Jumat, 28 Juni 2013

FF Kyuhyun : Still Loving You (Straight)



STILL LOVING YOU
Author : Icha Z. Octavianna (SanSan) / @KENzeira
Facebook : http://www.facebook.com/icha.z.octavianna
Cast :
-          Kyuhyun as Cho Kyuhyun
-          Yura as Hwang Ji Hyun
Rating : PG16
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Disclaimer : Characters belongs to themselves, God, their parents, and whatever~
—Inspiration by A Beautiful Mind—
Happy Reading
.
.
.
Kita hanya semu, berdiam di balik hari selanjutnya.
Walau kau membisu, waktu tetap berjalan apa adanya.
Kita hanya takdir, tinggal di atas detik yang berlalu.
Walau kau berpaling, aku tetap berdiam mengikutimu.
Kita hanya angan, untuk akal sehat dan keseimbangan.
Walau kau membatu, kanvasku tetap lukiskan wajahmu.
Kita hanya hidup, berjalan dengan pikir dan perasaan.
Tak perduli kau berbeda, aku tetap disini dan mencinta.
.                                   
.
.
Laki-laki dengan postur tubuh tinggi itu berdiri di depan pintu, sebuah pintu yang terbuat dari kayu dengan ukiran indah yang menghubungkannya dengan sebuah ruangan. Cho Kyuhyun—nama laki-laki itu—hanya diam terpaku tanpa ada niatan untuk menekan handle pintu. Tidak, ia bukan tidak berniat, hanya saja ia masih perlu mengumpulkan energinya untuk menghadapi seseorang di balik pintu itu.
Kyuhyun menghela nafas panjang untuk ia hembuskan perlahan. Setelah dirasa mampu menghadapi sosok kecintaannya, ia pun tersenyum lebar dan menekan handle pintu tersebut.
Sosok cantik yang tengah duduk di tepi ranjang itu memandang kosong pada sebuah objek, seolah objek itu adalah hal yang paling menarik di dunia. Yeah… Di dunianya. Laki-laki itu tetap mempertahankan senyumannya, lalu ia melangkah menghampiri perempuannya dan duduk di sampingnya.
“Kau sedang apa, sayang?” tanya Kyuhyun sambil memeluk gadis cantik yang berstatus sebagai istrinya itu. Tak ada jawaban yang sangat ingin di dengar Kyuhyun. Hwang Ji Hyun—nama perempuan itu—bahkan tak merespon pelukan yang disuguhkan laki-laki di sampingnya. Ji Hyun hanya diam seribu bahasa, bak boneka tak memiliki nyawa.
“Apa kau menikmati pagi hari yang indah ini, hm? Kau menyukai hujan, bukan? Lihatlah keluar jendela, sayang. Hujan rindu saat di mana mata indahmu terpaku memandangnya. Terlebih saat kau mencoba menghitung rintik-rintiknya. Tidakkah kau rindu saat-saat seperti itu?” Kyuhyun tak menyerah. Ia selalu mencoba mengajak bicara perempuan yang sudah tiga tahun menjadi istrinya itu.
Dan hasilnya selalu seperti ini. Tak ada respon sedikitpun. Hwang Ji Hyun tetap bergelut dengan dunianya, tanpa peduli lingkungan sekitarnya. Ia tetap menjadi boneka cantik yang kehilangan jiwanya—sekalipun raganya masih di sana.
Kyuhyun menggenggam jemari kecil itu, sesekali ia memainkannya, mengusapnya, bahkan menciuminya. Entahlah… Tangan milik laki-laki itu kini bergetar seiring dengan bahunya yang juga bergetar. Sekuat tenaga Kyuhyun menahan air matanya untuk tidak mengalir saat itu juga. Ia berusaha menahan isakannya dengan menggigit bibir bawahnya.
Pikirannya melayang ke masa lalu. Masa di mana perempuan kecintaannya masih bisa tersenyum, tertawa, dan selalu ceria. Masa yang Kyuhyun asumsikan sebagai masa paling bahagia dalam hidupnya.
Hwang Ji Hyun yang rajin membuat berantakan seluruh dapurnya, entah itu di pagi hari maupun malam hari. Perempuan yang selalu membuatkan masakan dengan rasa paling aneh untuknya, perempuan yang terbiasa menarik selimut tebalnya ketika matahari sudah meninggi, perempuan yang selalu ada untuknya, selalu ada untuk Cho Kyuhyun.
Setiap suara jernih tawa gadis itu membuat Kyuhyun candu, membuat laki-laki itu selalu merindu. Namun, sekarang semua itu masa lalu. Karena kini Ji Hyun-nya sudah seperti boneka kayu. Tak dapat merespon apapun yang Kyuhyun mau.
Semua ini karena sebuah insiden kecelakaan yang mengenaskan. Saat di mana Kyuhyun dan Ji Hyun bersama dalam satu mobil. Mobil tersebut dikemudikan oleh Kyuhyun, dan dalam hitungan detik semua kebahagiaan itu lenyap seketika.
Laki-laki itu—Cho Kyuhyun hanya mengalami memar-memar. Lain halnya dengan sang istri, Ji Hyun mengalami Stupor Katatonik. Disfungsi otak yang terjadi akibat hantaman keras di bagian kepalanya dan trauma berat yang dialaminya. Stupor Katatonik dapat didefinisikan sebagai keadaan di mana di penderita tidak bergerak sama sekali dan gejala-gejala psikomotor lainnya.
Selama hari-hari yang menyakitkan itu, Kyuhyun hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Semuanya ia salahkan pada diri sendiri. Ia berpendapat bahwa kecelakaan itu karena kelalaiannya, meski sesungguhnya semua itu murni karena kecelakaan lalu lintas. Satu bulan penuh laki-laki itu mengurung diri di dalam kamarnya, menyelami nasib dalam hidupnya yang entah kenapa tidak seberuntung kebanyakan orang.
Ibunya tak bisa memberi dukungan banyak, wanita setengah abad itu hanya bisa mengingatkan putranya untuk tidak melupakan makan. Selama satu bulan itulah sang ibu melayani segala keperluan putranya.
