Minggu, 04 November 2012

KUMPULAN RASA


- KUMPULAN RASA -

Aku menemukan sebuah sajak untukmu, tergeletak disudut masalalu. Sajak yang kurasa tak hanya kumpulan kata, tapi juga kumpulan rasa.
Disana, didalam tulisan rapi berlapis debu itu, aku mencoba untuk membacanya. Aku terenyuh. Aku begitu memujamu. Aku menghias namamu dengan seluruh rasaku. Aku tak peduli sikapmu terhadapku. Dengan bersama maupun tidak bersama dirimulah, aku sadar, kaulah yang paling berpengaruh dalam tulisanku dimasa itu.
Keindahan, kekacauan, bahkan kekecewaan dalam tiap baitnya membuktikan tak ada inspirasi lain selain dirimu.
Kau mungkin tak sadar betapa dahsyatnya dirimu untuk menginspirasi hidupku. Karena dengan tulisan-tulisanku membuktikan bahwa aku benar-benar merasa hidup. Aku bahagia ketika tulisanku ceria, aku kacau ketika tulisanku meracau, aku kecewa ketika tulisanku penuh luka. Dengan begitu aku tahu aku benar-benar bisa merasa dan hidup.
Bersama maupun tidak bersama dirimu tidak menjadi alasan untukku bahagia maupun kecewa. Karena lagi-lagi aku tersadar, membayangkan dirimu tersenyum, tertawa, bahagia, dan tidak terluka ternyata merupakan bagian dari bahagiaku. Meski kau tak bersamaku atau bersama orang yang kau cintai sekalipun.
Bahagiamu, bahagiaku.
Sesederhana itu menjabarkan segala rasaku untukmu.


Saturday, 27th of October 2012
Created by ~ Icha. Z. Octavianna (@ichaoctavianna)

Kamis, 06 September 2012

STRAIGHT EDGE

Straight Edge adalah sebuah gaya hidup, filosofi dan pergerakan anak muda yang menganut anti penggunaan narkoba, penggunaan minuman beralkohol, merokok dan hubungan sex bebas (casual sex), walaupun pergerakan garis keras yang lebih dalam mereka menghidari penggunaan obat secara menyeluruh (termasuk penggunaan secara medis) dan mereka mempercayai bahwa sex tidak untuk berganti-ganti pasangan.
Straight edge hanyalah sebuah motivasi hidup untuk tidak merusak diri sendiri dengan mengonsumsi zat-zat/ hal-hal yang dianggap berbahaya untuk diri sendiri dan penyikapannya kembali kepada kontrol individu. Gaya hidup straight edge mencoba untuk memberikan alternatif baru di scene punk/ hardcore yang sangat identik dengan kebiasaan mabuk dan kerusuhan.
Banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya seorang penganut faham ini karena mereka ingin mengontrol kehidupan mereka, berontak dari budaya penggunaan narkoba, menghindari diri berhubungan dengan narkoba, mereka menyaksikan efek negatif dari penggunaan narkoba dalam keluarga atau teman-teman, atau bahkan bisa pula untuk membedakan diri (Alfansuri 2007). Filosofi utama yang dibawakan oleh penganut faham ini adalah penggunaan narkoba terhadap lingkungan sosial dan krisis moral yang bisa menyebabkan hancurnya rumah tangga, bisnis dan khususnya kehidupan anak-anak remaja.
Ide tentang straight edge ini sebenarnya sudah ada di dalam lagu-lagu band protopunk tahun 70-an yakni The Modern Lovers. Namun istilah Straight Edge dicetuskan oleh band Minor Threat, band ini disebut sebagai dasar gaya hidup ini, dalam sebuah lagu mereka yang berjudul Straight Edge.

