukyou, blablabla…”
Aku tak lagi mendengar kata-kata Naomi didepan. Aku kalut. Aku melirik ke kanan dan ke kiri, mereka semua terlihat tenang terkecuali aku! Bagaimana ini?
Junya-sensei melihatku tajam. Kemudian menunjuk ke arahku.
“Kau! Perkenalkan dirimu!”
Apa? Aku? Naomi kembali duduk, mungkin ia sudah selesai memperkenalkan diri. Aku menggigit bibir bawahku. Dari awal aku sudah merasa tak enak hati. 
Aku melangkah perlahan.
“Ju-junya-sensei, a-aku tidak bisa.” Kataku saat berhadapan dengannya. Suaraku benar-benar kacau! Aku benar-benar gugup.
“Kalau kau tidak bisa, seharusnya kau memperhatikan temanmu yang sudah bisa! Jangan melirik ke kanan-kiri!” sentaknya. Aku hanya diam. Sialan!
Akhirnya aku dihukum. Aku tidak boleh pulang setelah les selesai. Ini menyebalkan! Aku masih harus mengikuti les disini sampai aku bisa memperkenalkan diri! Junya-sensei menyebalkan! Bahasa Inggris menyebalkan!
-o0o-
Kelas telah benar-benar sepi, hanya aku dan Junya-sensei yang ada dikelas ini dan mungkin beberapa siswa yang sedang mengikuti kesenian menyanyi. Aku tak hentinya dimarahi ketika aku salah mengeja tulisan bahasa Inggrisku.
Dan tanpa sengaja perutku berbunyi minta diisi.
“Junya-sensei, aku lapar.” Kataku memberanikan diri. Junya-sensei melipat tangan didepan dada. Menatapku tajam dan tersenyum sinis. Aku menunduk.
“Kau boleh makan kalau kau sudah bisa.” Katanya. Aku memberengut. Demi Tuhan, aku sangat lapar. Kenapa ada guru sejahat ini? Aku menelan ludah dan kembali mengulangi perkenalanku.
Ma-my name Ousawa Hanami. Yu-you can call me Hanami. Iam…, Iam…, sixteen years old. I wa-was bor-born in Kyoutou. Iam…, Iam…,”
Junya-sensei menghembuskan nafas pelan. Mungkin ia lelah mengajariku yang bodoh ini.
“Berjanjilah padaku kau akan lancar setelah aku belikan makanan.” Katanya kemudian. Aku melongo. Aku mengangguk sekilas. Junya-sensei melangkah keluar untuk membelikan aku makanan. Didalam kelas aku terus berlatih sambil menunggu Junya-sensei datang kembali.
5 menit kemudian Junya-sensei kembali. Aku berdiri dan menghampirinya. Tapi saat Junya-sensei hendak menghampiriku mendadak Junya-sensei terpeleset dan akhirnya…
BRUKK!!!
Aku yang mencoba menahannya agar tidak terjatuh justru tertindih olehnya! Aku meringis kesakitan mendapati lengan kiriku terkilir. Junya-sensei segera bangun dan membantuku berdiri.
“Maaf!” katanya.
“Tanganku, sa-sakit sekali…” rintihku.
“Kau seharusnya tak perlu mencoba menahanku! Akhirnya kau sendiri yang terkena akibatnya! Lihat, sekarang makananmu berantakan!” cerocos Junya-sensei. Aku tak menyangka ia akan marah. Aku menunduk dan menangis.
“Ma-maafkan aku. A-aku merepotkan sensei.” Kataku disela tangisku. Junya-sensei terdiam.
“Sudah, jangan menangis. Aku antar kau pulang.”
Akhirnya aku diantar pulang oleh Junya-sensei sampai ke rumah. Ia juga meminta maaf pada Ibuku atas kecerobohannya yang tak sengaja membuat lenganku terkilir. Ibuku tersenyum dan berkata bahwa itu bukan salahnya, melainkan salahku yang memang sering berbuat ceroboh.
Kenapa Ibu tidak membelaku? Huhh!
-o0o-
Aku berbaring ditempat tidur setelah sepulang dari dokter untuk mengobati tanganku. Dokter bilang, tanganku tidak apa-apa. Hanya perlu diolesi salep yang diberikannya selama beberapa hari, maka tanganku akan sembuh.