Waktu yang terasa seperti kura-kura yang lamban berjalan itu tak kunjung mengembalikan Ji Hyun keluar dari penderitaannya. Satu tahun sudah semuanya berlalu. Gadis itu tetap seperti batu. Bahkan sepoi angin yang masuk dari jendela dan memainkan anak rambutnya pun tak membuatnya terganggu.
Cho Kyuhyun menangkup wajah Ji Hyun, membuat dua wajah itu saling berhadapan. Mata indah itu kini terarah padanya, namun kekosongan masih tersimpan di sana. Laki-laki itu seolah sedang bercermin, memandang bayangan dirinya yang terefleksi dalam permukaan mata indah milik Ji Hyun.
“Apakah kau tahu, sayang? Ibu ingin aku menikah lagi. Ia masih mengharapkan seorang cucu dari putra bungsunya—dariku. Tetapi… dengan tegas kukatakan, aku tak bisa menikah dengan gadis lain. Tak perduli gadis itu secantik bidadari, karena seperti apapun gadis pilihan ibu, kau tetap bidadari untukku.” Rupanya Kyuhyun masih berusaha mengajak bicara istrinya.
Entahlah… Sudah beribu kalimat yang Kyuhyun keluarkan untuk memanggil Ji Hyun dari dunianya—sejak ia mulai memberanikan diri menghadapi istrinya. Namun, sang dewi fortuna tak kunjung memberikan sepercik keberuntungannya.
Laki-laki itu tersenyum hangat, senyum yang membuat gadis manapun luluh lantak. Dengan gerakan perlahan ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir kasual Ji Hyun. Sepasang membran mukosa itu terasa dingin di bibir Kyuhyun. Laki-laki itu mencoba membuatnya menjadi hangat. Ia memberikan ciumannya yang lembut tanpa menuntut.
Cho Kyuhyun melepas pagutannya. Sepasang manik hitamnya kembali memandang wajah cantik istrinya.
“Aku tak memaksamu bicara, sayang. Karena aku tahu, dalam diampun kau masih mendengarku.” Kyuhyun membuang nafas sejenak lalu meraih bahu Ji Hyun untuk ia bawa kembali dalam kehangatan sebuah pelukan.
“Kau, Hwang Ji Hyun, kau tetap bidadariku. Kau hanya sedang terluka karena aku mematahkan sayapmu. Setidaknya itu lebih baik dari pada aku kehilanganmu seumur hidupku. Tak perduli seberapa lama aku menunggumu, aku akan tetap di sini—di sampingmu. Akan tetap mencintai Ji Hyun-ku. Aku masih dan akan tetap mencintaimu.”
Hening sejenak.
“Hm,”
Kyuhyun tertegun. Barusan Ji Hyun meresponnya meski hanya sebuah gumaman. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya. Air matanya meleleh saat itu juga bersamaan dengan kebahagiaan yang ia yakin agar segera kembali menjamah hidupnya.

—END—

SanSan’s Note: Kesamaan tempat, ide cerita, dan pengaturan kata-kata merupakan ketidaksengajaan semata. Fanfict ini terinspirasi dari salah satu film dengan perbedaan cerita dan pengangkatan tokoh peran utama. RCL? ^^
Friday, May 10, 2013
—SanSan—

Cerpen Kehidupan : Indahnya Berbagi (Based on true story)



INDAHNYA BERBAGI
Cerpen karya Icha. Zahra (@KENzeira)

Pagi itu aku tengah duduk dengan punggung yang bersandar pada sandaran kursi. Bagi sebagian orang, hari minggu adalah hari yang paling cocok untuk bermalas-malasan. Tetapi, tidak bagiku. Di hari libur ini aku sibuk membantu pekerjaan ibu. Dimulai dari mencuci pakaian, mencuci piring, dan terakhir menyapu halaman. Semua pekerjaan itu telah selesai aku kerjakan. Dan kini aku sedang terduduk santai di depan layar monitor dengan secangkir kopi dalam genggaman.
Kupandangi sejenak ponselku yang berkelip-kelip di samping laptop tanda ada pemberitahuan. Detik berikutnya aku pun meraih ponsel dengan casing hitam tersebut. Ternyata ada satu pesan masuk dari sahabat karibku, Monika.
‘Kau sibuk? Aku ingin bertemu. Bagaimana kalau kita bertemu di mall sehabis shalat dzuhur?’ kira-kira begitulah bunyi pesan itu.
Aku memandang jam dinding yang tak jauh dari tempatku duduk. Baru pukul sepuluh. Masih dua angka lagi untuk mencapai pukul dua belas. Kurasa itu tidak terlalu buruk. Lagipula semua pekerjaan rumah sudah tak lagi menumpuk.
Akhirnya dengan licah jemari-jemari tanganku mengetik sebuah balasan. Menyetujui ajakan sang pengirim pesan.
Sejenak aku memain-mainkan ujung gelas kopiku. Memikirkan kegiatan apa yang aku lakukan selama menunggu waktu. Ah… Aku kembali teringat dengan layar monitor yang menampilkan beberapa kalimat yang aku ketik sebelum menerima pesan itu. Akan lebih baik apabila waktu dua jam tersebut aku habiskan untuk melanjutkan hobiku.
Entah sejak kapan aku mulai mendalami hobiku menulis. Aku tidak ingat. Yang pasti, saat ini aku lebih sering menghabiskan waktu luang dengan menulis. Aku jarang menghabiskan waktu luang di luar rumah, aku lebih senang bersantai dengan secangkir kopi sambil mengolah imajinasi untuk menciptakan sebuah karya fiksi.
Aku termenung sendiri. Namun, kali ini pandanganku tak terfokus pada layar putih itu. Sepasang manik hitamku anteng memperhatikan kekokohan pohon jambu. Tempatku terbiasa duduk dan mengetik sesuatu tepat di hadapan jendela rumahku yang bertemu langsung dengan dunia luar. Dunia di mana orang-orang berlalu-lalang di pinggiran jalan. Rupanya orang-orang itu sedang tidak menampakkan batang hidungnya, dan aku kembali termenung memandang daun-daun pohon jambu yang melambai-lambai dibelai angin.