Kamis, 28 Juni 2012

YURI OH YURI (Cerpen)

Judul : YURI OH YURI
Tema : Cinta
Karya : Icha Zahra Octavianna

Revan menguap lebar. Sejenak ia diam, lalu menatap jam dinding. Pukul 05:10, masih pagi. Susah payah Revan memaksa tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur. Dia masih amat mengantuk. Revan pun mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Setelah rapi, ia bergegas pergi ke ruang makan. Disana ada mama dan Nesha, adiknya yang sedang sarapan. Ia terlambat.
“Kakak, semalem kak Vea nelpon aku.” Kata Nesha. Revan mengangkat sebelah alisnya sambil terus mengunyah roti. “Kak Vea nanyain kakak tuh, katanya kenapa telponnya ga di jawab.” Lanjut Nesha tanpa diminta. Revan manggut-manggut.
“Kakak lagi berantem.” Kata Revan. Mama dan Nesha memandangi Revan bingung.  Apalagi Nesha, ia tak habis fikir kenapa kakaknya dan kak Vea selalu bertengkar. Padahal mereka pacaran, tapi tingkah mereka berdua seperti musuh saja. Sehari pun tak pernah tidak bertengkar.
Selesai sarapan Revan pun pamit kepada mamanya untuk pergi ke sekolah. Setiap hari Revan selalu pergi sekolah bersama Nesha. Saat ini Revan sudah kelas tiga SMA, sedangkan Nesha kelas satu SMA. Kakak beradik itu sekolah di sekolahan yang sama.
“Kakak ada masalah apalagi sih ama kak Vea? Heran deh, perasaan berantem mulu.” Kata Nesha ketika dalam perjalanan menuju sekolah.
“Tau deh, udah ya Nesha sayang, jangan bahas kak Vea lagi.” Jawab Revan sambil mengacak rambut adiknya itu. Nesha manyun, tapi sejurus kemudian wajahnya berubah menjadi cerah ketika melihat sahabatnya, Yuri. Revan memalingkan wajahnya. Entah kenapa ia merasa malu jika bertemu dengan sahabat adiknya itu. Mungkin karena kejadian waktu itu...
“Kenapa lo? Ga seneng ketemu gue?” cetus Yuri kepada Revan.
“Eh, nggak kok! Nesha, Yuri, kakak duluan ya!” jawab Revan mengelak. Dia pun berlari kecil meninggalkan Nesha dan Yuri. Yuri teratawa kecil.
“Kok ketawa? Lo ama kakak gue kenapa sih?” tanya Nesha penasaran. Yuri malah senyum-senyum ga jelas.
“Ada deh!”
***
Waktu itu...
Revan berjalan menunduk. Dia benci hari itu. Saat hendak pergi ke sebuah supermarket, ia tak sengaja melihat Vea sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya. Ia ingin marah saat itu juga, tapi ia tau waktu itu bukan timing yang tepat untuk marah-marah. Karena waktu itu sangat ramai, ia tak mau menimbulkan masalah yang mengaharuskannya dibawa oleh satpam. Revan pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke supermarket dan pergi pulang.
Tapi mungkin hari itu adalah hari sialnya. Karena dengan bodohnya berjalan tanpa melihat jalanan di depannya membuat ia menabrak tiang. Kepalanya sangat terasa pusing, dan ia mendengar suara tawa terbahak-bahak di seberang jalan. Ia menoleh ke arah suara itu, dan oh...! Yuri! Revan nyengir, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Kali ini ia tidak menunduk. Ia tidak ingin bersikap bodoh lagi.
“DWARR!!!”
Revan hampir melompat dari tempat duduk saking kagetnya. Egi tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Revan.
“Apaan sih lo, ngagetin mulu!” cetus Revan.
“Hahaha ya abis, daritadi gue liatin perasaan lo ngelamun mulu. Kenapa hey? Jangan mikirin utang, ga bakalan lunas kalo Cuma lo fikirin doang!” celetuk Egi.