Aku melirik jam dinding. Jam 9 p.m, masih lama menunggu waktu untuk bisa tertidur.
Mendadak ponselku berbunyi. Ah, ada satu pesan masuk dari Naomi-chan.
Ku dengar dari Ibumu, tanganmu terkilir? Kenapa?
Akupun membalasnya.
Tak apa. hanya kecelakaan kecil.
-o0o-
Esok harinya aku belajar seperti biasa. Les seperti biasa.
Ada yang aneh, hari ini Junya-sensei tidak marah-marah padaku. Baguslah!
Dan les pun berakhir. Aku diperbolehkan pulang bersama yang lain, tidak seperti kemarin. Mungkin karena hari ini aku cukup lancar berkat bantuan Naomi-chan.
Seminggu telah berlalu. Dan hari inipun menjadi hari seperti biasa lagi. Sekolah-les-sekolah-les.
Sepulang les…
“Naomi-chan, kau mau menemaniku ke toko buku tidak?” tanyaku.
“Sebenarnya aku sangat ingin menemanimu, tapi, aku sudah ada janji akan bertemu dengan Shinji-kun.” Jawab Naomi. Shinji-kun? Kakak kelas yang aku kagumi itu? Aku tersenyum sekilas.
“Baiklah. Bye.”
Aku menarik nafas panjang setelah kepergian Naomi. Sayang sekali, aku tidak pernah memberitahu Naomi bahwa aku menyukai Shinji-kun.
Akhirnya aku pergi ke toko buku sendiri. Aku melihat-lihat buku baru yang baru terbit. Dari dulu, aku sangat suka membaca. Dan satu-satunya pelajaran yang paling aku suka adalah Bahasa Jepang. Aku mengambil beberapa buku yang menurutku menarik dan tanpa sengaja aku menyenggol seseorang dibelakangku sehingga membuat bukunya berjatuhan. Aku mencoba untuk membantu mengambil buku-bukunya yang berjatuhan.
“Maaf!” kataku.
No problem.” Jawabnya. Aku terenyuh. Suara itu…, Junya-sensei!
“Kau!? Kenapa kau ada disini?” kataku terkejut. Junya-sensei malah menjitak kepalaku. Aku mengaduh.
“Kau!? Meskipun diluar sekolah seharusnya kau tetap memanggilku sensei! Kau ini tidak sopan sekali.” Cerocosnya.
“Maaf, maaf! Tapi kau – maksudku sensei, tak perlu menjitak kepalaku!” kataku. Junya-sensei tersenyum kecil.
“Aku tidak menyangka gadis bodoh sepertimu suka membaca.” Komentarnya sambil melihat buku-buku yang aku bawa. Aku mendengus mendengar kalimatnya yang mengatakan bahwa aku bodoh.
“Aku cukup pintar untuk tidak menggubris ocehanmu!” cetusku. Junya-sensei mencibir.
“Sombong sekali kau!” katanya sambil mejawil hidungku.
“Hentikan!” kataku lalu pergi berbalik badan. Menyebalkan sekali orang itu!
Dan dengan bodohnya aku terpeleset dan terjatuh!
BRUKKK!!!
“Astaga! Celana dalammu!” ceplos Junya-sensei. Aku melotot dan segera menutup bokongku. Ini memalukan! Saat terjatuh rokku tersibak dan celana dalamku terlihat oleh Junya-sensei! Aku segera berdiri dan menangis.
“Huaaaaaaa…!!!” rengekku. Tanpa aku duga, Junya-sensei menarik lenganku dan menempelkan tubuhku ke dadanya kemudian tangannya yang satu lagi membekap mulutku.
“Ssssttt! Dasar cengeng! Anggap saja aku tak melihat apapun!” bisiknya sambil melirik ke kanan-kiri, memastikan tak ada yang melihat ia yang sedang membekapku. Aku mengangguk. Akhirnya Junya-sensei melepas bekapannya.
Aku manyun. Dan untuk yang kedua kali, perutku berbunyi didepan Junya-sensei.