Ada satu daun yang terjatuh, daun kering yang terlihat begitu rapuh. Hanya dengan satu terpaan angin mampu membuatnya terjatuh. Entah mengapa aku jadi teringat dengan kisah sebuah novel yang ditulis oleh Tere Liye dengan judul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Sama halnya dengan kehidupan. Terkadang takdir memaksa kita untuk terjatuh dari ketinggian. Takdir yang membuat kita merasakan keterpurukan. Tetapi, bukan itu intinya. Ketegaran dan rasa percaya kita terhadap sang pencipta bahwa di balik kejadian, selalu ada hikmah yang tersimpan. Itulah yang membuat sang daun tak membenci angin.
Dan sebuah bayangan menari-nari dalam pikiran. Aku baru saja menemukan sebuah tema cerita untuk aku tuangkan dalam tulisan. Inspirasi datang di saat-saat yang tak terduga. Dengan lancar, jemari-jemariku lincah bermain-main di atas tombol keyboard.
Entahlah… Aku tidak ingat sudah menghabiskan waktu berapa lama untuk menulis. Yang pasti, saat ini sahabatku kembali mengirim pesan singkat. Mengingatkanku untuk bersiap-siap berangkat. Sebelum mematikan laptop, tak lupa aku menyimpan tulisanku dalam sebuah folder.
Tak butuh waktu lama untukku mempersiapkan diri. Kebetulan waktu itu aku sedang berhalangan dan aku tidak melaksanakan kewajibanku menunaikan ibadah shalat dzuhur. Aku hanya membasuh wajahku. Jujur saja, aku tidak mandi lagi. Aku tak perduli jika harus berkeringat karena panas matahari. Aku bisa mandi setelah aku pulang dari mall nanti.
Karena belum makan siang, akhirnya sebelum memulai perjalanan aku mampir sejenak di warung sebelah rumahku. Aku disambut dengan senyuman hangat yang terpajang di wajah keriput sang nenek tua pemilik warung. Seolah beliau merasa bahagia karena aku berkunjung untuk membeli beberapa makanan ringan yang dijajakannya.
Bicara soal warung, aku jadi teringat dengan sebuah minimarket yang baru buka beberapa minggu lalu yang terletak tidak jauh dari rumahku. Sebuah minimarket yang membuat pendapatan sepasang kakek-nenek tua itu menurun drastis. Bagaimana tidak? Nyaris semua yang dibutuhkan para ibu rumah tangga dijual di minimarket itu. Terlebih lagi, remaja-remaja zaman sekarang merasa gengsi apabila disuruh membeli bahan makanan di warung. Mereka tentu saja akan lebih senang jika disuruh berbelanja di minimarket yang sejuk karena ber-AC.
“Mau beli apa, nak?” tanya sang nenek.
Aku menjawab, “dua bungkus roti.”
Dan nenek tua yang tampak ringkih itu memasukkan tiga buah roti dalam kantong kresek. Aku bingung, padahal aku hanya membeli dua, tetapi kenapa ia memasukkan tiga?
“Roti yang satunya ambil saja. Cukup membayar dua roti.” Katanya, seolah mampu membaca mimik muka bingung yang terpampang di wajahku. Aku pun tersenyum lebar.
“Terima kasih.” Ujarku. Nenek itu menepuk-nepuk bahuku pelan sambil mengangguk.
“Ya. Makanlah yang banyak agar tidak kurus seperti ini.” Tuturnya. Kali ini aku nyengir. Sang nenek tersenyum hangat. Inilah yang selalu aku rindukan apabila datang ke warung kecil ini, bukan bonus cuma-cuma yang ia berikan, namun senyumannya yang menyejukkan. Beruntunglah, masih ada manusia yang berbagi meski ia repot dengan tanggungan hidupnya sendiri.
Tanpa babibu, aku memasukkan kantong kresek yang berisi tiga roti tersebut ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Lalu aku melangkahkan kedua kakiku meninggalkan warung kecil itu menuju pertigaan yang terdapat beberapa angkutan umum. Di siang hari yang terik ini merupakan hal biasa bagi para supir untuk beristirahat. Aku jadi ragu, apakah ada yang akan mengangkutku menuju mall?
Rupanya dewi fortuna sedang berada tak jauh dariku, salah satu supir angkutan umum itu menawariku untuk memakai jasanya. Aku pun bergegas masuk ke dalam angkutan umum tersebut dan duduk dengan tenang, menunggu perjalanan usai sampai tujuan. Di tengah perjalanan, angkutan umum itu berhenti karena ada salah satu penumpang yang hendak naik. Penumpang tersebut adalah seorang anak kecil dengan usia yang berkisar antara delapan sampai sepuluh tahun. Anak kecil itu memakai pakaian kumal dan wajah cantiknya pun tertutup oleh debu. Aku balas tersenyum ketika anak itu tersenyum ke arahku.
Selang beberapa menit, anak kecil itu memberhentikan angkutan umum di daerah jalan layang. Ia hendak memberikan biaya ongkosnya pada sang supir, namun ditolak dengan halus oleh supir itu. Anak kecil tersebut tersenyum sambil tak hentinya berucap terima kasih. Aku tertegun, bahkan seorang supir pun memiliki jiwa sosial yang tinggi meski tak banyak materi yang ia miliki. Aku merasa bertemu dengan dua orang hebat hari ini.
Singkat cerita, aku telah sampai menginjakkan kaki di sebuah pusat perbelajaan Kota Karawang. Sepasang mataku mencari-cari di mana sahabatku menunggu. Tak perlu waktu lama karena gadis cantik seusiaku itu melambaikan tangannya tak jauh dari posisiku berdiri. Aku pun tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Monika berjalan ke arahku.
“Kau sudah menunggu lama?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Tidak,”
“Tumben kau mengajakku ke mall. Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?”
Kali ini ia mengangguk. “Ya, aku ingin membeli sebuah jam tangan untuk ulang tahun ibuku. Jam tangannya sudah rusak.”
Lalu gadis itu menggamit tanganku dan kami berjalan beriringan bersama menuju pintu masuk. Namun, langkah Monika terhenti kala ia melihat pengemis tua yang menyodorkan kedua tangannya. Sebelah tangan gadis itu mencari-cari sesuatu dalam saku celanannya. Selembar uang sepuluh ribuan. Tanpa perlu berpikir panjang aku tahu kalau sahabatku itu hendak memberikan uang tersebut pada pengemis tua itu. Dan benar saja, Monika memberikan uang tersebut.