“Enak aja! Gue kaga punya utang! Emang elo, Gi. Muka aja dapet kredit!” cetus Revan. Egi malah tertawa menyebalkan, tapi sedetik kemudian ia diam lalu kembali duduk manis. Ada guru.
***
Malam itu, Vea mengajak bertemu. Sebenarnya Revan malas, apalagi jika mengingat kejadian itu. Tapi rasa penasaran membuat ia mau menemui gadis itu. Vea bilang, ia ingin menyampaikan sesuatu. Penting.
“Aku pengen kita putus.” Kata Vea hampir tak terdengar. Tapi perkataan itu terdengar jelas oleh Revan. Seolah-olah Vea mengatakannya dengan berteriak. Kata-kata Vea sukses membuat Revan terdiam.
“K-kenapa, Ve?” tanya Revan kemudian.
“Laki-laki yang bersamaku waktu itu memang pacar baruku. Maaf. Tapi aku melakukan itu karena aku bosan dengan sikapmu yang ga pernah perhatian.” Kata-kata itu menggelegar bagai petir yang menghantam hati Revan. Ia amat kecewa dan sakit hati mendengarnya. Vea berdiri dari tempat duduknya. “Aku tidak bisa lama-lama. Aku harus pulang.” Kata Vea. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Revan di restoran tersebut.
Revan mengacak rambutnya sendiri. Nafasnya memburu. Ingin rasanya ia membanting semua yang ada di restoran ini. Tapi tentu ia tidak melakukan hal itu. Mendadak matanya melongo mendengar suara tawa terbahak lagi. Tak salah lagi, Yuri!
“Hai, lagi frustasi ya?” kata Yuri sambil duduk berhadapan dengan Revan. Revan mengernyit melihat wajah Yuri yang sepertinya sedang menahan untuk tidak tertawa. Ia memilih untuk tidak menjawab. “Hihihi, biasa aja kali!” tambah Yuri sambil menepuk Revan. Revan tetap diam. Ia merasa aneh, disaat adik-adik kelasnya menghormatinya sebagai anggota osis, tapi kenapa cewek yang ada di depannya ini selalu bersikap cuek dan..., tidak sopan!
“Oke-oke, gue tau lo lagi broken heart. Sorry. Gue bukan sengaja nguping, tapi sumpah, gue ga sengaja mendengar percakapan antara lo dan cewek tadi. Yasudah, selamat galau!” celetuk Yuri sambil ngeloyor pergi. Tanpa sadar senyuman kecil tersungging di bibir Revan ketika ia menatap punggung Yuri yang sedang berjalan menuju pintu keluar.
***
Satu minggu kemudian...
Revan sedang membuat teh hangat di dapur. Mendadak Nesha menghampirinya.
“Kakaaak...” kata Nesha manja, Revan hanya menoleh sambil mengangkat alis. Nesha senyum-senyum ga jelas yang membuat Revan bingung.
“Apa sih? Lagi seneng?” tanya Revan. Nesha mengangguk.
“Banget! Kakak tau ga kenapa?”
“Kenapa?” tanya Revan lagi lalu menyeruput teh hangatnya.
“Ternyata selama ini Yuri tuh naksir ama kakak!” celetuk Nesha. Revan terbatuk-batuk mendengarnya.
“Uhuk-uhuk! A-apa? Yuri naksir kakak?” kata Revan benar-benar tidak percaya. Nesha mengangguk mantap.
“Iyaa! Yuri bilang, kakak itu orang yang so keren, jaim, sekaligus bego. Aneh ya? Padahal anak-anak kelas satu pada naksir kakak karena kakak berwibawa dan emang keren. Tapi kok alasan Yuri beda?” cerocos Nesha. Revan melongo. Ia senang sekaligus sebel. Senang karena ternyata Yuri yang cuek dan tidak sopan itu bisa kepincut ama dia. Sebelnya karena ia dikatai so keren, jaim, dan juga bego. Alasan apa itu? Aneh sekali!
“Hah?”
“iiih kakaaak! Jangan pura-pura bego deh, atau jangan-jangan emang bego beneran?” celetuk Nesha. Revan nyengir. Ia tidak tau harus berekspresi seperti apa. “Oh iya kak, ntar malem kan malem minggu, aku pengen banget nonton bioskop. Kakak mau kan nganterin?” tambah Nesha. Revan garuk kepala.