“Kau lapar? Berjanjilah jangan menangis lagi jika aku mentraktirmu makan.” Katanya datar sambil berlalu menuju kasir. Aku mengambil buku-bukuku yang berjatuhan dan mengekor dibelakang Junya-sensei.
Selesai membayar aku berjalan bersampingan dengan Junya-sensei. Junya-sensei bergumam.
“Mmm bagaimana kalau kita makan steak?”
Aku mengangguk bersemangat. “Boleh!”
-o0o-
Kami makan bersama di sebuah Restauran yang hanya menyajikan steak dipinggiran kota Kyoto. Aku makan dengan lahap, tak menyangka ternyata steak cukup enak.
“Makanmu lahap sekali.” Komentar Junya-sensei. Aku tersenyum sambil terus memasukkan steak ke mulutku. Sayang sekali kalau ditraktir tapi tak makan banyak.
Aku sedikit salah tingkah ketika mendapati Junya-sensei terus memandangiku.
“Kenapa? Ada yang aneh denganku?” tanyaku lalu kembali memasukkan steak kemulutku. Junya-sensei tertawa kecil.
“Aku tak menyangka ternyata kau sangat lucu.” Jawabnya, mau tak mau membuatku tersendak. Buru-buru Junya-sensei mengambilkanku minum. Dengan cepat aku minum. “Kau baik-baik saja?” Tanya Junya-sensei.
Aku mencoba membentuk garis senyum semanis mungkin. “A-aku baik-baik saja. Aku ha-hanya kaget mendengar ucapanmu.”
Junya-sensei tersenyum sangat manis.
Deg! Kenapa ini? Mendadak jantungku berpacu lebih kencang.
“Cepat habiskan makananmu, sudah jam 8 malam.” Katanya kemudian.
Selesai makan, aku kembali diantar pulang oleh Junya-sensei.
-o0o-
Bahasa Inggris sudah bukan menjadi pelajaran menyebalkan lagi bagiku jika Junya-sensei yang menjadi gurunya. Aku tak menyangka secepat ini aku menyukainya. Apa Junya-sensei juga merasakan hal yang sama? Mustahil! Umur kami terpaut 5 tahun. Pasti Junya-sensei menyukai gadis cantik yang punya pemikiran dewasa. Tidak sepertiku yang kekanak-kanakan.
“Hanami, kenapa kau melamun? Sudah saatnya kau pulang.” Kata Junya-sensei datar. Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata tinggal aku yang ada dikelas.
Aku segera berdiri dan mengekor dibelakang Junya-sensei. Tanpa pikir dua kali, aku Menahan tangan Junya-sensei.
“Sensei, apa kau menyukaiku?”
Junya-sensei langsung terdiam menatap lurus-lurus ke arahku. Aku ini bodoh sekali! Kenapa aku berani-beraninya berkata begitu! Aku langsung melepas tangan Junya-sensei dan menutup bibirku dengan kedua tanganku.
Junya-sensei tersenyum manis. Tangannya menyentuh kedua tanganku dan menyingkirkan tanganku dari bibirku. Dengan perlahan wajahnya mendekati wajahku.
“Se-sensei, mau apa?” tanyaku gugup. Junya-sensei tak menggubris pertanyaanku, ia mendekatkan bibirnya ke bibirku dan…
“Kenapa berhenti?” tanyaku. Junya-sensei tersenyum sekilas.
“Kau terlalu kecil untuk pria dewasa sepertiku.” Jawabnya kemudian berlalu meninggalkanku sendiri.
Kenapa ini? Kenapa rasanya sakit sekali? Aku tak menyangka ia akan berkata seperti itu. Aku tak menyangka aku akan menangis…
-o0o-
Naomi-chan, aku baru saja ditolak Junya-sensei.
Lalu aku menekan tombol send. Tak lama kemudian, Naomi-chan membalas pesanku.
Jangan menyerah, Hanami-chan! Semangat! Aku yakin Junya-sensei hanya belum yakin pada hatinya sendiri. Aku yakin dia menyukaimu.
Aku memiringkan kepalaku. Maksudnya?
Darimana kau tahu kalau dia juga menyukaiku?
Aku memainkan ponselku sambil menunggu balasan dari Naomi-chan. Tak lama kemudian, Naomi membalasnya.