“Terima kasih, nak. Semoga amal ibadahmu di terima oleh Allah SWT dan senantiasa dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya.” Kata pengemis tua itu. Monika tersenyum lalu mengaminkan perkataan pengemis tersebut.
Aku tersenyum melihat kebaikan hati sahabatku. Aku tahu sejak dulu watak gadis itu. Ia sangat senang berbagi. Selain baik hati, gadis yang memiliki nama lengkap Monika Rosalia Subrata itu memiliki wajah yang cantik jelita. Hidungnya bangir, kulitnya putih, dan jika dilihat-lihat ia seperti orang Eropa. Monika terlahir dari keluarga Subrata yang memiliki kelebihan materi. Meski begitu, hal itu tak membuatnya menjadi gadis yang jumawa. Itulah yang membuatku betah bersahabat dengannya.
“Hari ini aku bertemu dengan tiga orang yang gemar berbagi. Menakjubkan.” Ujarku saat aku dan Monika kembali melangkahkan kaki menuju pintu masuk.
“Benarkah?” tanyanya seolah tak percaya. Aku mengangguk mantap.
“Ya,” jawabku.
“Kau tahu? Negeri ini terasa kering dan tandus. Kekayaan alam memang melimpah ruah, tetapi untuk apa itu semua jika tidak bisa mensejahterakan rakyatnya? Orang miskin ada di mana-mana, mereka seperti budak yang belum dimerdekakan. Orang kaya menghina orang miskin karena merasa kalau derajat mereka jauh lebih tinggi dari orang miskin. Padahal menurutku, justru orang kaya tapi pelit berbagi itulah yang jauh lebih hina.” Tutur Monika panjang lebar.
“Ya, kau benar.” Hanya itu yang menjadi jawabanku. Jujur saja, aku bingung harus menjawab apa. Monika Rosalia, dia benar-benar gadis yang luar biasa. Dia berbeda dengan gadis lain yang seusia dengannya. Di saat gadis-gadis lebih banyak membicarakan persoalan cinta, Monika justru lebih banyak membicarakan persoalan negara lewat cara berpikir kritisnya. Itulah faktor lain yang membuatku senang berbicara panjang-lebar dengannya. Bukan pembicaraan kosong tentang lelaki-lelaki idaman seperti remaja lainnya.
“Cha, berbagi itu perbuatan baik. Jangan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat baik.” katanya.
“Kenapa?” tanyaku seperti orang bodoh.
Ia tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaanku. “Yeah… Intinya jangan menunggu waktu, karena waktu bisa berhenti kapan saja.”
Aku takjub mendengarnya. Monika benar-benar sahabatku yang luar biasa. Aku mulai berpikir, di hari yang sama aku melihat tiga orang yang berbagi untuk sesamanya, itu membuktikan kalau Allah sedang memperingatkanku untuk sesegera mungkin berbuat baik dengan berbagi sebagian rezeki sebelum waktuku terhenti.

SELESAI



Karawang, 01 Mei 2013

FF KyuMin : My Fierce Boy



MY FIERCE BOY © KENzeira
Pairing :
~ Cho Kyuhyun
~ Lee Sungmin
~ Yesung
~ Lee Donghae
~ D L L
Genre : Humor and Romance
Warning : YAOI (BoyxBoy), disini Kyuhyun lebih tua dua tahun dari Sungmin, super gaje, super aneh, super OOC, dan super-super lainnya.
Rated : T
.
.
Summary :
Kyuhyun adalah senior yang super galak, membuat para junior yang dibimbingnya dalam MOS ingin memberinya pelajaran. Kejahilan Yesung dan Lee Donghae membuat Kyuhyun terkurung didalam kelas bersama juniornya yang super cerewet, Lee Sungmin. Bagaimana kisahnya? Yuk, mari kita baca :D
-:-
...ooo00OOO00ooo…

Ini adalah hari ketiga Cho Kyuhyun meresmikan hubungannya dengan Lee Sungmin. Tak biasa memang, karena keduanya adalah laki-laki. Tapi, cinta tak pernah salah kan? Jangan salahkan cinta yang muncul tanpa diduga dengan orang yang bahkan tak pernah terduga. Sejujurnya, meski salah, tapi setidaknya tidak menurut mereka.
-:-
Cho Kyuhyun adalah senior di salah satu SMA swasta di Seoul, Korea Selatan. sedangkan Lee Sungmin adalah juniornya. Cho Kyuhyun termasuk orang yang aktif dalam berorganisasi, maka dari sanalah awal pertemuannya dengan Lee Sungmin, ketika Lee Sungmin tengah dalam masa orientasi siswa di SMA tersebut, dan Cho Kyuhyun bertugas sebagai senior yang mengatur (atau mungkin lebih tepatnya menjahili) juniornya itu.
Awalnya Kyu tak ‘memandang’ Lee Sungmin sebagai junior yang menarik, karena pada dasarnya Kyu tak menyukai laki-laki super cerewet seperti Lee Sungmin. Kyu hanya menganggap Lee Sungmin sebagai juniornya yang nyolot dan menyebalkan.
Tapi siapa yang tahu kalau pendapat itu langsung luntur seketika ketika mereka terkurung dalam ruang kelas berdua?
Jangan salahkan Yesung dan Lee Donghae yang sengaja membuat mereka terkurung selama hampir 5 jam disana! Karena Yesung dan Lee Donghae kesal pada sang senior yang galaknya minta ditabok, akhirnya mereka berencana mengurung seniornya itu dengan mengorbankan sahabat mereka, Lee Sungmin. Dan terjadilah insiden ‘pengurungan’ itu.
-:-
“Wahh, hyung, kenapa pintunya sulit dibuka?” kata Sungmin sambil terus mencoba membukanya sekuat tenaga. Kyu tak menggubris ocehan Sungmin yang daritadi ribut membicarakan pintu yang katanya sulit dibuka. Menurut Kyu, Sungmin hanya sedang mencari-cari cara untuk mengganggunya yang sedang mencari sesuatu didalam kelas bersama Sungmin.