“Iyaaa baweeel!” kata Revan akhirnya. Nesha melompat kegirangan.
***
“Mau nonton apa sih, Sha?” tanya Revan setengah sebal. Nesha tertawa kecil sambil melihat-lihat film yang dianggapnya menarik.  Daritadi Nesha hanya melihat-lihat tanpa memesan satu tiket pun. Dan itu sukses membuat Revan sebal.
“Ini! Aku pengen yang ini!” kata Nesha. Revan melirik lalu melongo.
“Nesha, film itu kan di puter jam delapan! Sekarang aja masih jam tujuh. Gimana sih kamu!” cetus Revan. Nesha manyun. Revan tak tega melihat adiknya sedih. Akhirnya... “Iya deh iyaaa!” tambah Revan. Nesha nyengir.
“Kak, aku mau ke toilet dulu.” Kata Nesha setelah memesan dua tiket. Ia pun bergegas pergi ke toilet. Revan menunggunya sambil duduk di tempat duduk yang tersedia.
Satu menit.. sepuluh menit.. dua puluh menit.. tiga puluh menit.. lima puluh menit.. Nesha belum kembali dari toilet! Astaga! Revan mencoba menghubunginya lewat telepon, tapi tidak aktif! Oh, sial. Kemana Nesha!?
“Kenapa lo? Kayak orang panik?” kata seseorang di belakangnya. Ia menoleh. Yuri!
“Eh kamu, Ri. Aku lagi nyari Nesha, katanya mau nonton tapi ke toilet dulu. Tapi sudah hampir satu jam Nesha belum kembalidari toilet. Kemana ya tuh anak. Bikin khawatir aja!” cerocos Revan. Yuri melongo.
“Nesha? Loh? Bukannya dia ngajakin gue nonton ya? Kok ngajak elo? Terus sekarang mana Nesha?” kata Yuri balik tanya. Mendadak mata Revan dan Yuri melotot.
“KITA DIJEBAK!!!” kata Yuri dan Revan secara bersamaan.
Revan garuk kepala bingung. Ia berfikir, sangat mubazir jika ia tidak menonton. Tiketnya sudah dibeli dan kini sedang ia pegang. Akhirnya Revan dan Yuri memutuskan untuk menonton berdua. Revan berjanji dalam hati, ia akan menyemburkan amarahnya pada adiknya itu setelah pulang nanti. Ia sangat malu karena harus menonton bioskop berdua bersama Yuri. Malu karena sepertinya ia juga menyukai Yuri sahabat adiknya itu. Oh, sial!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargghh!” teriak Yuri sambil mencengkram tangan Revan. Dan oh, yang lebih sialnya ternyata tiket yang dibelinya adalah tiket film horor! Nesha paling tahu kalo sahabatnya Yuri sangat takut nonton film horor.
Nesha, kamu sangat sukses! Gerutu Revan dalam hati. Ia melirik Yuri yang sedang bersembunyi di balik punggungnya. Deg! Hati Revan berdesir. Entah kenapa, Yuri terlihat manis ketika sedang takut. Tidak seperti biasanya, cuek, tidak sopan, sekaligus galak.
Tanpa sadar, Revan terus tersenyum menatap Yuri. Yang ditatap malah melongo bingung.
PLAKK!! Yuri mengepret tangan Revan. Revan terlonjak kaget.
“Apa’an sih?” cetus Revan.
“Elo yang apaan! Anteng banget ngeliatin gue. Lo fikir lucu? Gue.. gue emang takut film horor.” Kata Yuri. Revan tersenyum sekilas.
“Yaudah, ayo cengkram lagi tanganku.” Celetuk Revan. Yuri manyun. Baru kali ini ia melihat Yuri manyun. Sangat manis. Yuri memukul Revan pelan. Revan tertawa kecil, Yuri juga ikut tertawa kecil.
“Sssssttt!!!” kata seseorang di belakang tempat duduk mereka. Revan dan Yuri langsung diam, tapi kemudian nyengir bersama.
Nesha, kamu sangat sukses! Sukses membuat kakak mengurungkan niat untuk memarahi kamu ketika pulang nanti. Karena sepertinya acara menonton bioskop kali ini sangat menyenangkan dan begitu terkesan. Hmmm... kata Revan dalam hati.