Aku sering memperhatikannya. Ia selalu melihat ke arahmu saat kau sedang melamun. Percayalah padaku! ;)
-o0o-
Sebulan sudah berlalu. Hari ini hari terakhir Junya-sensei mengajar les bahasa Inggris. Dan sudah pasti aku akan merasa kehilangan.
Okay, time is over. (Oke, waktu telah habis). Aku senang bisa magang disekolah ini. Semoga ilmu yang kusampaikan bisa dicerna dengan baik oleh kalian.” Tutur Junya-sensei.
Tiba-tiba Naomi-chan mengacung ingin mengajukan pertanyaan.
“Sensei, apa kau tak bisa lebih lama mengajar les disini?” tanya Naomi-chan. Junya-sensei tersenyum.
“Aku sangat ingin. Tapi, tugasku sudah cukup sampai disini saja.” Jawabnya. Naomi-chan bertanya lagi.
“Kenapa sensei sangat ingin? Apa ada seseorang yang sensei suka dikelas ini?”
Mendadak kelas menjadi gaduh. Mereka berbisik-bisik apa sebenarnya maksud pertanyaan Naomi. Pasti mereka pikir, Naomi-chan menyukai Junya-sensei. Padahal aku yang menyukainya.
Junya-sensei tersenyum menatap ke arahku. Deg! Lagi-lagi jantungku berpacu lebih cepat!
“Hmmm.. Yes, I think.” Jawab Junya-sensei. Pipiku bersemu merah. Ia mengatakan itu saat ia menatap lurus ke arahku!
Dan kelas pun semakin gaduh.
Hello, please, jangan berisik. Sudah saatnya kalian membubarkan diri dan pulang kerumah masing-masing.” Tutur Junya-sensei. Siswa-siswi berhamburan keluar. Junya-sensei merapikan berkas-berkasnya, dengan berani aku membantunya.
“Sensei menyukaiku?” tanyaku sambil membantunya memasukan berkas-berkas kedalam tasnya.
“Kau tak perlu melakukan itu.”
“Melakukan apa?”
Junya-sensei menarik nafas panjang. “Kau tak perlu membantuku, aku bisa membereskannya sendiri.” Katanya kemudian berlalu pergi.
Aku menatap punggungnya yang berlalu meninggalkanku sendiri. Eh? Ada sesuatu yang terjatuh dari dalam tasnya. Aku melangkah dan mengambilnya. Ini kunci apartment. Hmmmm…
Digantungan kuncinya yang berbentuk kotak tertera alamat apartment Junya-sensei. Aku harus melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa Junya-sensei juga menyukaiku! Ya, harus!
-o0o-
Hari itu aku nekat datang ke apartment Junya-sensei. Aku berhasil membuka tempat tinggalnya. Tak ada siapa-siapa, mungkin Junya-sensei sedang pergi.
Aku melihat sekeliling. Apartment ini cukup rapi untuk seorang laki-laki. Aku duduk disofa dan menekan remote control untuk sekedar menonton televisi. Aku mulai jenuh dan beralih kedapur. Disana ada banyak bahan makanan yang belum diolah. Aku tersenyum, akan aku buatkan Junya-sensei makan malam.
1 jam kemudian…
Ckrek, pintu terbuka dan menyembullah kepala Junya-sensei. Ia terlonjak kaget ketika melihatku diruang tamu sedang melambaikan tangan padanya.
“Kau? Kenapa kau ada disini!?” kata Junya-sensei seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tentu saja untuk menemuimu.” Jawabku polos.
“Bagaimana kau…,” belum selesai Junya-sensei bicara, aku mengacungkan kunci apartmentnya.
“Kau meninggalkan ini.” Jelasku. Junya-sensei menatap arloji ditangan kirinya.
“Sebaiknya kau cepat pulang. Sudah malam.”
“Aku sudah bilang pada Ibu, aku akan menginap di apartmentmu.” Ujarku. Aku melihat tatapan kaget dimata Junya-sensei. “Tenang saja, aku tidak berbohong. Ibuku sudah mempercayaimu, kau sering mengantarku pulang.” Aku menambahkan.
Junya-sensei melempar tubuhnya ke sofa. “Terserah!”
Aku tersenyum puas.