Hyung, aku sedang tidak bercanda! Pintunya sulit dibuka!” kali ini kata-kata Sungmin sedikit memaksa Kyu untuk memberi tatapan ‘deathglare’ padanya.
“Kau ini berisik sekali! Daripada meributkan pintu, sebaiknya kau bantu aku mencari kalung Yoona. Aku yakin kalungnya terjatuh dikelas, karena saat MOS tadi aku masih melihatnya menggunakan kalung.” Cerocos Kyu, Sungmin ingin membantah tapi melihat tatapan Kyu yang membunuh, akhirnya Sungmin bungkam dan membantu seniornya mencari kalung milik Yoona, junior yang satu ruangan dengan Sungmin.
Sementara itu Yesung dan Lee Donghae…
Yesung menepuk-nepuk bahu Yoona yang sedang menangis sesenggukkan karena kalungnya yang hilang. Yesung melirik Lee Donghae yang hanya memperhatikan gadis manis itu menangis.
“Sudahlah, Yoona, kalungmu tidak hilang kok!” celetuk Yesung yang langsung mendapat jitakan dikepalanya, siapa lagi yang menjitak Yesung kalau bukan Lee Donghae?
Yoona langsung mendongkak menatap Yesung tak mengerti.
“Lalu sekarang mana kalungku?” kata Yoona parau.
“Kau ini! Kenapa bilang soal itu sekarang!?” cetus Lee Donghae, Yesung malah mencibir keki.
“Sebenarnya aku dan Donghae yang menyembunyikan kalungmu. Kami sengaja melakukan itu untuk memberi pelajaran pada senior yang bernama Kyuhyun itu!” tutur Yesung, Yoona memasang wajah kaget. Yesung meraba kantongnya dan merogohnya, lalu keluarlah kalung milik Yoona. “Ini kalungmu, sudah jangan menangis lagi ya!” tambah Yesung sambil memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Yoona blushing, kemudian mengambil kalung yang disodorkan Yesung padanya. Kali ini Lee Donghae yang mencibir.
“Karena kalungmu sudah ada, jangan katakan pada senior yang galaknya ajaib itu perihal kejahilan kami ya, Yoona cantik!” kata Lee Donghae semanis mungkin, kalau Yoona memberitahu senior Kyu kan bahaya luar biasa.
Yoona mengangguk, “Ne!
Yesung dan Lee Donghae tersenyum penuh arti sambil membayangkan ‘macan’ akan segera memangsa ‘tikus’ yang cicitannya mengganggu telinga. Kecerewetan Sungmin pasti akan berdampak buruk untuk telinga Kyuhyun yang malang itu.
Kembali ke senior kita yang tampan bersama juniornya yang super imut ini…
Kyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemana sebenarnya kalung Yoona ‘melarikan diri’? Sudah setengah jam mencari tapi hasilnya nihil. Bagaimana bisa Kyu tahan didalam ruang kelas itu kalau Sungmin yang tak henti-hentinya berkicau? Astaga lagi-lagi Kyu mendengar keluhan Sungmin yang tak hentinya (masih) meributkan pintu ajaib yang katanya sulit dibuka itu. Meskipun benar tak bisa dibuka, setidaknya bersikap tenang bisa kan? Lagipula ada dua laki-laki didalamnya yang sudah pasti memiliki tenaga untuk mendobrak pintunya kan?
“Berhentilah merengek! Dasar bocah cerewet!” bentak Kyu, Sungmin bungkam lagi. Tapi dapat dipastikan tak perlu menunggu 5 menit maka laki-laki itu akan kembali berkicau.
Hyung, dari tadi kita sudah lama mencari kalungnya, tapi tidak ketemu kan? Sebaiknya sekarang hyung cek pintu itu. Dan hyung pasti akan ikut panik sepertiku!” kali ini Sungmin tidak tahan melihat sikap Kyu yang menurutnya (sok?) dewasa dan berkuasa itu. Meskipun akhirnya suara Sungmin mencicit seperti tikus kecekik karena mendapati tatapan membunuh itu tertuju padanya lagi.
Kyu memandang Sungmin gemas, ingin rasanya menyumpal mulut juniornya itu dengan gulungan kertas supaya diam. Tapi akhirnya Kyu berpikir sejenak, mungkin kalung itu tidak ada diruang kelas ini, mungkin terjatuh dikoridor-koridor sekolah, atau yang paling buruk kalung itu telah ditemukan oleh orang yang salah yang berniat menjualnya!
Astaga! Kyu langsung mengusir jauh-jauh perihal kemungkinan terburuk itu. Setelah cukup tahan mendengar kicauan junior disampingnya, ia mana mungkin tahan mendengar rengekan dan ingus yang meler dimana-mana saat mendapati Yoona yang tak henti menangis karena kalungnya tidak ketemu. Akhirnya Kyu bangit dan berdiri, kemudian melangkah menuju pintu diikuti oleh Sungmin.
Krekkk!
Kyu tertegun, pintunya terkuci dari luar! Ia mencoba membukanya lagi.
Krekkk krekkk!
Benar, pintunya terkunci atau bahkan ada yang sengaja mengunci! Dengan emosi meluap-luap Kyu mencoba mendobrak pintu itu. Tak berhasil!
“Kau jangan diam saja! Bantu aku mendobrak pintunya!” cetus Kyu, Sungmin tersadar dari lamunannya dan langsung membantu Kyu mendobrak pintunya.
BRAKKK!
Ajaib! Meski sudah berkali-kali didobrak pintunya tetap menolak untuk terbuka, peluh mulai membasahi kedua namja tersebut.
Mereka tak tahu kalau tepat diluar pintu tersebut, terdapat lemari besar yang menghalanginya. Astaga, sekuat apa Yesung dan Lee Donghae mendorong lemari besar yang entah mereka dapat darimana itu? Ternyata bukan hanya Yesung dan Lee Donghae yang kesal pada seniornya yang galak itu, tapi seluruh junior dikelas yang dibimbing oleh Kyu itu juga kesal pada senior yang kini bernasib malang itu! Para junior super nyolot itu membantu rencana yang disusun oleh Yesung dan Lee Donghae untuk memberi pelajaran pada Kyuhyun.