TAMAT

Nama : Icha Zahra Octavianna
TTL : 07 Oktober 1996
Twitter : @ichaoctavianna
Facebook : http://www.facebook.com/#!/icha.z.oktaviana

LYRICS YUI - PLEASE STAY WITH ME

YUI - PLEASE STAY WITH ME
Soba ni itekureru, jyounetsu no sukima de sotto
Yasuragi wa itsumo higeki no saki ni mienakunaru

Chiisakunaru ai no kakera wo hiroi atsumete wa
Hitotsu futatsu kasaneteiru no

Aitai to tada negau dakede
Konna ni mo namida afureru kara my love
Yozora ni ukabeta tame iki ga koboreru
Please Stay With Me

Koraeteru keredo sokkenaku naranai de ne
Kotobatte itsuka wa shinjitsu ni kawaru kara
PURAIDO sainou kikoenai yume no mama owarenai
Hitotsu futatsu tokiakashite yo

Aitai to ieba mata kurushimeteshimau
Namida afureru no ni my love
Sure chigau tabi ni itoshikunatte yuku
Please Stay With Me

Motto shiritai anata no koe ga kikitai
Nakitakunatte tomadoutte yowai yo ne?

Aitai to tada negau dakede
Konna ni mo namida afureru kara my love
Yozora ni ukabeta tame iki ga koboreru
Please Stay With Me

Aitai to ieba mata kurushimeteshimau
Namida afureru no ni my love
Sure chigau tabi ni itoshikunatte yuku
Please Stay With Me

More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/y/yui/#share

LYRICS YUI - GOODBYE DAYS

 YUI - GOODBYE DAYS
Dakara ima ai ni yuku soki metanda
Pokketo no kono kyokou kimi ni kikasetai

Sotto Voryuumu wo agete tashikamete mita yo

Oh Good-bye days ima kawaru ki ga suru kino made ni so long
Kakkoyokunail yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you

Katahou no earphone wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan

Umaku aisete imasu ka? tama ni mayou kedo
Oh Good-bye days ima kawari hajimeta mune no oku alright
Kakkoyokunail yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you

Dekireba kanashii omoi nante shitakunai
Demo yatte kuru deshou?
Sono toki egao de Yeah hello! my friend nantesa
Ieta nara ii no ni...

Onaji uta wo kuchizusamu toki soba ni ite I wish
Kakkoyokunail yasashi sa ni aete yokatta yo

La la la la Good-bye days

More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/y/yui/#share

Lyric LADY ANTEBELLUM - JUST A KISS

"Just A Kiss"

Lyin' here with you so close to me
It's hard to fight these feelings when it feels so hard to breathe
Caught up in this moment
Caught up in your smile

I've never opened up to anyone
So hard to hold back when I'm holding you in my arms
We don't need to rush this
Let's just take it slow

Just a kiss on your lips in the moonlight
Just a touch of the fire burning so bright
No I don't want to mess this thing up
I don't want to push too far
Just a shot in the dark that you just might
Be the one I've been waiting for my whole life
So baby I'm alright, with just a kiss goodnight

I know that if we give this a little time
It'll only bring us closer to the love we wanna find
It's never felt so real, no it's never felt so right

Just a kiss on your lips in the moonlight
Just a touch of the fire burning so bright
No I don't want to mess this thing up
I don't want to push too far
Just a shot in the dark that you just might
Be the one I've been waiting for my whole life
So baby I'm alright, with just a kiss goodnight

No I don't want to say goodnight
I know it's time to leave, but you'll be in my dreams

Tonight
Tonight
Tonight

Just a kiss on your lips in the moonlight
Just a touch of the fire burning so bright
No I don't want to mess this thing up
I don't want to push too far
Just a shot in the dark that you just might
Be the one I've been waiting for my whole life
So baby I'm alright, oh, let's do this right, with just a kiss goodnight
With a kiss goodnight
Kiss goodnight

Sebuah cerpen romantis: BIARLAH HANYA REMBULAN YANG TAHU

Tema : Cinta
Karya : Icha Zahra Octavianna
Judul : BIARLAH HANYA REMBULAN YANG TAHU