“Wangi apa ini?” Tanya Junya-sensei.
“Oh iya, aku memasak makan malam untukmu. Ayo kita makan bersama.” Ajakku sambil duduk disampingnya.
“Aku tidak lapar.” Katanya datar. Mendadak terdengar bunyi sesuatu. Kruyuuukkk…
Aku tertawa. “Perutmu barusan berbunyi. Sudahlah, jangan berbohong, ayo kita makan, masakanku cukup enak, dijamin tidak beracun.”
Junya-sensei tersenyum sekilas. “Baiklah. Kau harus tanggung jawab jika aku mati mendadak setelah memakan masakan buatanmu.”
Akhirnya aku dan Junya-sensei makan malam bersama. Aku tidak menyangka Junya-sensei akan makan selahap itu. Aku tersenyum memandangnya yang sedang makan.
“Ternyata cukup enak.” Komentar Junya-sensei.
“Tentu saja. Teman-temanku bilang, aku ini pandai memasak.” Kataku bersemangat.
Selesai makan malam, Junya-sensei pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Aku duduk di sofa. Baiklah, kira-kira aku akan tidur dimana? Di sofa? Sepertinya begitu.
Mendadak ponselku berbunyi. Ah, Naomi-chan mengirimiku pesan singkat.
Jangan lupa untuk katakan ‘would you like to kissing my lip?’
Aku mengernyitkan kening. Satu-satunya teman yang tau aku menginap dirumah Junya-sensei adalah Naomi-chan. Aku mencoba mengartikan maksud dari pesan singkat Naomi. Kiss itu cium, kalau Kissing itu apa? Aku mengetik balasan.
Apa itu artinya?
Tak lama kemudian Naomi-chan membalasnya.
Artinya ‘Apakah kau mau kopi?’
Aku memiringkan kepala. Bingung. Benarkah itu artinya? Tapi, untuk apa aku menawari Junya-sensei kopi?
Junya-sensei duduk disebelahku sambil mengusap wajah dan rambutnya yang basah dengan handuk. Astaga, betapa kerennya dirimu Junya-sensei!
“Sensei..,”
“Panggil saja aku Junya-kun. Aku sudah bukan gurumu lagi sekarang.” Kata Junya-kun sambil tersenyum dan mengusap rambutnya.
“Rasanya malu sekali memanggilmu seperti itu. Tapi, baiklah. Junya-kun.”
“Bagus.” Katanya sambil mengacak rambutku pelan.
“Junya-kun, would you like to kissing my lip?” kataku akhirnya. Meski tidak yakin, tapi kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulutku. Junya-kun terdiam.
“Kau ingin aku menciummu?” Tanya Junya-kun. Aku kaget. Naomi-chan membohongiku!
“Ah, ti-tidak! Aku hanya asal bicara!” kataku menegaskan. Junya-kun tertawa lepas.
“Sejujurnya kau ini bodoh sekali. Tapi, yang lebih jujur, aku lebih bodoh lagi dari kau.” Ujarnya. Aku mengernyit tak mengerti.
“Kenapa?”
“Aku tak menyangka, aku menyukai gadis bodoh sepertimu. Dan aku pikir, aku lebih bodoh darimu karena aku menyukaimu.” Ungkapnya. Aku melongo. Ternyata Junya-kun juga menyukaiku! Lagi-lagi jantungku berdebar hebat.
“Junya-kun, apa aku bermimpi? Aku tak menyangka kau akan mengatakan hal semacam itu dengan frontal.” Kataku dengan mimik muka polos. Junya-kun tersenyum dan menjawil hidungku.
“Kau sedang tidak bermimpi.”
Aku mencibit pipiku sendiri. Sakit. Aku memang tak bermimpi. Aku tersenyum. Aku merasa sangat bahagia.
Teacher, I love you!”
Junya-kun tersenyum manis lagi.
I love you too.”
-o0o-


TAMAT
Ini adalah cerpenku yang paling gaje. Hahahaha~ Semoga yang baca nggak ikut gaje ;)


Name : Icha Zahra Octavianna
Birth :Tangerang, 07th of October 96
School : SMA KORPRI Karawang
Twitter : @KENzeira

Saturday
10th of November 2012