“Hosh…, hosh…, tak kusangka pintunya ngajak berantem!” Kyu ngos-ngosan sambil terus meluncurkan ocehan-ocehan tak masuk akal. Sepertinya virus cerewet namja disampingnya itu menular.
“Sekarang bagaimana, hyung? Aku tak bisa bayangkan kalau kita terkurung disini selamanya! Whoaaa aku akan menjadi perjaka seumur hidupkuuu!” Sungmin kembali berkicau. Kali ini Kyu membalas kicauan Sungmin.
“Aku tak sudi bersamamu disini selamanya! Telingaku pasti rusak mendengarmu terus mengoceh!” cetus Kyu, akhirnya dia menyerah dan bersandar pada dinding sambil terus mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Sungmin ikut bersandar disamping Kyu. Sungmin memandang ke arah seniornya yang ternyata memiliki ketampanan kelewat batas itu. Kalau Kyu tidak segalak dan sesensitif ini, pasti banyak fans perempuan yang minta dijadikan kekasihnya Kyu. Hanya saja, sikapnya yang galak dan sok itu membuatnya terkenal sebagai namja paling sadis disekolah, bukan paling tampan apalagi paling cantik.
“Kenapa kau memandangku seperti itu?” ujar Kyu sambil menaikkan sebelah alisnya, Sungmin tersenyum semanis mungkin tanpa sadar membuat Kyu sedikit…, bergetar.
“Ternyata kau lucu juga, hyung. Tak kusangka ocehanmu lebih tak masuk akal dari ocheanku saat mencoba membuka pintu sialan itu.” Kata Sungmin diakhiri tawa renyah khasnya. Kyu benci menyadari kalau ucapan Sungmin benar adanya. Entah kenapa ia jadi tak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak berkicau seperti namja disampingnya.
“Hentikan tawamu itu, menyebalkan!”
Sungmin malah semakin menaikkan volume tawanya, sejenak ia mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
“Sifatmu lebih kekanak-kanakan dariku, hyung.” Celetuk Sungmin yang langsung mendapat tatapan deathglare dari Kyu. Sungmin hanya tersenyum samar, ia merasa sudah terbiasa dengan tatapan mematikan dari Kyu yang ditujukan padanya.
Sudah satu jam mereka terkurung dalam ruang kelas itu. Sungmin mulai menguap sambil menatap arloji ditangan kirinya. Pukul 17:07. Sungmin sudah tak memikirkan bagaimana ibunya akan berceloteh panjang perihal keterlambatannya pulang. Bahkan ia sudah tak berani memikirkannya mengingat Kyu yang dianggapnya galak kini tengah memasang wajah putus asa.
Sungmin mulai terkantuk-kantuk menahan kepalanya supaya tak bersandar pada bahu namja disebelahnya. Tapi ia sudah tak kuat mengingat ia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mencoba membuka pintu itu. Akhirnya mata Sungmin terpejam dan kepalanya bersandar pada Kyu. Kyu kaget saat mendapati kepala Sungmin dibahunya, tapi ada suatu yang mendorongnya untuk tidak mengganggu tidur Sungmin. Ia membiarkan bahunya dipakai ‘bantal’ oleh Sungmin yang malang.
Kyu mendesah pelan teringat bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada sang eomma tentang keterlambatannya pulang, lagipula sudah dapat dipastikan, ia akan terkurung diruang kelas ini sampai besok, mengingat ketika jam 18:00 maka pintu gerbang akan dikunci.
Kyu mengacak rambutnya frustasi membuat lenguhan kecil keluar dari bibir mungil milik Sungmin yang kedamaiannya sedikit terganggu. Kyu tak habis pikir, bagaimana bisa namja yang tertidur dibahunya ini bisa tidur senyenyak itu?
Dan oh! Astaga! Kyu menahan nafasnya ketika tiba-tiba Sungmin memeluk pinggangnya! Ia merasa sesak meski Sungmin tak memeluknya erat. Kyu merasa sesak karena ada perasaan aneh yang menggelitik yang membuatnya tak melakukan tindakan apapun pada namja yang tengah anteng memeluknya itu, membangunkannya misalnya. Kyu malah membiarkan namja yang imut itu memeluk dirinya sesuka hati.
Entah apa yang dipikirkan Kyu sampai bisa membuatnya tertidur bersama Sungmin. Dua namja yang malang.
Sekitar dua jam kemudian Sungmin terbangun dan mendapati dirinya yang tengah memeluk pinggang Kyu yang tengah damai. Ia segera melepas pelukannya dan mengucek-ngucek matanya perlahan. Gelap. Berarti sudah malam. Sungmin berdiri dan mencari stop contact untuk menyalakan ruangan itu.
Trekk!
Lampu menyala dan Kyu terbangun dari tidurnya, penerangan membuat matanya silau.
“Maaf, hyung, sepertinya aku mengganggu tidurmu.” Kata Sungmin sambil kembali duduk disamping Kyu. Kyu tak menjawab melainkan terus mengucek-ngucek matanya. Kemudian matanya tertuju pada Sungmin yang balik memandangnya. Mereka berpandangan beberapa saat. “Hyung, kena – ”
CUP!!!
Sungmin melotot kaget! Matanya hampir keluar mendapati Kyu yang sepertinya masih mengigau yang mecium bibirnya! Astaga, sekali lagi, Kyu mencium bibir Sungmin!
Yang Sungmin rasakan saat itu adalah…, dunia seolah berputar! Bagaimana tidak, ini adalah first kiss-nya. Yang ia sayangkan adalah…, kenapa harus dengan seorang namja???
Sungmin menjauhkan wajahnya dari Kyu yang kini tengah tergolek lemah tak berdaya. Sepertinya rasa mengantuk benar-benar menguasai kesadarannya! Anehnya, jantung Sungmin berdetak lebih kencang dari biasanya!
BRAKKKK!!!
Tadaa! Duo nyets akhirnya datang bak seorang pendekar yang menyelamatkan seorang putri yang diganggu kecoak. Sungmin hampir menangis terharu bahwa ia tak perlu memikirkan kehidupannya yang akan terus menjadi perjaka selamanya.