Sebenarnya sudah setahun terakhir ini aku menyimpan perasaan pada Riva. Cowok yang aku kenal dari jejaring sosial facebook yang tak sengaja bertemu di toko buku beberapa bulan lalu.
Aku masih ingat betul, bagaimana pertemuan di toko buku tersebut. Awalnya aku biasa saja. Tapi, setelah lama kuperhatikan, ternyata wajahnya mirip dengan foto Riva. Aku memberanikan diri untuk bertanya, dan benar saja, itu memang Riva.
Jauh sebelum pertemuan itu, aku sudah menyukainya. Sifatnya yang ramah membuatku nyaman jika sedang berkomentar dengan dia di facebook. Meskipun kami tak pernah bertukar nomor ponsel. Akhirnya ketika pertemuan itu, Riva meminta nomor ponselku.
“Untuk tambah teman, biar aku bisa tau buku-buku yang menurutmu bagus. Untuk aku beli dan aku baca tanpa perlu bingung memilah-milah.” Kata Riva waktu itu. Aku hanya membulatkan bibir kemudian mengambil ponsel dari saku celana.
“Ini nomor ponselku.” Kataku sambil menyodorkan ponselku. Riva tersenyum lalu mengetik nomorku di ponselnya. Sejak saat itu aku dan Riva sering bertemu untuk sekedar berdiskusi tentang buku yang sama-sama kami baca, atau bahkan iseng saja jika kami sedang tidak ada kesibukan.
***
Di sekolah...
Aku sedang membantu Tiya mengerjakan tugas Matematikanya. Tiya adalah adik kelasku. Aku mengenalnya saat MOS. Dulu aku menjabat sebagai anggota OSIS yang membimbing gugus tujuh, gugus dimana Tiya ada di dalamnya. Tiya anak yang alim dan baik hati. Tak heran jika aku sangat senang untuk membantunya mengerjakan tugas.
“Makasih ya kak, kakak baik deh. Hehehe.” kata Tiya
“Siiip!” ujarku sambil mengacungkan jempol
“Oh iya kak, sekali-kali main dong ke rumah Tiya. Tiya punya banyak buku novel lhooo.”kata Tiya. Tiya tau, aku sangat senang membaca novel. Aku mengangguk.
“Boleh. Kapan-kapan ya, Ya.” Jawabku. Tiya terlihat senang.
***
From : Riva
Ra, ktmu skrg yu. Aku ada di taman dket rumahmu.
Aku melonjak kaget membaca pesan singkat dari Riva. Riva ngajak ketemu sekarang? Mau apa ya?
Riva sudah tau rumahku. Setiap dia mengajak bertemu di suatu tempat, pasti pulangnya dia mengantarku sampai rumah. Tak heran jika ia hafal dimana letak rumahku.
Tanpa basa-basi aku langsung melesat pergi menemui Riva. Ada apa ya malam-malam begini Riva ngajak ketemu? Fikirku dalam hati. Aku melihat Riva sedang duduk di kursi panjang yang tersedia di taman.
“Hei.” Sapa Riva setelah melihat kedatanganku. Aku duduk di sebelahnya.
“Hei.” jawabku.
“Sorry udah ganggu waktu istirahat kamu.” Kata Riva. Aku tersenyum kikuk.
“Gapapa lagi, Va. Nyantai aja. Emmm..., tapi ada apa ya?” ujarku.
“Ga ada apa-apa. Kebetulan aku lewat sini, mendadak pengen ketemu kamu, Ra.” Jawab Riva di akhiri senyum manisnya. Aku tersipu malu.
Kami mengobrol cukup lama. Aku merasa nyaman di dekat Riva. Setiap ia berbicara, aku selalu melihat bola matanya. Aku suka cara Riva bercerita, matanya seakan ikut berekspresi, dan itu sukses membuat jantungku berdesir.
Aku menatap rembulan. Bulan, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta. Kataku dalam hati, seolah-olah rembulan mengerti. Biarlah hanya rembulan yang tahu bahwa aku memiliki perasaan ini...
***
Pulang sekolah aku pergi menerima tawaran Tiya kemarin untuk main ke rumahnya. Rumah Tiya cukup besar. Aku banyak mengobrol di kamarnya. Ternyata memang benar, koleksi buku novel Tiya cukup banyak.
“Wah, banyak juga koleksi novelmu, Ya.” Komentarku sambil melihat buku-buku tersebut.
“Iya dong, kak. Tapi sebagian besar buku-buku novel itu milik kakak Tiya.” Kata Tiya. Aku membulatkan bibir.
“Ooooh.”
Tiba-tiba seseorang masuk ke kamar Tiya.
“Tiya, farpum kakak yang baru mana? Kakak mau pake nih.” Kata orang tersebut. Aku melongo kaget. Itu kan Riva! Riva ikut melongo waktu menyadari kehadiranku.
“Riva?”
“Lho, Rara? Kok ada disini?” tanya Riva. Tiya ikut-ikutan melongo.
“Kalian saling kenal?” tanya Tiya. Kami bertiga saling berpandangan, lalu tertawa. Entah apa yang lucu.
“Kebetulan aku lagi main ke rumah Tiya. Ternyata Tiya itu adikmu ya?” kataku. Riva mengangguk.
“Iya. Wah kebetulan banget ya!” Ujar Riva. Kami bertiga mengobrol sebentar, kemudian Riva berlalu pergi setelah mengambil parfum yang akan ia pakai.
“Kakak naksir kak Riva?” celetuk Tiya. Rasanya wajahku memerah.
“Hah? Eng.. Engga kok.” Jawabku tergeragap.
“Jujur.”
Aku nyengir angkat tangan. Aku paling ga ahli dalam berbohong. Akhirnya aku mengaku kalau sudah lama ini aku menyukai Riva. Tiya hanya tertawa mendengar ceritaku tentang Riva.
“Tiya setuju banget lho, Kak. Apalagi kalo jadian, hehe. Tapi sayang, Kak Riva udah punya pacar.”cerocos Tiya di akhiri mimik muka cemberut.
Riva udah punya pacar? Kok aku baru tau. Sejurus kemudian aku merasa dadaku agak sesak. Aneh. Inikah yang namanya terluka? Tapi aku mencoba tersenyum mendengar tanggapan dari Tiya.
***
Aku terus memikirkan perkataan Tiya. Riva sudah punya pacar. Tertutup sudah harapanku untuk menjadi pacarnya. Betapa beruntungnya perempuan yang kini menjadi pacar Riva.
Ah, bodohnya aku! Untuk apa memikirkan Riva yang sudah punya pacar? Kalaupun Riva tidak punya pacar, memangnya aku berpeluang untuk menjadi pacarnya? Rara, sudahlah...,  masih banyak cowok lain yang bisa menjadi pacarmu! Kataku dalam hati, bermaksud menyemangati diri. Tapi, tetap saja. Aku tak bisa mengungkiri perasaanku yang terluka. Tetesan air mata tetap saja membasahi pipi di malam-malamku.
Mengingat senyum Riva, akhirnya aku sadar. Tak sepantasnya aku bersedih. Bukankah pada dasarnya jika kita mencintai seseorang, maka kita akan ikut bahagia ketika melihat orang yang kita cintai itu bahagia? Benar. Harusnya aku ikut bahagia, meski hati ini terluka.
Biarlah hanya rembulan yang tahu...
***
Waktu terasa lebih cepat berlalu. Aku sudah lulus SMA. Aku berencana akan kuliah di Jogja, kemungkinan besar besok aku akan berangkat. Meskipun berat, tapi aku berjanji tidak akan memberi tahu hal ini kepada Riva. Aku harus melupakannya dengan mencari suasana yang baru. Ya, harus!
***
Tiga hari telah aku lalui di Jogja. Aku memilih untuk ngekos, karna aku berfikir dengan ngekos aku bisa punya banyak teman yang sama-sama merantau mencari ilmu. Dan benar saja, sekarang aku sudah memiliki banyak teman. Bahkan ada yang berasal dari Bandung juga, kota asalku.
Saat aku hendak tidur, aku kaget karna tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda ada pesan masuk. Aku meraih ponselku yang ku taruh di meja.