“Sungmiiiiiinnn!!!” teriak Yesung dan Lee Donghae yang langsung menghambur dalam pelukan Sungmin. Mau tak mau membuat kesadaran Kyu pulih sepenuhnya mendengar suara berisik yang keluar dari tiga juniornya.
“Maafkan kami Sungmin, kami lupa membuka pintu itu. Kami ingat saat tengah bermain playstations dirumahku bersama Donghae! Huhuhu!” celetuk Yesung. Sungmin langsung melotot mendengar penjelasan dari Yesung. Berarti selama ini dia sengaja dijahili oleh dua sahabatnya ini! Sekali lagi, oleh dua sahabatnya!
Pletakk pletakk!
Jitakan berhasil mendarat dikepala dua sahabatnya, siapa lagi yang menjitaknya kalau bukan Sungmin? Selain kena jitak, duo jeje – eh duo sohibnya juga kena tatapan membunuh dari Kyu yang seolah melemparnya kedunia lain dalam sekejap! (Loe kira mangekyou sharingan apa? *plakk*) Hanya dengan ditatap seperti itu, nafas Yesung dan Donghae langsung tercekat, dan yang tubuh mereka ingin saat itu adalah berlari. Tapi, karena mendadak lutut mereka lemas akhirnya mereka menelan ludah bulat-bulat, sambil berdo’a kepada dewa Jashin yang disembah-sembah Hidan dalam anime Naruto untuk tidak mengambil nyawanya saat itu juga. (Loh?)
.
.
.
Seminggu telah berlalu setelah kejadian mengenaskan itu. Yesung dan Lee Donghae tak henti-hentinya mendapat surprise dari para senior yang tentu saja temannya Kyu. Sebut saja, Eunhyuk dan Ryewook. Ketiga seniornya itu terus saja membuat hari-hari Yesung dan Lee Donghae seperti di neraka. Lee Sungmin pengecualian, karena ia hanya menjadi korban dalam tragedi itu.
Tapi, sebenarnya hari-hari Sungmin lebih menderita dari Yesung dan Donghae. Bagaimana tidak? Setelah kejadian itu, Sungmin jadi sering memikirkan Kyu! Dan yang lebih konyolnya lagi adalah, ia seringkali mendapati jantungnya berdetak hebat jika sedang berpapasan dengan namja tampan yang sering dipikirkannya itu! Otaknya selalu terbayang-bayang bagaimana ketika Kyu mencium bibirnya dengan lembut. Astaga – Sungmin merasa dirinya telah kehilangan kewarasannya!
Tunggu…, sebenarnya tak hanya Sungmin yang merasakan hal itu. Kyu juga merasakan hal yang serupa dengan Sungmin. Ia kerap kali mendapati otaknya yang terus memikirkan senyum Sungmin yang manis kelewat imut itu. Dan anehnya, tanpa sadar ia mendapati dirinya sendiri tengah menguntit juniornya itu sambil berharap bisa melihat senyumnya! Jangan salahkan Yesung dan Lee Donghae yang telah menciptakan perasaan aneh antara Sungmin dan Kyuhyun. Karena sesungguhnya mereka tak menyangka akan menciptakaan rasa yang salah diantara sahabatnya dengan senior galaknya.
“Kemarikan ponselmu!” perintah Kyuhyun pada Lee Donghae, Donghae menurut dan memberikan ponselnya pada Kyuhyun. Kyu tersenyum penuh kemenangan sambil terus mengucek-ngucek ponsel Donghae, entah apa yang dicarinya dalam ponsel itu.
Seperti yang para readers kira, Kyu ‘mencuri’ nomer ponsel Sungmin yang tersimpan dalam kontak diponsel Donghae.
“Aku serahkan dua tikus nakal ini pada kalian.” Kata Kyu lempeng pada Eunhyuk dan Ryewook sambil pergi meninggalkan mereka.
-:-
Sungmin terlonjak kaget saat mendapati ponselnya berdering. Ada telepon! Tapi Sungmin tak mengangkat teleponnya karena ia tengah sibuk makan siang dikantin. Selain itu nomer yang tertera pada layar ponselnya juga dirahasiakan.
Tiga kali…,
Ugh! Akhirnya dengan mulut penuh makanan Sungmin mengangkat telepon itu.
Yeoboseyo? Kau siapa hah? Beraninya mengganggu acara makan siangku!” bentak Sungmin pada seseorang yang meneleponnya, tanpa menunggu jawaban dari si penelepon, Sungmin menutup teleponnya dan kembali melanjutkan acara makan siangnya.
Sungmin hampir terjungkal dari kursinya ketika mendapati ponselnya berdering kembali. Ia mengangkat telepon tersebut dengan emosi yang meluap sampai ubun-ubun.
“Heh! Bodoh! Sudah kubilang jangan ga – ”
“Kau galak sekali padaku hah! Sekarang sudah berani ya!?” kali ini seseorang yang meneleponnya itu membentaknya. Sungmin langsung melotot kaget mendengar suara diseberang sana – diteleponnya.
Hyung?
“Ya, ini aku! Cepat temui aku sekarang diruang dimana kita terkurung dulu!” cetus si penelepon yang ternyata adalah Kyuhyun dan langsung mematikannya secara sepihak, membuat namja berwajah imut itu memanyunkan bibirnya. Bagaimana tidak? Itu berarti ia harus siap mental menghadapi jantungnya yang akan terus berdetak tak berarturan ketika bertemu berhadapan dengan Kyuhyun! Mendadak nafsu makannya hilang seketika.
Tanpa Sungmin sadari, ada sepasang mata yang dari tadi terus memperhatikannya dari jauh. Sesekali ia tertawa ketika mengingat Sungmin yang terlonjak kaget dan hampir terjungkal dari kursinya ketika mendapati telepon darinya. Siapa lagi yang menguntit kalau bukan Kyuhyun?
-:-
“Kau membuatku menunggu!” cetus Kyuhyun sambil melipat tangan didepan dada. Pura-pura berwajah kesal padahal dalam hatinya ia melompat kegirangan.