From : Riva
Ra, kok ga ngsih tau klo km kuliah di Djokja? Klo aja Tiya ga ngsih tau, psti aqu ga bakal tau smpe kpn pun.
Aku melongo. Emang Riva itu siapa? Pacar bukan. Sampe harus ngasih tau segala. Padahal aku sengaja biar bisa hidup tenang tanpa Riva. Aku terlalu sakit untuk mengingat semua tentang Riva. Aku memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Riva.
Keesokan harinya aku mengecek ponselku. Ada satu pesan belum terbuka.
From : Riva
Ra, aqu kngen km. Aqu butuh km.
***
Dua bulan telah berlalu. Dua bulan juga aku tak mendapat kabar dari Riva. Sudahlah Rara..., untuk apa kamu masih mengharapkan dia!?
“Ra, kok ngelamun? Udah malam, waktunya tidur.” Kata Mina, teman satu kamar kos ku. Aku hanya mengangguk lalu berbaring.
Aku terperanjat kaget karna tiba-tiba aku mendapat pesan singkat mengejutkan!
From : Riva
Ra, kluar. Aku udh ada d tmpat kos km.
Aku kaget bukan main. Ini bercanda ga sih? Aku pun merapikan piyamaku dan bergegas keluar tanpa lupa bilang pada Mina.
“Riva?” desisku ketika melihat seseorang yang membelakangiku. Ia pun menoleh. RIVA! Kok bisa? Riva menatapku lalu merengkuh tubuhku. Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa rasanya aku ingin menangis?
“Ra, aku mencarimu, aku terus mencarimu...” kata Riva lirih. Aku melepas rengkuhan Riva.
“Ke-kenapa? Kenapa kamu mencari aku? A-aku bukan siapa-siapa kamu.”  Kataku bergetar. Hampir menangis.
“Aku mencarimu karna aku butuh kamu. Aku sayang kamu, Ra. Udah lama. Bahkan sebelum pertemuan kita di toko buku itu.” Kata Riva. Aku melongo. Kaget. Seneng. Campur-campur. Apakah dia sungguh-sungguh? Tapi, bukankah Riva sudah punya pacar?
“Ta-tapi, kenapa baru sekarang?” tanyaku terbata-bata. Riva meraih tanganku dan menggengamnya. Membuat jantungku tak berhenti berdesir.
“Aku bodoh, Ra. Aku pengecut. Aku takut ditolak sama kamu. Apalagi setelah pertemuan kita bersama Tiya saat di rumahku itu, kamu malah menjauhi aku. Aku jadi makin takut, takut perasaanku mengacaukan pertemanan kita.” Riva tercekat. Tapi matanya tetap menatapku dalam. “Akhirnya aku bercerita pada Tiya, bahwa aku menyayangimu lebih dari sekedar teman. Tiya kaget. Tiya tidak tau kalau aku sudah lama putus dengan pacarku, makanya dia bilang kalo aku udah punya pacar ke kamu. Tiya bilang, kamu menjauhi aku karna kamu takut ganggu hubungan aku, dan karna kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Betapa bodohnya aku terlambat mengetahui semua itu setelah aku tau kamu sudah kuliah di Jogja. Aku sampe nekat pergi ke Jogja demi menyampaikan perasaanku ini sama kamu. Aku ga mau terlambat lagi. Ra, aku sayang kamu. Benarkah kata Tiya bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama?” kata Riva panjang lebar. Air mataku tak terbendung. Aku terlalu bahagia. Akhirnya aku menangis dan mengangguk tanpa mampu berkata apa-apa.
Riva langsung merengkuhku lagi. Tuhan, terima kasih. Mungkin inilah yang namanya takdir. Begitu mengejutkan. Meskipun hari esok tetap menjadi tanda tanya.
Aku sangat bahagia. Biarlah semua orang tahu, termasuk rembulan yang memberi penerang di malam gelap ini...


Saturday,
3rd of March 2012

Nama : Icha Zahra Octavianna
Twitter : @KENzeira