Mianhae, hyung, tadi ada sedikit gangguan. Ada apa hyung memintaku datang ke ruangan ini? Hyung rindu padaku? Atau jangan-jangan hyung ingin terkurung disini bersamaku lagi?” cerocos Sungmin dengan memasang wajah innocent. Jangan salahkan Lee Sungmin yang kelewat polos itu, karena ia tak tahu kalau kata-katanya itu mengundang amarah bahkan nafsu untuk membunuh! Tapi, tidak bagi Kyuhyun, ia merasa sudah terbiasa dengan kicauan juniornya yang aneh tapi menarik itu.
Kyuhyun mengerutkan bibirnya – masih berpura-pura kesal. Melihat itu, Sungmin langsung mundur selangkah, takut kalau-kalau seniornya itu memangsanya hidup-hidup.
“Tak bisakah kau mengerem ocehanmu itu, ha? Untuk ukuran seorang namja, tak pantas kalau kau cerewet begitu. Seperti yeoja saja!” Kyu kembali mencetus. Kyu memandang Sungmin yang sudah memanyunkan bibirnya. Mau bagaimana lagi? Cerewet itu adalah bagian dari Sungmin. Kalau ia tidak cerewet justru teman-temannya akan banyak yang bertanya, seperti: Min, kau baik-baik saja? Atau: Min, kau sedang sakit ya? Atau ada yang lebih parah: Min, kau mau buang air besar?
Sayangnya Cho Kyuhyun tak menyadari kalau kalimatnya itu menyakiti hati Lee Sungmin.
“Katakan saja apa yang ingin hyung katakan! Jangan mencemo’ohku seperti itu! Hyung baru mengenalku, jadi hyung tak tahu banyak tentang aku dan kecerewetanku!” kali ini si imut Sungmin mulai berani membentak Kyuhyun. Mau tak mau membuat Kyu memberikan seringaian nan mempesona. Seringai, bukan senyum.
“Asal kau tahu saja, junior ce-re-wet, aku benci kalau harus mengatakan semuanya padamu!” kata Kyu menekankan kata cerewet. Mau tak mau membuat emosi menggebu-gebu yang ingin sesegera mungkin dilayangkan Sungmin pada seniornya yang tampan ini. Baru saja Sungmin mau membuka mulut, tiba-tiba Kyuhyun menyela. “Aku menyukaimu! Dan aku benci mengakuinya, karena itu sama saja mengatakan kalau aku itu tidak normal!”
Sungmin mendongkak menatap Kyu tak percaya. Bagaimana bisa senior galak ini menyukainya? Menyukai namja! Seperti ada banyak bunga bertebaran dihati Sungmin yang membuatnya sejuk bukan main. Selama ini ia tak perlu repot-repot konsultasi pada psikolog kalau ternyata Kyuhyun juga menyukainya. Peduli kampret percintaan namja dengan namja. Bagi Sungmin sekarang sudah bukan masalah kalau memang sama-sama suka.
“Setelah ini, kau pasti akan menganggapku aneh.” Lirih Kyu. Astaga – seorang Kyuhyun ternyata bisa memiliki nada yang…, sedih juga! Mengingat selama ini Kyu adalah senior menyebalkan yang galak.
Sungmin memasang senyum termanisnya membuat Kyuhyun menahan diri untuk tidak menciumnya.
Hyung, aku juga menyukaimu. Bukan sebagai senior, tapi sebagai seorang namja.” Tutur Sungmin. Kali ini Kyuhyun melongo tak percaya.
“Kau tidak sedang mengelabuiku kan? Kau tidak sedang menjahiliku seperti konco-koncomu itu kan?”
Sungmin menggeleng sambil tetap memasang senyumnya. Kyu menatap Sungmin seperkian detik untuk melihat kejujuran dimata juniornya itu. Kyu menghela nafas dan tersenyum.
“Kau percaya padaku, Kyunnie?” kata Sungmin, Kyu mengerutkan dahi.
Kyunnie?”
“Ya, anggap saja panggilan sayang untukmu dariku. Jadi, kau percaya padaku?”
Kyuhyun mengangguk mantap, “Ya, aku percaya padamu, Minnie.”
Minnie?”
“Anggap saja panggilan sayang untukmu dariku.” Kata Kyu sambil mengerling jahil. Keduanya saling pandang kemudian saling senyum. Entah siapa yang memulai duluan, sampai kedua tubuh namja itu saling berpelukkan.
Saranghae, Minnie.”
Aishiteru, Kyunnie.” Celetuk Sungmin, membuat keduanya tenggelam dalam gelak tawa.
Ahhh cinta itu indah, bukan? Meski jatuh pada orang yang jelas-jelas salah. Tapi percayalah, cinta tak pernah salah. Sekalipun dengan seseorang yang sejenis, tapi cinta tak menjadikannya masalah. Asal ada cinta disana, semuanya tak akan terasa salah.
Sungmin dan Kyuhyun saling berpegangan, saling berhadapan, saling memandang, saling tersenyum. Jangan salahkan ruang kelas yang sengaja pihak sekolah kosongkan karena kekurangan siswa yang menjadikan kedua namja didalamnya ini bebas melakukan apa saja tanpa ada yang mengetahuinya.

~ OWARI ~
.
.
A/N
Ne, bagaimana ff yaoi pertamaku ini, minna-san? :)
Aku tak pandai membuat cerita yaoi, percayalah, ini adalah ff yaoi pertamaku. Aku bukan pecinta Korea, tapi aku membuat ff ini untuk teman terbaikku yang menjadi fanatik Korea dan telah permanent menjadi seorang Fujoshi :p
Sedikit catatan:  Mangekyou Sharingan adalah teknik mata yang sangat berbahaya yang dimiliki oleh Klan Uchiha dalam anime Naruto. Si pengguna bisa membuat benda apapun yang berada dalam fokus pandangan matanya, menghilang terlempar ke dunia lain dimensi. (Biar readers mengerti :p)
Big thanks for Piko Pikoh, dengan mengingatmu aku tahu aku bisa menyelesaikan ff gaje ini. Ralat, bukan mengingatmu, tapi mengingat ff yang kau janjikan padaku, yang sukses membuatku penasaran ingin secepat mungkin membacanya  xD
Okay, semoga ff-ku tidak mengecewakan :)
~ @Kenzeira ~